Dear, Vano

Dear, Vano
28. Mungkin Saja


__ADS_3

"Ini pasti bukan Vano karena jika iya, maka bagaimana cara Vano masuk ke apartemen ku?"


Benar, ini pasti bukan Vano. Lagipula bagaimana ia bisa masuk ke apartemennya?


Selain itu juga mereka tidak punya hubungan apapun, tidak dekat dan tidak saling mengenal. Jika karena Angela, maka darimana Vano dapat kunci apartemennya?


"Tapi..tapi bagaimana bisa aku mencium parfum Vano di atas bantal ku?"


Nah, mengapa ada bau parfum Vano di bantalnya?


Jangan bilang bahwa orang yang datang semalam adalah pemiliknya, dan orang yang semalam mengurusnya juga laki-laki. Nah, kenapa kesimpulannya selalu merujuk pada Vano?


Bahkan tidak ada alasan kuat mengapa itu harus Vano?


"Astaga, aku ingat jika semalam sempat menelpon Mama..pasti itu suruhan-" Belum sempat kata-katanya selesai terucap, data yang ada di handphonenya menunjukkan bahwa orang yang ia hubungi semalam bukan Mama tapi Vano.


"Apa aku sedang bermimpi?" Ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat dan bahkan ia tidak percaya dengan apa yang ia lakukan semalam.


Tadi malam, orang yang ia telpon adalah Vano dan tadi malam orang yang merawatnya adalah seorang laki-laki, maka yah.. kesimpulannya adalah orang yang merawatnya semalam ialah Vano.


"Jika itu benar Vano..maka mungkin ia mendapatkan kunci apartemen ku dari petugas keamanan. Dan..yah.. karena aku menelponnya..ia datang membantu atas nama.. Angela, ya karena saudara ku." Meskipun ia menyimpulkan bahwa orang yang datang merawatnya adalah Vano atas nama Angela, tetap saja ia merasa bahagia dan senang.


Jantungnya berdegup kencang dan pelukannya pada bantal yang menjadi sumber wangi Vano semakin menguat. Bahkan ia tidak merasa sesak nafas sama sekali ketika sepenuhnya wajah Ai tenggelam di dalam empuknya bantal tersebut. Ia dengan kuat menghirupnya, memenuhi rongga dadanya yang penuh akan kerinduan pada laki-laki itu.


Ia bahagia.


"Vano pernah di sini..aku sungguh sulit mempercayainya." Bisiknya tidak menyangka.

__ADS_1


Setelah beberapa menit sibuk dengan kerinduannya, Ai pun akhirnya sadar jika perutnya keroncongan.


Ini aneh, setahu Ai, ia akan sulit berselera apalagi di saat kutang sehat begini. Apa itu karena ia terlalu bahagia sehingga membuat tubuhnya merespon senang juga?


"Sebaiknya aku harus makan." Gumamnya memutuskan sambil dengan hati-hati menempatkan bantal tersebut ditempatnya semula.


Ia juga menepuk-nepuk bantal itu dengan panik tidak ingin ada debu di atasnya.


Setelah puas dengan pekerjaan anehnya, ia lalu turun dari kasur dan langsung berjalan menuju dapur. Sampai di dapur So sekali lagi dibuat terkejut juga sangat senang.


Bagaimana ia tidak senang jika di atas meja makannya sudah tertata rapi makanan rumah yang menggunggah selera. Bukan hanya itu saja, Ai juga mendapati sayurannya sudah diganti dengan sayuran yang lebih segar. Bahkan ada daging juga dan tidak lupa 2 keranjang telur.


Ini..ini seperti Vano mengkhawatirkan Ai.


"Mhh..baunya enak." Mendudukkan dirinya di atas kursi.


"Eh, ada catatan?" Ia mengambil catatan yang tertempel apik di atas vas bunganya.


Entahlah, tetapi yang pasti menempatkan bunga di sini tidak buruk juga, menambah suasana hati Ai semakin nyaman.


"Panaskan jika sudah dingin.." Gumam Ai membaca catatan tersebut.


Menganggukkan kepalanya mengerti, tangan kanannya kemudian menyentuh kuah sop yang ada di depannya.


"Sudah dingin...yah, tidak dipanaskan juga tidak apa-apa. Toh, rasanya akan tetap sama." Ucapnya tidak perduli seraya menaruh catatan tersebut dengan hati-hati dan memulai acara makan siangnya yang begitu menggugah selera.


"Aneh, kenapa masakan ini rasanya sama dengan makanan yang diberikan gadis itu kepada ku?"

__ADS_1


Mengunyah serius, tiba-tiba ingatannya dibawa ke sekolah saat makan siang kemarin. Ia mendapatkan sebuah kotak nasi dari seorang gadis yang katanya hanya sebagai pengirim.


Dan rasa makanan itu, Ai sangat ingat tidak jauh berbeda dengan makanan yang ada di depannya.


Apakah mungkin itu..Vano? Batinnya bertanya-tanya.


Ya, itu mungkin saja Vano.


...🍃🍃🍃...


Besoknya, Ai dengan semangat tinggi memulai aktivitas sehari-harinya. Dan entah mengapa ketika mengingat ia harus mengantarkan bunga ke rumah Vano, dadanya berdegup kencang lagi. Begitu kencang hingga ia takut jika ada orang yang akan mendengarnya.


"Pagi, Oma?" Sapa Ai ramah dengan senyuman manisnya.


Oma hanya meresponnya dengan lirikan tidak perduli, baginya apa yang ada ditangannya jauh lebih penting dari merespon Ai.


"Gaji mu dipotong lagi, bolos saat bekerja kau sudah mengulanginya dua kali." Ucap Oma santai tidak perduli dengan respon Ai.


Namun, Ai tidak merasakan apapun sama sekali dan malah merasa maklum karena kemarin ia tidak sempat meminta izin sakit kepada Oma.


"Apa kau mendengarnya?" Tanya Oma siaga jika suatu hari nanti Ai mengeluhkan gajinya yang sedikit.


"Ai, dengar Oma." Jawab Ai dengan patuh menjawab Oma.


"Nah, sekarang antarkan bunga ini ke tempat biasa. Ingat, jangan sampai mengecewakan klien." Peringat Oma seraya memberikan buket bunga Peony yang sudah ia rangkai kepada Ai.


Pasalnya ia cukup trauma pernah di protes oleh kliennya dulu. Ini bermula dari salah satu karyawannya yang tidak becus, merusak pesanan dan tidak melakukan ganti rugi.

__ADS_1


Oleh karena itu Oma sangat menekankan agar Ai tidak melakukan kesalahan dan menyinggung klien, karena biar bagaimanapun klien yang Ai pegang adalah orang yang super kaya.


"Baik, Oma." Membawa ke dalam pelukannya, Ai kemudian langsung ke sepedanya. Menaruhnya dengan hati-hati ia lalu mulai mengayuh sepedanya ke tempat yang selalu ia rindukan untuk datangi.


__ADS_2