
"Ai nanti pulang sekolah balik ke sini yah, ada sesuatu yang ingin Tante omongin sama kamu." Ucap Mama Vano di sela-sela sarapan mereka.
"Ngomongin apa ya, Tante? Apa gak bisa di bicarakan sekarang saja?" Tawar Ai karena ia pun juga sepulang sekolah nanti harus kembali bekerja di toko bunga Oma.
Apalagi gajinya sudah dua kali dipotong, Ai khawatir di hari penerimaan gaji Oma hanya memberikannya amplop kuning saja tanpa uang. Oma kan orangnya tidak segan-segan, kalau sudah ia putuskan maka jadilah seperti itu.
"Gak bisa sayang, harus sepulang sekolah saja." Tolak Mama Vano tidak memberikan Ai jalan untuk lari.
"Jangan khawatir masalah pekerjaan kamu karena Tante akan menghubungi pemilik toko tersebut, anggaplah Tante sedang menyewa jasa mu." Ujar Mama Vano mengusir keraguan Ai.
Pasalnya ia tahu bahwa Ai punya pekerjaan yang tidak bisa ditinggal, apalagi pemilik toko itu begitu keras kepala dan pelit terhadap karyawannya sendiri. Maka mau tidak mau ia harus melakukan cara ini untuk dapat memonopoli Ai hari ini.
"Tante gak perlu lakuin itu, nanti biar Ai sendiri yang izin ke Oma." Ai merasa tidak nyaman, seakan-akan pekerjaan adalah segalanya untuknya.
Ai tidak ingin kesan Mama Vano terhadapnya menjadi buruk.
"Gak apa-apa, lagipula ini adalah perintah Tante dan Ai tidak diizinkan untuk melanggarnya." Ucap Mama Vano tegas tidak memberikan Ai jalan untuk mengelak.
Tersenyum malu, Ai dengan patuh menganggukkan kepalanya berjanji.
Meminum habis air susunya, mata persik Ai sesekali melirik sekitar rumah ini. Mencari dimana sosok Papa Vano yang belum pernah Ai lihat sama sekali. Bukan hanya itu, namun fotonya pun tidak ada disekitar sini sehingga membuat pikiran Ai menebak-nebak siapa dan dimana Papa Vano berada.
Mungkin.. mereka bercerai?
Karena tidak ada satupun foto bahkan sosoknya di sini.
Atau lebih parahnya mungkinkah ia meninggal?
Tapi, jika benar sudah meninggal seharusnya di sini ada foto kenangannya bukan?
Tapi di sini tidak satupun ada, yah.. mungkin ada di ruangan lain yang tidak pernah Ai lihat karena ia hanya sebatas ruang keluarga, ruang makan, dan dapur. Hanya sebatas 3 ruangan itu saja dan sisanya ia tidak tahu sama sekali.
__ADS_1
Ia tidak tahu karena rumah ini begitu luas dan besar sehingga tidak semuanya dapat dijelajahi. Lagipula, ia di sini hanya sebagai tamu sehingga tidak wajar rasanya memberikan Ai izin berkeliling ke segala penjuru rumah.
"Tante.. seperti Ai harus segera ke sekolah deh, soalnya sebentar lagi ini sudah mau jam tujuh." Izin Ai pamit ke sekolah.
Waktu sudah menunjukkan pukul 6.47 sehingga ia harus segera ke sekolah sekarang jika tidak ingin terlambat. Itupun jika tidak menemukan hambatan di tengah jalan nanti atau ia bisa mengayuh sepeda lebih cepat lagi.
"Oh iya, Tante jadi lupa kalau kalian harus segera ke sekolah. Hah.. keasyikan ngobrol sih sama Ai, makanya Tante bisa lupa waktu."
Mengobrol dengan Ai benar-benar membuatnya lupa waktu dan jika Ai tidak mengingatkannya maka ia akan benar-benar melupakannya.
"Ya udah, Ai berangkatnya sama Vano aja biar gak telat. Nanti kalau emang bener telat kan ada si Vano ketua OSIS kalian." Ucap Mama Vano memberikan saran, pura-pura tidak melihat ekspresi protes dari Ai.
Bahkan, wajah pucat itu kini merona merah dan hanya bisa menenangkan suara degup jantungnya yang berdetak kencang.
"Enggak perlu Tan, Ai bisa kok sampai ke sekolah tepat waktu. Kalaupun telat juga gak apa-apa karena hukumannya gak berat kok." Tolak Ai halus dengan suaranya yang lembut.
Begitu menenangkan pendengaran.
"Meskipun gak berat tapi tetap aja itu namanya hukuman, udah sama aku aja ke sekolahnya biar gak telat. Lagian juga nanti pulang sekolah kan balik ke sini jadi kenapa gak sekalian aja?" Kali ini bukan Mama Vano yang bersuara, tapi itu Vano yang sejak tadi hanya fokus menghabiskan sarapannya.
Vano mengatakan ini karena Ai sepulang sekolah nanti pasti balik lagi ke rumah ini, jadi kenapa gak sekalian aja biar pulangnya gak ribet. Dan Vano juga takut jika kejadian kemarin siang terulang lagi, kemarin saat patroli sekolah sebenarnya Lili menceritakan pertemuan Angela dan Ai waktu sepulang sekolah. Ia menceritakan jika jaket yang ia berikan kepada Ai direbut oleh Angela, bahkan Angela juga sempat memberikan Ai kata-kata yang seharusnya tidak pantas seorang saudara katakan kepada saudaranya sendiri.
Lantas, ini semakin membuat Vano penasaran dengan kehidupan Ai. Mengapa ia dan Angela hidup terpisah dan mengapa kedua orang tua mereka memberikan perlakuan berbeda.
Apa hanya karena Ai spesial?
Yah, itulah yang Papanya katakan tapi Vano masih belum puas dengan jawaban Papanya. Ia butuh penjelasan yang jelas dan dapat menjelaskan semuanya, maka dari itu Vano telah bertekad sejak 8 tahun yang lalu untuk hari ini.
"Hooh, Vano benar, Nak. Jadi sepulang sekolah nanti Ai bisa langsung ke rumah tanpa hambatan." Dukung Mama Vano membela putranya.
Dilanda dilema, sesekali ia akan melirik Vano yang tidak terganggu sama sekali. Terlihat begitu santai dan tenang.
__ADS_1
"Kalau Tante dan Vano gak keberatan, Ai akan ikut Vano." Jawabnya malu-malu.
Kedua tangannya dengan erat saling meremat dibawah meja, menyalurkan kegugupan juga perasaan senang yang terus meluap-luap di dadanya. Bahkan, Ai tidak sadar jika penampilannya yang malu-malu seperti ini sejak tadi sudah diperhatikan Vano.
Mulai dari wajahnya yang memerah tertunduk malu, telinganya yang memerah berteriak ingin di sembunyikan dan kepolosannya yang begitu menggelitik jiwa.
Vano.. tidak bisa berkedip dibuatnya.
"Kalau begitu kita langsung berangkat aja ke sekolah biar gak telat, Ma-" Bangun dari kursinya dan berjalan mendekati Mamanya.
"Vano ke sekolah dulu yah, assalamualaikum." Pamit Vano seraya mencium tangan Mamanya sayang.
"Hati-hati ya sayang, ingat ada anak orang lho yang sedang kamu bawa. Jangan sampai kenapa-napa." Goda Mama yang langsung dibalas malas oleh Vano.
Sontak ini langsung membuat Mama tertawa kecil, begitu terhibur.
Melihat Vano yang sedang pamit ke Mamanya, Ai lantas dengan terburu-buru memakai tas punggungnya dan berjalan mengikuti jejak Vano berpamitan kepada Mama Vano.
"Tante, Ai pamit berangkat ke sekolah yah." Dengan takut-takut Ai mencium tangan lembut Mama Vano.
Ia takut jika Mama Vano tidak ingin disentuh olehnya, namun ketakutan Ai sia-sia karena nyatanya ia rasakan sebuah usapan lembut di kepalanya.
Mendongak, Mama Vano dengan lembut mengusap kepala Ai seperti seorang Ibu kepada anaknya.
"Hati-hati ya Ai, nanti kalau si Vano gangguin kamu jangan ragu untuk telpon polisi." Pesan Mama Vano lembut spontan membuat Ai tersenyum tipis.
"Mama ih, suka banget deh goda anak orang." Kesal Vano seraya menarik tangan Ai menjauh dari Mamanya.
"Kami berangkat Ma, assalamualaikum." Teriak Vano memberikan salam sekali lagi kepada Makanya.
"Waalaikumussalam, hati-hati ya kalian berdua." Balas Mama Vano berteriak keras di dalam rumah, membuat rumah dipenuhi oleh suara khas Mak-maknya yang menggelegar bebas.
__ADS_1
Namun tidak ada sahutan dari putranya, mungkin mereka sudah ke parkiran, pikir Mama Vano menebak.