
"Ai, kamu kenapa?" Vano tidak tahu mengapa Ai menjadi bersedih seperti ini karena sebelumnya ia baik-baik saja.
Tersadar dari lamunannya, "A-aku.. hanya merindukan rumah saja." Jawabnya gelagapan.
Mendengarnya Vano merasa lega, "Jangan terlalu dipikirin, di sini kan juga ada Angela jadi semuanya pasti baik-baik saja. Besok setelah kita pulang camping aku akan temenin kamu dan Angela pulang ke rumah, temu kangen sama kedua orang tua kamu di rumah. Aku yakin, mereka juga sangat merindukan kalian berdua." Vano menghibur dengan lembut.
Vano sebenarnya tidak yakin dengan apa yang terjadi antara Ai dan keluarganya. Papa bilang kedua orang tua Ai menelantarkan Ai selama ini, tapi ketika melihat raut kesedihan Ai saat memikirkan rumah Vano pikir mungkin Papa dan Mamanya selama ini hanya salah paham saja.
Yah, lihat saja Angela. Sebagai seorang Kakak ia sangat perhatian dengan kehidupan Adiknya jadi bagaimana bisa itu dikategorikan sebagai penelantaran?
"Ya, kamu benar." Ucap Ai dengan senyuman mirisnya. Ia kemudian menundukkan kepalanya, tidak ingin Vano melihat wajah penuh keputus'asaannya.
Ai memang merindukan rumah namun bukan rumah itu yang Ai rindukan. Tempat dimana ada kedua orang tuanya bukanlah rumah untuk Ai namun hanya untuk Angela seorang. Putri emas yang semua keluarganya banggakan.
Ai berbeda, ia di buang.
Sejak kecil ia sudah mendapatkan perlakuan berbeda dan seiring waktu membuatnya tumbuh ia sadar jika selama ini ia tidak punya posisi di rumah itu. Mereka hanya menganggapnya seperti parasit yang mengganggu, merusak pemandangan.
Tentu saja Ai tahu dan karena itulah ia tidak ingin berulah, ia hanya berharap meskipun tidak dianggap kedua orang tuanya masih memberikannya tempat untuk tetap dekat dengan mereka semua. Tapi sayang, harapannya tidak sesuai dengan kenyataan karena setelah memasuki dunia SMA, kedua orang tuanya mengatakan jika sudah waktunya ia hidup mandiri. Ai tidak sebodoh itu tidak tahu bahwa maksud kedua orang tuanya adalah Ai harus menyingkir dari rumah itu, menyingkir dari pandangan mereka. Ai dibuang dan selama ini ia hanya bisa bersikap pura-pura tidak tahu saja.
__ADS_1
Hah.. mengingatnya selalu membuat hatinya terasa di iris-iris, begitu menyakitkan.
15 menit kemudian waktu makan sudah berakhir. Mereka tidak menunda waktu lagi setelah menyelesaikan makan siang dan langsung membersihkan tempat untuk membangun tenda. Pertama-tama mereka membangun tempat khusus untuk sholat dulu, berhubung mereka belum sholat Zuhur maka jadilah tempat yang paling utama mereka bangun adalah tempat untuk sholat.
"Silahkan untuk yang laki-laki pergi berwudhu di tempat wudhu yang sudah tersedia di sini dan begitu pula untuk yang perempuan, bagi yang tidak berhalangan segera mengambil air wudhu dan bagi yang tidak silakan melakukan bersih-bersih terlebih dahulu sebelum kita membangun tenda masing-masing." Teriak Pak Imron dari balik toa yang ia pegang. Namun, meskipun telah berteriak keras anak-anak masih belum bergerak sepenuhnya.
Mereka terlihat masih asik mengobrol atau duduk-duduk santai dibawah pohon. Ini membuat Pak Imron naik pitam sehingga tanpa perlu mengendalikan suaranya seperti awal ia langsung berteriak marah dari balik toa.
"Sekali lagi! Silahkan untuk yang laki-laki pergi berwudhu di tempat wudhu yang sudah tersedia di sini dan begitu pula untuk yang perempuan, bagi yang tidak berhalangan segera mengambil air wudhu dan bagi yang tidak silakan melakukan bersih-bersih terlebih dahulu sebelum kita membangun tenda masing-masing. Jika kalian masih tidak mau mendengar maka lebih baik acara camping sekolah ini kita batalkan saja!" Pak Imron terlihat sangat serius ketika mengatakan ini sehingga anak-anak tidak lagi mau berduduk santai.
Mereka langsung berbondong-bondong ke tempat tujuan yang sudah ada dari desa setempat. Walaupun lokasimu ada di tengah hutan namun para warga desa sepertinya tahu bahwa tempat ini akan berguna. Oleh sebab itu mereka membangun tempat khusus untuk berwudhu tanpa adanya musholla atau masjid!
"Ai?" Ai yang sedari tadi berdiri linglung akhirnya kembali jernih setelah mendengar panggilan kuat dari Pak Imron.
Ai dengan sopan menghampiri Pak Imron, "Iya, Pak?" Tanyanya terdengar gugup.
"Kamu sholatnya sama Bu Dewi," Pak Imron mengarahkan matanya ke posisi para guru wanita yang juga seorang sudah mulai mengeluarkan mukena.
"Gih, kamu samperin." Sambungnya memberikan arahan.
__ADS_1
"Baik Pak, kalau begitu saya permisi dulu." Lalu dengan begitu Ai membawa langkah putus asanya mendekati Bu Dewi.
Seperti biasa, Bu Dewi selah memberikan senyuman yang menyegarkan untuk Ai. Senyumnya persis seperti senyuman seorang Ibu kepada anaknya.
"Bisa ikut Ibu ke mobil sebentar? Ada barang tertinggal yang belum sempat Ibu ambil." Suaranya akrab dalam sekejap mengusir keraguan Ai.
"Bisa Bu." Jawab Ai tanpa ragu yang langsung dihadiahi senyuman puas Bu Dewi.
Tanpa mengunggu waktu yang lama mereka berdua akhirnya berjalan ke arah mobil. Ai yang menjadi siswa santun berjalan dengan patuh dibelakang Bu Dewi. Ia tidak mengucapkan apapun selama berjalan sampai akhirnya Ai ingat jika ia tidak mengatakan apapun kepada Vano.
Astaga, apakah Vano akan memikirkannya?
Ai rasa tidak karena ini hanya ke mobil saja lagipula Ai bukan siapa-siapa untuk Vano jadi mengapa Vano harus peduli?
Yah, itu benar tapi bodohnya Ai masih tidak bisa tidak memikirkan respon Vano. Meskipun ragu akan hasilnya Ai masih saja memutar lehernya 90 derajat untuk mencari keberadaan Vano.
Deg
Di sana-tidak, lebih tepatnya di tempat terakhir ia berdiri dengannya, Vano masih berdiri dengan tegak menatapnya. Pandangan mereka bertemu secara lurus dan sebuah senyuman tampan Vano yang langka langsung menampar wajah pucat Ai. Menghadirkan rona merah yang sarat akan romansa yang manis. Ai tidak mampu menahannya dan tanpa sadar memalingkan wajahnya. Menundukkan kepalanya menatap tanah berumput hijau yang subur dan menyenangkan mata, seolah-olah ia tidak terpengaruh sama sekali dengan mata tajam Vano. Padahal hatinya kini sedang dalam status dilanda hujan yang manis dan lengket, jantungnya berdegup kencang dan tubuhnya terasa menghangat.
__ADS_1
Ai, lagi-lagi kamu bersikap naif. Batinnya mengakui.