Dear, Vano

Dear, Vano
12. Untuk Angela


__ADS_3

Keluar dari ruangan dokter Ares, Ai tidak terlihat baik-baik saja. Wajah sendunya yang dibasahi oleh cairan hangat adalah gambaran jelas betapa kecewa dan sedihnya ia. Terus melangkah ia berusaha menundukkan kepalanya seraya berucap acuh tak acuh dengan tatapan ingin tahu orang-orang yang ia lewati.


Masuk ke dalam taksi yang sudah ia pesan, Ai sebenarnya tidak ingin terlalu boros karena bagaimana pun juga ia harus mengembalikan uang dokter Ares yang ia gunakan untuk membelikan Ai obat ini. Ai tahu diri, dokter Ares sudah berjuang keras untuk bekerja dan Ai tidak bodoh untuk tidak mengembalikan uangnya. Mungkin dokter Ares menganggap kecil uang itu tapi bagi Ai uang itu tidaklah kecil dan amat sangat berharga untuknya.


Ai P. O. V


“Mau kemana, Neng eh maksud saya Mas?” Supir itu bertanya gugup kepada ku saat baru memasuki taksinya.


Tersenyum kecil, “Ke toko bunga Tesoro, Pak.” Jawab ku yang langsung di angguki supir taksi itu. Merasa bosan aku membawa pandangan ku menatap jendela mobil yang menampilkan suasana kota yang sibuk. Melihat kota yang serba sibuk dan panas seperti ini aku jadi merindukan Kakek dan Nenek ku yang ada di kampung.


Betapa damainya tempat yang sudah sangat lama aku tidak kunjungi.


Pilihan Kakek dan Nenek memang tepat, setelah mengundurkan diri dari perusahaan keluarga Kakek dan Nenek ku pun juga mengumumkan bahwa mereka berdua akan menghabiskan masa tua mereka di kampung. Waktu itu aku begitu kecewa dan tidak rela melihat kepergian mereka yang mendadak, aku ingin ikut tapi mereka mengatakan tempat ku bukan di sana tapi di sini. Aku harus sekolah dan meraih mimpi ku di sini pesan mereka saat akan pergi, tapi sepertinya mereka lupa hal terpenting dalam hidup ku bahwa aku sama sekali tidak punya harapan.


“Sudah sampai, Mas.” Suara supir taksi itu membuyarkan lamunan ku. Tersadar, aku melihat jika saat ini kami sudah sampai di depan toko bunga tempat ku bekerja yang terlihat sunyi dan damai seperti hari-hari biasanya. Toko bunga sama seperti toko coklat, yaitu akan ada waktu dimana toko ini menjadi ramai pembeli seperti halnya hari valentine.


“Terimakasih, Pak.” Ucap ku berterimakasih seraya memberikannya sejumlah uang yang diminta.


Menghela nafas, aku kemudian membawa langkah ku yang ringan ke dalam toko bunga. Di dalam sudah ku dapati Oma yang sedang sibuk membuat buket bunga.


“Siang, Oma.” Salam ku sopan seraya masuk ke ruang karyawan.


“Hem.” Balasnya biasa.

__ADS_1


Setelah berganti pakaian, aku pun membawa langkah ku ke tempat biasa aku bekerja. Yaitu memastikan dan memotong bunga yang sudah layu atau tidak sehat terjangkit hama.


“Uh..kenapa perihnya masih saja terasa padahal aku sudah meminum obat tersebut.” Heran ku ketika nyeri itu masih belum hilang-hilang.


Apakah dampak surat tadi malam sangat mempengaruhi kondisi tubuh ku?


“Ai, tolong antarkan pesanan ini ke kafe Melati jalan Wijaya.” Dengan patuh aku langsung ke tempat Oma untuk mengambil pesanan tersebut.


“Ingat, jangan sampai rusak dan mengecewakan klien.” Ucap Oma berpesan kepada ku seraya memberikan ku sebuah buket bunga mawar merah terang yang indah dan mempesona.


“Baik, Oma.” Patuh ku mengiyakan pesan Oma seraya membawa buket bunga mawar merah terang tersebut ke dalam pelukan ku dengan hati-hati. Lalu aku langsung keluar dari toko bunga menuju tempat parkir sepeda yang biasa aku tempati.


Setelah sampai sana, aku dibuat kebingungan dengan tempat parkir tersebut. Di sini biasanya sepeda ku terparkir rapi, akan tetapi mengapa sekarang aku tidak menemukan sepeda tersayang ku di sini.


Terdiam lama, akhirnya aku mengingat jika sepeda ku tertinggal di sekolah karena keadaan darurat yang memaksa ku untuk menggunakan taksi. Berpikir lama untuk mencari jalan keluar aku pun akhirnya mengingat jika Oma punya sepeda yang tidak digunakan dalam gudang. Memutar arah, aku kembali masuk ke dalam toko untuk menemui Oma yang kini sedang menyiram bunga.


“Lalu kenapa?” Oma bertanya tidak tertarik.


Menggigit bibir gugup, aku ragu jika Oma mau memberikanku menggunakan sepeda yang ada di dalam gudang itu karena jika dilihat dari responnya, Oma sama sekali bersikap tidak perduli.


“Oma, apakah aku bisa meminjam sepeda yang ada di dalam gudang itu?” Tanya ku hati-hati.


“Tidak bisa.” Jawabnya cepat.

__ADS_1


“Tapi bagaimana cara ku mengantarkan pesanan sedangkan sepeda ku saja tertinggal.” Tanya ku seraya menjelaskannya karena mungkin saja Oma masih belum mengerti apa yang aku katakan tadi.


“Itu urusan mu. Ingat Ai pesanan ini harus sampai ke klien dengan tepat waktu. Mengenai kendaraan apa yang kau gunakan untuk mengantarnya aku sama sekali tidak perduli karena kesepakatan yang kita sepakati sebelum kamu diterima dulu adalah bahwa kamu harus menggunakan kendaraan mu sendiri untuk mengantar bunga.” Jelas Oma final seraya berjalan menjauh dari ku.


Terdiam, aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi untuk terus membujuk dan meminta kebaikannya karena seperti yang Oma katakan tadi bahwa memang benar sebelum aku diterima kerja di sini aku harus menyepakati persyaratannya.


“Aku mengerti, kalau begitu aku pamit mengantarkan pesanan dulu, Oma.” Pamit ku seraya membawa langkah ku keluar dari toko buku. Menghela nafas, aku membawa pandangan ku ke hamparan langit yang kini sudah cerah dan berawan. Terlihat indah dan damai di saat yang bersamaan.


Melambaikan tangan ku untuk menghentikan taksi yang kebetulan lewat, mengatakan tujuan ku taksi itu pun langsung membawa ku ke tempat itu. Tidak ada yang menarik dari pemandangan di luar jendela maka dari itu aku pun memusatkan atensi ku pada buket bunga mawar merah terang yang ada di dalam pelukan ku. Bunga ini begitu elegan dan harum, warna yang terang memberikan kesan seolah-olah pemilik bunga ini begitu mencintai orang yang akan menerimanya. Betapa membuat cemburu.


Di sela-sela perhatian penuh cemburu ku pada bunga ini tiba-tiba kartu ucapan berwarna merah muda yang cantik menarik perhatian ku. Ini mungkin kartu ucapan pemilik bunga ini kepada kekasihnya yang amat sangat ia cintai.


Karena dilanda penasaran aku pun meraih kartu ucapan tersebut ke depan ku. Membukanya, di sana ku temukan sebuah tulisan yang indah dan anggun. Tertulis nama seorang gadis yang sudah tidak asing lagi bagi ku.


Untuk orang terkasih ku, Angela Azelia.


Menatap kosong, rasanya aku tidak ingin mempercayai apa yang aku lihat ini. Tidak, Angela Azelia tidak hanya satu orang jadi mengapa aku harus khawatir?


Tapi jika itu benar Angela, maka apakah bunga ini di pesan oleh Vano?


“Sudah sampai, Mas.”


“Terimakasih.” Ucap ku seraya memberikan tagihannya. Turun dari taksi, aku membawa tatapan ku ke sebuah bangunan besar yang terlihat begitu mencolok untuk kaum muda-mudi seperti kami.

__ADS_1


“Jika benar itu Angela lalu kenapa?” Putus ku tidak perduli seraya membawa langkah ku masuk ke dalam kafe yang sudah ramai.


Bersambung..


__ADS_2