
Mengabaikan rasa dingin dari AC dan perubahan cuaca, perlahan mata persiknya yang tersembunyi mulai mengendur dan layu. Merayunya untuk menutup mata sejenak untuk memberikan hatinya ruang santai. Benar, karena semalam berlalu tanpa tidur maka seharusnya Ai tidak keberatan untuk terlelap sebentar saja.
Meskipun sedikit kurang nyaman tapi mau tidak mau Ai harus menerimanya, lagipula ini bukan ranjangnya yang halus dan empuk jadi wajar saja jika merasa tidak nyaman.
Lama merasakan ketidak nyamanan tiba-tiba Ai mencium wangi yang begitu familiar untuknya. Hem, betapa harumnya pikir Ai. Bahkan perasaan nyaman itu hilang entah kemana digantikan dengan sapuan hangat yang sangat nyaman. Ia tidak lagi merasakan dingin dan rasa gelisahnya pun ikut terkikis bersama kehangatan yang dibawa wangi itu.
Ini... tidak mungkin Vano, pikirnya sebelum benar-benar menghilang di alam mimpi.
...🥀🥀🥀...
"Uh.." Ai terbangun dari acara tidurnya.
Mengerjapkan kedua matanya, ia berusaha membiasakan sinar masuk ke dalam matanya. Ia dengan linglung menatap sekelilingnya, oh, ternyata mereka semua masih di dalam bus. Tidak heran Ai sedikit terkejut karena semua orang kini tertidur lelap di kursi masing-masing.
Lalu, mata mengantuknya jatuh pada kursi yang akan Vano duduki dengan Angela. Di sana atau tepatnya di samping Angela bukan Vano melainkan seorang gadis yang Ai tidak kenal.
"Dimana Van-" Ai membeku ketika mencium parfum familiar yang melayang terbang dibawa angin. Tidak, lebih tepatnya ia mencium parfum Vano dari pundak kokoh yang sedang ia sandarkan!
Menyadari ada sesuatu yang salah, Ai dengan takut-takut membawa mata persiknya menatap pemilik pundak kokoh yang telah berjasa besar menopang waktu tidurnya.
__ADS_1
Deg
Kedua matanya menatap tidak percaya pada wajah tampan yang sedang tidur damai di sampingnya.
Ini Vano!
Vano sekarang tepat di sampingnya bahkan wajahnya begitu dekat dengan Ai, ah!
Tersadar jika jaraknya tidak normal, Ai spontan menjaga jarak dari Vano. Menegakkan tubuhnya yang kini sedang bergetar penuh kebahagiaan, Ai dengan gugup menundukkan kepalanya merasakan debaran jantungnya yang berdegup kencang.
Dug
Dug
Dug
"Ai..." Suara berat mengantuk Vano membuat Ai kaget.
"Kapan kamu bangun?" Vano memperbaiki duduknya seraya mengucek-ucek matanya dengan gerakan terbiasa.
__ADS_1
Gugup, "Aku..aku baru saja bangun." Jawab Ai memilih menatap keluar jendela yang menampilkan pemandangan luar, ia takut menatap Vano.
Ai juga baru menyadarinya jika selama ini ia menggunakan jaket Vano sebagai selimut, mengapa ia tidak tahu hal sepenting ini ah! Lagipula, tadi pagi yang duduk di sini adalah Lili tapi mengapa sekarang tiba-tiba itu Vano?
"Kamu lapar gak?" Tanya Vano menebak, pasalnya ini hampir masuk jam satu siang dan mereka masih belum sampai ke tempat tujuan.
"Aku enggak lapar." Ini adalah sebuah kebenaran jika ia sama sekali tidak lapar. Itu tidak mengejutkan karena memang dari dulu ia sudah terbiasa hidup seperti ini, mengabaikan makan dan asupan untuk tubuhnya.
Vano tidak senang, "Setengah jam lagi kita sampai dan untuk sementara sebagai pengganjal perut kita makan ini aja." Vano tidak mau tahu apakah Ai mau atau tidak karena baginya makalah itu penting.
Mungkin bagi Vano yang sehat itu tidak terlalu serius, tapi bagi Ai itu sangat serius. Lihat saja badannya yang kurus tanpa lemak, cek.. Vano rasanya gatal ingin membuatnya gemuk!
"Mama sendiri yang buat langsung kemarin, dia bilang kamu gak boleh nolak buatannya." Ucap Vano sambil menempatkan satu tupperware ukuran sedang di atas pangkuan Ai yang tertutup jaketnya.
Ai menatap enggan makanan ringan di atas pangkuannya, jika berpikir secara munafik sebenarnya ia sangat senang jika Mama Vano masih memikirkannya. Itu rasanya sangat mendebarkan jika Ibu dari laki-laki yang ia sukai punya simpati untuknya. Namun Ai harus mengakui jika bentuk dari simpati ini juga menyakitinya, membuatnya terus berharap pada Vano sampai batas ia akan terluka lagi.
"Tapi Vano aku beneran gak lapar." Tolak Ai seraya mengembalikan makanan tersebut.
"Aku beneran gak suka ditolak, Ai." Ucap Vano serius.
__ADS_1