
Berdecak kesal, dalam hati laki-laki itu berjanji untuk mengontrol pola makan Ai yang tidak sehat ini dengan pola makan sehat yang biasa Mamanya berikan untuknya.
Tiba-tiba pesan dari Papanya masuk, membacanya sekilas akhirnya ia tahu langkah apa yang perlu ia lakukan sekarang.
Tanpa menunggu lama lagi laki-laki itu langsung memasak air dan memastikan dalam suhu yang hangat. Sambil menunggu air menjadi hangat, ia kembali masuk ke kamar Ai untuk mencari kain kecil yang cocok untuk dijadikan kompres. Namun, ia tidak menemukan apa-apa kecuali handuk yang terlalu kebesaran untuk ukuran kompres.
Berpikir lama untuk mencari jalan keluar, ia tiba-tiba teringat ada sapu tangan di kantong jaketnya. Ia langsung mencarinya dan bersyukur bahwa sapu tangan itu masih ada di tempat.
Lantas ia tidak membuang-buang waktu dan mengompres Ai dengan gerakan kaku dan canggung.
"Tunggu sebentar okay, aku harus ke apotik dulu untuk membeli beberapa obat." Bisik laki-laki itu lembut.
Mengecup kening Ai sayang, ia kemudian berjalan dengan hati-hati keluar dari kamar Ai. Mengunci pintu apartemen Ai, laki-laki itu kemudian berlari secepat yang ia bisa keluar dari gedung apartemen ini.
...***...
Setelah 45 menit kemudian, ia pun kembali dengan kantong kresek yang sudah penuh dengan makanan dan beberapa sayuran yang masih segar. Entah darimana laki-laki ini mendapatkan sayuran sesegar ini akan tetapi yang pasti ia tidak melupakan tugasnya untuk membeli obat.
Ia terburu-buru masuk ke dalam kamar dan melihat Ai masih belum sadarkan diri. Ia juga memeriksa kompres yang sudah mengering dan merasakan air hangat yang ada di dalam baskom sudah mendingin.
Meletakkan kembali barang-barangnya, laki-laki itu memasak air lagi sampai hangat. Lalu menunggu beberapa saat untuk mengepaskan suhunya.
__ADS_1
"40.06 derajat Celcius, demamnya begitu tinggi."
Ia kemudian mengeluarkan bubur hangat yang beberapa waktu lalu ia beli di kedai dekat supermarket tempatnya berbelanja.
"Ai..Ai, bangun yah.." Bisiknya membujuk.
Menarik kesadaran Ai agar terjaga dari tidurnya.
Perlahan kening Ai berkerut tidak nyaman, ia mulai merintih kesakitan dan mata persik berairnya mulai terbuka. Menampilkan wajah cantik yang memerah menahan panas suhu tubuhnya.
"Sia..pa?" Bisik Ai tidak yakin karena orang yang ada di depannya terlihat buram dan tidak jelas.
Tersenyum lembut, laki-laki itu mengelus rambut berkeringat Ai tanpa merasa risih sedikitpun. Seakan-akan ia sudah biasa melakukannya.
Meniupnya perlahan, ia kemudian dengan hati-hati menyuapi Ai. Meskipun sempat menolak, Ai akhirnya mengalah dan menelan bubur tersebut dengan susah payah.
"Aku..gak bisa.." Tolak Ai ketika laki-laki itu ingin menyuapinya lagi.
Ini sudah suapan kelima jadi ia tidak tahan dengan bubur ini. Karena setiap kali ia menelannya, organ pencernaannya seolah menolak dan ingin segera memuntahkannya. Namun ia terus saja menahan gejolak perutnya sampai akhirnya suapan yang kelima datang, ia sudah tidak tahan lagi.
Menghela nafas mengerti, laki-laki itu tidak memaksa Ai lagi memakan bubur tersebut.
__ADS_1
"Sekarang minum obat yah, supaya demamnya turun."
Ia mengambil tablet kecil dan mendorongnya masuk ke dalam mulut Ai, "Ini..minum dengan pelan-pelan." Intruksinya seraya membantu Ai minum.
"Sekarang kamu boleh tidur lagi." Ucap laki-laki itu sedikit lega. Mengambil kompres yang sudah pas suhunya, ia dengan hati-hati menempelkannya di kening Ai.
"Mimpi indah, Ai dan jangan sakit lagi okay?" Bisiknya lembut seraya menidurkan dirinya tepat di samping Ai. Lengannya dengan lembut menarik Ai ke dalam pelukannya, lalu matanya pun mulai terpejam mengikuti Ai yang sudah melalang buana dalam mimpi.
...****...
"Jangan pergi, Vano!" Teriak Ai gelisah membuatnya langsung terbangun dari tidurnya.
Tersadar, ia akhirnya tahu bahwa itu hanya mimpi dan tidak nyata.
"Ini hampir jam satu siang, aku tidak percaya bisa tidur selama ini." Gumamnya begitu terkejut melihat waktu sudah berlalu cepat.
Meraih bantal yang ada di sampingnya, tiba-tiba gerakan Ai menjadi kaku. Lalu hidung cantiknya mengendus-endus ringan, menghirup wangi menenangkan dari seseorang yang Ai cintai.
"Ini.. kenapa wangi Vano bisa ada di bantal ku?" Bisik Ai bingung sekaligus senang. Menerka-nerka, ingatannya pun dibawa melayang ke kejadian semalam.
Ada seseorang yang menjaga dan merawatnya, bahkan ia sempat merasa laki-laki itu juga memeluknya saat tidur.
__ADS_1
"Apakah mungkin itu Vano?"
Bersambung...