Dear, Vano

Dear, Vano
14. Cemburu


__ADS_3

Angela adalah keluarganya yang masih mau berbicara baik dengannya. Sejujurnya Ai sangat bersyukur dengan hal ini karena bagaimana pun juga Angela masih mau berbicara dengannya. Namun, mendengarkan pertanyaan langsung seperti ini tetap saja membuat Ai merasa tidak nyaman karena Angela seakan mengatakan bahwa di sini bukanlah tempatnya.


“Aku, aku di sini untuk mengantarkan bu-“


“Aku yang bawa dia masuk.” Suara dingin Vano mengintrupsi ucapan Ai, membuat semua orang tanpa sadar mengalihkan perhatian mereka ke Vano yang baru saja kembali dari luar.


“Ah, jadi ketos sudah mengizinkannya masuk? Syukurlah.” Angela berseru kaget begitu tau bahwa Vano sendiri yang mengizinkan Ai untuk bergabung bersama mereka.


“Hem, dan bunga itu untuk mu.” Tunjuk Vano pada buket bunga mawar besar yang ada di dalam pelukan Ai.


Tau diri, Ai langsung menyerahkan bunga yang ada di dalam pelukannya ini kepada Angela yang kini sudah bersemu merah. Tersenyum tipis, Ai sekarang sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaannya saat di dalam taksi bahwa ya, bunga ini di pesan oleh Vano dan Ai cukup sadar bahwa cinta Vano ke Angela begitu besar dan dalam.


Ah, meskipun tahu tapi tetap saja rasanya begitu sakit untuk Ai. Ia sekali lagi merasakan betapa tidak berdayanya ia.


Ai menundukkan kepalanya dalam diam, terkadang kedua tangannya yang tersembunyi di bawah meja saling meremat dengan gelisah dan sedih. Makanan yang sudah berjejer rapi di atas meja tidak dapat menarik minat dan selera makannya untuk sekedar mencicipinya. Wajah pucat itu lebih senang menunduk dan menyembunyikan wajah menyedihkannya yang ia pikir sendiri begitu memuakkan.


Terkadang mata yang tertutupi rambut panjang dan kaca mata bingkai itu menatap penasaran kepada pasangan yang ada di seberang meja. Mereka terlihat intim saat berbicara sehingga membuat orang-orang di sekitar mereka merasa iri dan cemburu.

__ADS_1


Tidak terkecuali Ai, mungkin di antara semua orang ia adalah orang yang merasa paling cemburu dan tidak berdaya melihat saudara dan laki-laki yang ia cintai berbicara dan berdekatan semesra ini. Angela dan Vano dilihat dari tempat duduknya begitu intim dan menyakitkan mata, ia tahu jika situasi seperti ini akan menimpanya.


Menghela nafas lembut, Ai mencoba membangun semangatnya yang sedari tadi sudah menurun. Mengalihkan pandangannya pada satu-satunya gadis yang mau berbicara dan duduk sedekat ini dengannya.


Lili, gadis yang beberapa waktu lalu terlihat bersemangat bersamanya kini sedang menatap piringnya layu. Terkadang gerakan kecil matanya saat melirik meja lain dapat Ai lihat dengan jelas. Mengikuti arah pandangnya, Ai menemukan jika Lili ternyata sedari tadi melirik ke arah meja Vano. Tidak, lebih tepatnya pada Ari yang terlihat sedang asik mengobrol dengan Vano. Sebenarnya di meja itu bukan hanya mereka bertiga akan tetapi ada juga beberapa pengurus inti kelas XII, XI, dan X yang sedang mengobrol bersama.


Memperhatikannya dalam diam, Ai dapat mengerti mengapa sikap Lili menjadi murung dan sedih. Hal itu dikarenakan Ari yang menjadi fokus mata Lili terkadang asik mengobrol dengan gadis yang ada di sebelahnya. Ah, jadi Lili juga ada di posisi yang sama dengan Ai. Mereka berdua cemburu pada orang yang mereka cintai bisa sedekat itu dengan gadis lain.


Tersenyum tipis, Ai memutuskan untuk meringankan suasana melankolis di antara mereka berdua.


Tersentak, Lili mengangkat wajah sendunya menatap Ai yang terlihat gugup dan canggung. Lalu sedetik kemudian wajah sendu dan murung itu berubah menjadi wajah ceria tanpa beban.


Ia tersenyum lebar yang langsung memberikan kejutan besar bagi Ai yang sedang menatapnya bodoh. “Kak, sebenarnya aku gak laper jadi makanannya hanya bisa aku tonton aja.” Jawabnya dengan ekspresi yang meyakinkan.


Sejenak, Ai tidak bisa mengatakan apapun terhadap respon Lili yang begitu alami dan terlihat jujur. “Ah, ya.”


Lalu pembicaraan canggung ini hanya bisa bertahan sampai di sini saja.

__ADS_1


“Kak Ai, wajah Kakak kelihatan pucat banget. Kakak lagi gak enak badan yah?” Suara khawatir Lili membuat Ai tertegu.


Menggeleng pelan, Ai menolak terlihat lemah di depan orang lain meskipun faktanya ia tidak sekuat itu. “Aku..harus ke toilet.” Ucap Ai seraya berdiri dari tempat duduknya.


“Biar aku tema-“


“Aku bisa sendiri.” Potong Ai cepat seraya membawa langkahnya ke pintu keluar secepat mungkin. Menutup pintu Ai langsung membawa langkah pelannya ke arah pintu toilet yang paling dekat dengannya.


“Maaf Mas, ini toilet khusus wanita.” Langkah Ai langsung tertahan begitu mendengar suara wanita dari arah belakangnya.


Mengangkat wajahnya, Ai kemudian melihat di atas pintu toilet tersebut ada tulisan ‘Toilet Wanita’ yang tercetak tebal dan besar. Tersenyum tipis Ai kemudian mengalihkan tatapannya pada wanita yang telah mengingatkannya tadi.


“Terimakasih.” Ucap Ai canggung seraya membawa langkahnya menjauh dari tempat itu. Melewati toilet laki-laki ia bermaksud membawa langkahnya kembali ke toko bunga tempat ia bekerja.


Ia tidak berniat sama sekali kembali ke tempat yang membuat hatinya terus teriris menahan sakit dan cemburu. Lebih baik pergi seperti ini, toh ia juga bukan siapa-siapa bagi mereka. Ada dan tidak adanya ia adalah sesuatu yang tidak penting dan tidak dapat merubah apapun. Begitupun dengan toilet laki-laki, Ai tidak akan gila masuk ke tempat itu meski secara fisik ia adalah laki-laki tapi hati dan jati dirinya adalah perempuan.


Ya, setidaknya itu yang orang-orang berjas putih katakan kepada dirinya.

__ADS_1


__ADS_2