Dear, Vano

Dear, Vano
62. Urusannya Sama Gue


__ADS_3

Begitu masuk ke dalam kamar mandi sudah mereka temukan beberapa anak laki-laki yang sepertinya akan mulai mandi. Beruntung mereka berdua cepat datang ke sini karena jika terlambat sedikit saja mereka berdua tidak akan mendapatkan bagian apapun. Faktanya, mereka memang masuk ke dalam kamar mandi laki-laki yang mana tidak terlalu berisik. Ai juga tidak mendapatkan komentar apapun dari para anak laki-laki mungkin karena ada Vano di sisinya yang notabene ketua OSIS sekolah mereka. Vano cukup berpengaruh di sekolah bukan hanya karena dia menjadi ketua OSIS namun juga karena prestasinya yang gemilang.


"Gih, kamu duluan masuk ke dalam." Perintah Vano yang langsung diangguki Ai. Tanpa banyak tanya Ai langsung masuk ke dalam dan memulai ritual mandinya. Ia sudah merasa kegerahan dan juga tepatnya ia sangat tidak nyaman terus-terusan diperhatikan orang-orang. Tentu saja, mereka mungkin bertanya-tanya kenapa Vano mau-maunya ia tempeli karena sebenarnya Ai pun masih menebak-nebak mengapa Vano mau ia tempeli kemanapun ia pergi.


Tidak ingin terlalu lama di dalam kamar mandi Ai segera menyelesaikan acara mandinya lalu langsung keluar dan menunggu giliran Vano membersihkan dirinya.


"Udah beres?" Tanya Vano seraya mengambil alih perlengkapan mandi dari tangan Ai ke tangan kanannya.


"Udah." Jawab Ai mengiyakan.


"Ya udah, balik yuk." Ajaknya seraya menarik tangan Ai untuk mengikuti langkahnya.


"Lho, tapikan kamu belum mandi?" Bingung Ai karena setahunya Vano masih belum mandi.


"Aku mandinya belakang aja yang penting kamu balik dulu ke tenda, jaga tenda kita." Jawab Vano dengan langkah yang sama sekali tidak mengendur.


Menjaga tenda?

__ADS_1


Apakah ada pencuri yang akan mengambil barang-barang mereka?, Pikirnya kebingungan.


Sesampainya di tenda Vano langsung memasukkan Ai ke dalam dan memberikannya perintah untuk menjaga tenda mereka. Ia juga menambahkan jika Ai tidak keberatan ia bisa mengeluarkan barang-barang yang akan mereka gunakan tidur. Itu seperti lampu penerangan, selimut yang lembut dan bantal mini yang terlihat imut.


Setelah mendapatkan jaminan Ai, lantas Vano langsung kembali ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sendiri. Suasana hatinya saat ini sangat baik karena perlengkapan mandi yang ia gunakan sekarang pernah Ai gunakan juga. Dan itu baru saja Ai gunakan, belum sejam dari terakhir kali Ai mandi. Ah, Vano sangat menyukainya!


Sementara Vano sedang bersuka ria dengan mandinya, Ai justru di tenda juga dalam suasana hati yang baik. Ia sibuk menjalankan perintah Vano seraya beberapa kali mencium tangannya yang mempunyai wangi yang sama dengan Vano, hem, betapa senangnya.


"Oi homo, buka pintu tenda lo, gue mau masuk." Terdengar suara mengejek dari luar, suara itu Ai ingat dan masih segar di dalam ingatannya. Suara penuh penghinaan yang menertawakan betapa tidak berdayanya ia saat itu, bahkan saat ini Ai bisa merasakan luka memarnya kembali ngilu dan sakit.


Ai yang ada di dalam tenda memilih untuk tidak menjawab dan berusaha fokus dengan barang-barang yang ada di tangannya.


"Udahlah Bay, dobrak aja sih pintunya. Lo gak kasian apa lihat si Angela terus-terusan sakit hati lihat ni homo deketin Vano terus?" Rendi berseru tidak sabar, sudah gatal rasanya tangan ini untuk memberikan Ai pelajaran agar jangan mengganggu kekasih Angela.


"Lo tuh kalau ngomong mikir dulu Ren, jelas-jelas ini tenda kalo lo dobrak nanti jatuhnya ni tenda bakal rusak. Emang lo mau berurusan sama-"


"Urusannya sama gue." Suara dingin Vano menghentikan ucapan Bayu, membuat mereka berdua tanpa sadar berjenggit kaget.

__ADS_1


"Vano, kebetulan ko di sini-"


"Kebetulan kita ketemu juga," Potong Vano dengan senyuman sinisnya, kedua matanya yang hitam pekat bahkan memberikan rasa yang tidak nyaman untuk Bayu dan Rendi.


"Gue inget kalo kemarin sempat lihat rekaman cctv parkiran sekolah." Lanjutnya membuat Rendi dan Bayu tanpa sadar mengingat kembali hari dimana Bayu menghajar Ai sampai babak belur.


"Masalah ini sebenarnya sih bisa aja gue bawa ke kantor BK, pasalnya lo berdua hampir bunuh anak orang jadi seharusnya hukuman yang lo berdua terima minimal dikeluarkan dari sekolah."


Rendi yang mulai panik mencoba berpikir jika Vano saat ini hanya sedang bercanda saja, "Ya elah Van, kita juga gitu-gitu bantuin lo menjauh dari si homo. Bukannya lo juga ngerasa jijik yah sama si ho-"


"Lo sebut sekali lagi gue gak akan segan hajar lo di sini." Potong Vano dingin, saat ini hatinya benar-benar marah karena ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Ai saat mendengar kata-kata mereka berdua.


"Va-Van, lo becandakan?" Tanya Bayu takut, ia benar-benar takut melihat ekspresi kejam Vano saat ini.


Tersenyum dingin, "Huh, becanda?" Tanyanya dengan ekspresi mengejek.


"Bagian mana yang lo lihat bercanda dari wajah gue?"

__ADS_1


Apapun yang bersangkutan dengan Ai bagi Vano itu tidak bisa dibuat sebagai bahan bercandaan. Ai spesial dan karena ia spesial, Vano tidak ingin membuang waktunya untuk mempermainkan Ai.


Bersambung...


__ADS_2