
"Mama tuh khawatir kamu kenapa-napa karena wajah kamu kelihatan pucat banget sekarang, iya kan, Ma?"
"Vano betul, Ai, Tante gak mau kamu kecapean bantu Tante karena Tante tahu kamu sekarang sedang kurang sehat." Ucap Mama Vano membenarkan alasan putranya.
Mereka berdua tidak ingin Ai kelelahan.
Tersenyum malu, kedua pipinya tanpa sadar memerah. "Gak apa-apa kok Tan, lagipula Ai udah merasa baikan kok."
Menghela nafas lembut, Tante bisa mengerti betapa canggungnya Ai di sini. Mungkin dengan membantunya ia bisa lebih santai.
"Baiklah kalau Ai tidak keberatan sama sekali, yau dah ikut Tante yuk ke dapur." Ajak Mama Vano yang langsung diangguki patuh oleh Ai.
Melihat kepergian Mama dan Ai, lantas Vano tidak tinggal diam dan dengan santai mengikuti langkah Mama dan Ai ke dapur.
"Lho, kok Adek ikut ke dapur? Apa enggak sebaiknya kamu nunggu aja di meja makan, kasian lho Ai dari tadi ketakutan liatin kamu." Goda Mama Vano usil kepada putra satu-satunya.
Memutar bola matanya malas, tentu saja Vano tidak terima dengan apa yang Mamanya katakan. Karena Vano tahu sendiri orang seperti apa Ai itu, ia memang penakut tapi jika berhadapan dengannya Ai bukannya takut tapi malah gugup.
__ADS_1
Gugup karena apa itu biarlah hanya Vano seorang yang tahu.
"Vano mau masak air, Ma." Jawab Vano tidak perduli, ia berusaha menjaga wibawanya di depan Ai.
"Tumben anak Mama rajin, biasanya tinggal suruh-suruh Bik Jum kalau mau apa-apa." Goda Mama lagi begitu terhibur dengan wajah kesal putranya.
"Terserah Mama deh, Vano gak dengar." Ucap Vano acuh namun mata tajamnya sesekali melirik Ai yang tertunduk malu. Ia mungkin tidak bisa melihat wajahnya, namun tidak dengan telinganya yang memerah terang.
Beberapa menit kemudian semua piring sudah dipindahkan ke meja makan. Hampir seluruh meja makan dipenuhi dengan berbagai macam makanan yang sehat dan menggiurkan.
Lebih tepatnya, semua ini menu makanan untuk makan siang.
"Udah, kita langsung aja sarapannya biar kalian gak telat ke sekolahnya." Ujar Mama Vano seraya menekan pundak Ai agar duduk dengan tenang di samping kanannya sementara Vano di samping kiri.
"Ini susu hangat kamu, minumnya nanti aja soalnya masih panas." Ucap Vano memperingati seraya memberikan Ai segelas susu hangat.
Terkejut, dengan gugup Ai mengambil gelas tersebut dan mengucapkan terimakasih yang sopan kepada Vano.
__ADS_1
"Cek..cek..jadi Vano masak air buat Ai, lha terus buat Mama mana dong, masa Ai aja yang dapat." Lagi-lagi Mama menggoda putranya, membuatnya menahan malu dan kesal entah mengapa bisa menghiburnya.
"Mama udah tua dan gak cocok lagi minum susu, beda sama Ai yang masih remaja dan butuh asupan tinggi. Minuman nutrisi seperti ini seharusnya setiap hari ia dapatkan." Ujar Vano membenarkan alasannya sendiri.
"Ih, Vano kok jahat sih ngatain Mamanya udah tua?" Rajuk Mama Vano.
Vano masih tetap tidak perduli, "Makan Ma, nanti keburu dingin." Ucapnya seraya menyuap satu sendok besar nasi yang ada di piringnya.
"Tante, kalau mau ambil aja minuman ini karena Ai juga sebenarnya gak terbiasa minum susu sepagi ini." Ai dengan sopan mendorong gelas pemberian Vano ke Mamanya.
"Tante becanda sayang, gak perlu di seriusin. Udah kamu makan aja dan jangan sampai menyisakannya karena asal Ai tahu semua makanan ini khusus Tante buatin buat kamu." Mama Vano mendorong kembali gelas itu dan menjelaskan kepada Ai bahwa ia hanya bercanda saja.
Mama Vano juga sempat terenyuh dengan kepolosan yang Ai punya dan entah mengapa keinginannya untuk membawa Ai tinggal di sini semakin besar dan kuat. Ia takut jika anak sepolos dapat disakiti orang di luar sana.
"Ah.. terimakasih banyak Tante." Sejenak Ai tidak tahu harus mengatakan apapun karena ia pun cukup terkejut mengetahui bahwa Mama sangat memperhatikannya.
Bersambung...
__ADS_1