Dear, Vano

Dear, Vano
8. Menjijikkan


__ADS_3

“Yes, hari ini jam kosong. Kita bebas.”


“Uh..” Aku terbangun setelah mendengar  teriakan yang sudah tidak asing lagi untuk ku. Mereka adalah teman kelas ku tentunya, tidak, sebutan ini tidak tepat. Ini lebih tepat jika di sebut sesama penghuni kelas 12 ips 8 tentunya karena betahun-tahun aku sekolah di sini aku dan mereka tidak lebih dari sekedar orang asing. Aku tidak punya teman, ya, benarnya mereka yang tidak mau berteman dengan ku. Singkatnya kesepian ini sudah aku alami sejak aku kecil jadi tenang saja, aku tidak begitu khawatir  dengan semua ini.


Mengerjapkan mata ku ringan, aku menyesuaikan mataku dengan sinar matahari yang masuk. Setelah terasa nyaman ku edarkan pandangan ku ke setiap sudut kelas. Sudah ramai dan sebagian dari mereka sedang sibuk mengobrol bersama kelompok-kelompok main mereka.


Jadi hari ini benar-benar jam kosong, begitu menguntungkan untuk ku. Bangun dari duduk ku tiba-tiba ku rasakan rasa nyeri yang luar biasa di perut bagian bawah ku. Sebenarnya aku sudah merasakannya semenjak aku bangun dari waktu subuh tadi. Saat itu rasanya tidak sesakit ini dan masih bisa bergerak nyaman. Akan tetapi saat ini rasanya nyeri ini begitu menusuk, membuat ku tanpa sadar mengeluh.

__ADS_1


Mengambil nafas pelan, aku mencoba menghilangkan rasa nyeri ini. Biasanya ketika aku melakukan ini sakitnya akan sedikit berkurang dan menghilang dengan sendirinya. Setelah merasa nyaman dan baikan aku langsung membawa langkah ku keluar dari kelas. Berjalan ke tempat biasanya aku menghabiskan waktu selain perpustakaan.


Melewati koridor sekolah yang ramai, aku membawa langkah ku yang tenang dan santai menuju kursi santai yang sengaja disiapkan sekolah untuk beristirahat. Mendapatinya sepi tak berpenghuni aku tanpa sadar langsung menghela nafas lega. Mendudukkan diriku, aku kemudian membawa langkah ku ke arah lapangan sekolah yang sudah ramai di kelilingi siswa. Mereka terlihat menikmati waktu bersantai mereka bersama teman-teman mereka. Akan tetapi bukan ini yang ingin ku lihat sebenarnya. Mengedarkan pandangan, akhirnya aku menemukan sosok yang ku cari. Dia di sana bersama teman-teman osisnya yang lain.


Hari ini senyumnya begitu cerah tidak sedingin tadi pagi di rumahnya. Bersama mereka ia seakan menjadi orang yang mudah di dekati. Ah, aku melupakannya lagi. Ini memang sikap alaminya bersama orang lain dan tidak untuk ku. Ketika ia melihat ku tidak ada emosi apapun yang terlihat, ini seperti ia membuat jarak yang besar untuk ku.


Ah, lalu di sampingnya ada gadis cantik yang selalu yang mendampinginya kemana pun. Itu Angela, Kakak ku yang cantik dan beruntung. Mengapa aku mengatakan hal itu?

__ADS_1


Lalu bagaimana dengan ku?


Ahahah..sebenarnya ini sangat lucu. Aku tidak punya kualifikasi apapun untuk dapat bersaing dengan Angela yang jauh lebih unggul dari ku. Angela gadis yang cantik sedangkan aku tidak, ia pintar dan aku bodoh, ia sempurna sedangkan aku cacat. Lihat, aku tidak punya apa-apa untuk bersaing dengan Angela. Malahan orang-orang selalu menatap ku penuh jijik, mereka seakan melihat monster dalam diriku.


Jadi aku cukup tau diri untuk tidak bertindak bodoh apalagi merusak kebahagiaan Angela. Cukup seperti ini, menyukainya dalam diam, melihat dan mengaguminya dari jauh. Maka mungkin semuanya akan baik-baik saja untuk semua orang. Dalam menyukai seseorang aku rasa wajar jika ada patah hati dan rasa sakit, apalagi perasaan yang ku rasakan sekarang adalah cinta bertepuk sebelah tangan. Cinta sepihak dan tidak terbalas maka apalagi yang bisa aku rasakan selain rasa sakit dan luka.


Orang bilang mereka akan rela dan bahagia melihat orang yang mereka cintai bersama orang lain asalkan orang yang mereka cintai bahagia. Aturan ini tidak berlaku untuk ku karena cinta itu bagiku serakah dan harus memiliki. Melihat Vano bahagia bersama orang lain tentu saja membuat ku sakit dan terluka. Aku ingin memiliki Vano untuk ku sendiri, aku ingin ia tersenyum hanya untuk ku dan merasa bahagia jika bersama ku. Akan tetapi itu jika Vano juga menyukai ku. Namun faktanya tidak seperti itu, Vano menyukai gadis lain dan gadis yang beruntung itu adalah Kakak ku Angela. Maka apakah sekejam itu aku menghancurkan kebahagiaan mereka hanya karena keserakahan ku. Aku tidak gila memaksakan perasaan kepada mereka dan mereka tidak akan bodoh mau menerimanya. Karena orang-orang bilang aku begitu me-

__ADS_1


“Menjijikkan.”


Ya, mereka bilang aku menjijikkan.


__ADS_2