
"Vano-" Angela berdiri membeku melihat Ai dan Vano datang secara bersamaan. Selain itu ia juga sempat tidak percaya dengan pemikirannya yang konyol, apa iya jika Ai tadi dari kamar Vano?
"Angela? Kamu kok di sini?" Tanya Vano ikut terkejut karena beberapa menit yang lalu ia tidak melihat batang hidungnya, Vano juga yakin ia tidak pernah mengizinkan Angela ke sini.
Suasana hati Angela sudah buruk ketika melihat Ai di samping Vano, ini semakin bertambah setelah ia mendengar pertanyaan Vano tadi. Apa-apaan dengan pertanyaan itu?
Memangnya hanya Ai yang bisa di sini sedangkan ia tidak bisa?
"Aku tuh ke sini mau ketemu sama kamu tapi berhubung Ai juga di sini yah kenapa gak sekalian aja mainnya sama Ai." Ucapnya semanis mungkin, seakan-akan bertemu Ai adalah sebuah keberuntungan.
Ai yang ada di samping Vano hanya bisa tersenyum canggung, ia bingung harus bersikap apa karena orang yang ia anggap awalnya kekasih Vano dan ternyata bukan kini berdiri di depannya.
Yah, meskipun mereka sedarah namun karena perbedaan perlakuan juga karena Ai sudah pisah dari orangtuanya sejak 3 tahun yang lalu, Ai tidak pernah punya komunikasi yang dekat dengan Angela.
Mereka sudah terbiasa jauh.
"Hari ini aku gak bisa pergi main jadi kamu cari yang lain aja." Suara Vano acuh seraya menarik tangan Ai untuk mengikutinya ke meja makan.
"Kamu duduk di sini Ai." Perintah Vano santai sambil menarik kursi yang ada di sampingnya.
__ADS_1
Angela yang ada di belakangnya lagi-lagi diam membeku memperhatikan interaksi Vano dengan Ai. Kursi yang dulunya selalu ia tempati ketika berkunjung ke rumah ini kini ditempati dengan angkuh oleh Ai.
Sejak kapan Ai sedekat ini dengan Vano?
Dan sejak kapan pula Ai bisa dengan mudah memasuki rumah ini, menduduki tempat yang tidak seharusnya dan mendapatkan perhatian yang sebelumnya hanya milik Angela.
"Lho, Angela kok cuma diam saja? Ayo duduk, gabung sama kita di sini. Lagipula kan ada adik kamu juga jadi harus lebih antusias dong makannya."
Tersenyum lembut, Angela memaksakan senyum terbaiknya sambil duduk di kursi samping Mama Vano. Dari sini ia bisa melihat dengan jelas wajah pucat Ai yang asik menunduk tidak berani menatapnya.
"Iya Tan, aku udah lama gak ketemu Ai karena kita udah beda rumah. Jadi, bertemu ia di sini sebenarnya adalah hal yang gak terduga untuk Angela." Ucapnya santai sambil melirik sinis namun samar kepada Ai.
Selama pembicaraan Vano tidak pernah mengatakan apa-apa karena saat ini fokusnya adalah mengirim berbagai macam lauk ke atas piring Ai.
Ai harus makan banyak di sini karena Vano yakin jika Ai kembali ke rumah ia tidak akan perduli dengan pasokan gizinya sendiri.
"Ini.. cukup Vano." Tolak Ai ketika tangan Vano ingin menaruh satu sendok besar lauk ke dalam piringnya.
Ini sudah terlalu banyak dan Ai tidak yakin bisa menghabiskannya.
__ADS_1
"Ah..tapi aku pikir ini masih kurang." Gumam Vano sambil menatap piring makan Ai.
"Iya, kalau itu piringnya kamu sih Papa percaya itu masih kurang, tapi kalau itu piring Ai sih Papa juga percaya itu terlalu banyak." Sindir Papa Vano tidak habis pikir mengapa anaknya begitu ambisius mendekati Ai. Apalagi sampai menjejalkan banyak makanan seperti itu, ini seperti memberikan racun dari pada gizi.
"Makan Pa, gak usah ngomong." Balas Vano bercanda seraya menyendokkan satu suap besar ke dalam mulutnya.
Papa Vano tidak mengatakan apa-apa lagi dan hanya bisa menggelengkan kepalanya terhadap tingkah laku konyol Vano.
"Makan yang banyak Ai biar kamu makin sehat." Pesan Papa Vano mengalihkan perhatiannya pada Ai yang dengan kikuk memasukkan setengah sendok makanan ke dalam mulutnya.
Mengangguk malu-malu, Ai sekali lagi menundukkan kepalanya.
Semua interaksi ini sudah Angela perhatikan sedari tadi. Kedua tangannya meremat kuat sendok dan garpu yang ada di tangannya. Menahan emosi yang terus saja meluap-luap sambil menatap mahluk cacat yang sok polos di depannya kini.
Angela tahu jika manusia cacat ini menyukai Vano dan Angela juga bisa menebak betapa liciknya mahluk cacat ini mendekati Vano hari ini. Pasti ia pura-pura mendatangi Mama Vano dan bertingkah sok polos sehingga membuat Mama Vano jadi tersentuh, apalagi dokter Ares juga merupakan dokter pribadi Ai sehingga bukan tidak mungkin Ai datang mengemis ke dokter Ares dan berakhir ia diizinkan ikut bergabung di sini.
Huh,
Betapa liciknya!
__ADS_1