Dear, Vano

Dear, Vano
21. Segelas Susu Hangat


__ADS_3

Menghentikan laju sepedanya di depan gerbang sebuah rumah mewah yang sudah biasa ia datangi, ia pun menekan bel gerbang untuk izin masuk ke dalam.


“Ayo masuk, neng.” Suara satpam itu ramah  seraya membukakan pintu gerbang untuk Ai lewati.


Mengangguk sopan Ai langsung saja masuk ke dalam halaman rumah tersebut seraya membimbing sepedanya mengikuti langkahnya. Memarkirkan sepedanya dengan cepat, ia kemudian membawa buket besar bunga peony itu ke dalam pelukannya yang hangat. Lalu dengan langkah pelan ia membawa langkahnya ke depan pintu rumah mewah keluarga Vano yang luar biasa.


Mengambil nafas pelan, ia mencoba menenangkan hatinya yang berdebar kencang. Beberapa detik kemudian ia mengangkat tangannya untuk mengetuk pin-


“Mamaku tidak ada di rumah.” Tiba-tiba pintu tersebut langsung terbuka dan menampilkan wajah dingin Vano yang tidak asing juga tampan.


Kaku, Ai dengan malu menurunkan tangannya yang sempat terangkat untuk mengetuk pintu rumah tadi.


“Y-ya, lalu ini bunga yang tante pesan untuk hari ini.” Suara Ai gugup seraya menyerahkan bunga tersebut ke depannya. Berusaha terlihat tenang, ia mencoba mengalihkan tatapannya dari mata tajam Vano yang seakan menelanjanginya.


Ai bisa merasakan betapa tajamnya mata itu walaupun saat ini ia tidak melihatnya karena tubuhnya yang tiba-tiba merinding adalah bukti bahwa Vano sedang mengulitinya tajam.


“Masuk.” Perintahnya seraya memberikan jalan kepada Ai.


Terkejut,”Ya?” Tanyanya tidak yakin dengan pendengarannya sendiri.


“Ayo masuk.” Ucap Vano sekali lagi mengulangi perintahnya.


Ragu,”Tapi aku har-“ Tanpa menunggu ucapan Ai selesai Vano langsung menarik tangan Ai bersamanya dan membawanya ke dalam rumah.


“Duduk dulu di sini.” Perintah Vano seraya mengambil alih bunga tersebut dari pelukan Ai.

__ADS_1


Ai yang masih linglung dengan kejutan pagi ini masih belum menyadari bunga yang ia peluk sudah di ambil alih oleh Vano.


 “Kenapa bunganya tidak ada di sini?” Bingungnya setelah menyadari bahwa bunga tersebut sudah hilang dari pelukannya.


“Tunggu di sini.” Ucap Vano seraya pergi meninggalkan Ai yang masih dalam kebingungan.


“Ah, i-iya.” Ucap Ai gugup seraya menegakkan posisi duduknya. Melihat kepergian Vano bersama bunga tersebut Ai tidak bisa tidak merasa malu karena telah bersikap konyol di depan Vano. Ia sendiri pun tidak bisa menghilangkan rasa terkejutnya dengan sikap Vano yang tiba-tiba seperti ini,  sejenak Ai langsung dibuatnya linglung dan pusing. Ia linglung dan diingatkan kembali oleh sikap Vano yang aneh di kafe kemarin karena waktu itu juga Vano tiba-tiba bersikap seperti ini kepadanya saat bertemu. Membuat Ai kebingungan sekaligus kelimpungan dengan sikapnya.


“Ini, minumlah.” Tiba-tiba Vano muncul lagi bersama segelas susu hangat di tangannya.


Dengan wajah bingung Ai mengambil alih gelas tersebut dari tangan Vano. Membawanya ke dalam genggaman kedua tangannya yang semula dingin kini telah menghangat dan terasa nyaman. ”Ini..”


“Minum.”


“Wajah mu sekarang sudah lebih baik dari sebelumnya.” Suara Vano setelah beberapa kali mengintip wajah malu Ai yang menunduk bersembunyi.


“Hah,” Respon Ai terkejut spontan mengangkat wajahnya menatap Vano yang kini sedang menatapnya juga. Mata hitam yang tajam itu seolah menatapnya sampai ke kedalaman hatinya yang tidak berujung. Ya, untuk sejenak Ai benar-benar terpesona dengan wajah tampan nan tegas Vano yang tidak dapat terbantahkan.


“Uh..terimakasih, Vano.” Ucap Ai dengan suara yang perlahan mengecil. Lagi, Ai tidak bisa menahan pandangannya lebih lama lagi menatap Vano yang begitu tajam dan kuat. Itu seakan Vano sedang menyelami jiwanya ketika ditatap seperti itu oleh Vano.


“Jadi kau mengenal ku sekarang, bukankah kemarin saat di kafe kau bersikeras tidak mengenal ku?” Ada emosi yang lain di sana, begitu dalam dan penuh niat tersembunyi.


Tersentak, Ai perlahan mengangkat wajahnya ragu dan membawa pandangannya ke arah lain. Ia berusaha tidak menatap orang yang ada di depannya ini karena Ai takut Vano dapat membaca pikirannya dan mengetahui isi hatinya yang menjijikkan. Karena bagaimana pun orang hanya tahu bahwa ia adalah laki-laki dan bukan perempuan.


“Maaf, aku tidak terbiasa dengan orang banyak maka dari itu aku bersikap seperti itu kepada mu.” Mengelus lembut sisi gelas yang masih menyisakan setengah susu hangat, Ai tidak bisa menyembunyikan kegugupannya dari pandangan Vano.

__ADS_1


Ya, Vano melihat semua yang ia coba sembunyikan.


“Hem, aku mengerti.” Putus Vano tidak ingin mempersulit Ai.


“Ka-kalau begitu aku harus pergi ke sekolah dulu agar tidak terlambat nantinya.” Meletakkan gelasnya, ia kemudian bangun dari duduknya seraya merapikan baju seragamnya yang agak kusut dan lembab.


“Kau boleh pergi sampai kau menghabiskan air susu mu.”


“Ya?” Ai terdengar linglung.


“Aku bilang habiskan susu mu maka kau boleh pergi.” Ulang Vano dengan sabar.


“Oh, baiklah.” Patuhnya seraya menunduk untuk mengambil gelas yang sempat ia taruh tadi. Lalu dengan gugup ia meneguk habis air susu tersebut, memperlihatkan leher yang jenjang dan putih tanpa noda.


Sesungguhnya ini begitu menguji Vano.


Meneguk ludahnya kasar, “Kau tunggu di sini sebentar.” Perintah Vano setelah Ai menghabiskan susu hangatnya. Berlari cepat ke lantai dua, Vano meninggalkan Ai yang masih di landa kebingungan dan juga perasaan bahagia yang terus saja meluap di dalam hatinya.


Melihat kepergian Vano, Ai tanpa sadar meraba dadanya kuat. Merasakan suara detak jantungnya yang begitu besar dan cepat, betapa takjub Ai di buatnya. Apalagi perasaan ini tidak menimbulkan rasasakit seperti kemarin tetapi sebuah perasaan manis yang tidak bisa Ai jelaskan dengan kata-kata di pikirannya.


Karena yang ia rasakan hanya satu, “Ah, apakah ini perasaan bahagia?”


Ya, sebuah perasaan manis yang tidak bisa ia  jelaskan ini adalah perasaan bahagia yang terus meluap-luap di dalam dirinya. Ini adalah pertama kalinya ia benar-benar merasakan perasaan ini dan ia begitu bersyukur akan itu.


“Hem, mungkin ini adalah perasaan yang mereka bilang sebagai bahagia.” Gumamnya bahagia menerka-nerka.

__ADS_1


__ADS_2