
"Kamu kenapa Ai?" Vano khawatir jika ada sesuatu yang terjadi dengan Ai, tapi..tapi apa yang bisa menyakiti Ai di sini karena tidak ada satupun orang ditempat ini kecuali mereka berdua.
Ai tersenyum tipis seraya menggelengkan kepalanya, "Aku gak kenapa-napa kok Vano, aku cuma udah ngerasa mulai ngantuk aja. Seharian ini kan aku diluar jadi gak sempat tidur siang." Elaknya memberikan alasan.
Ia adalah pekerja paruh waktu dan tentu saja tidak pernah tidur siang, namun Vano tidak pernah berpikir sampai sejauh ini dan menerima begitu jika Ai sedang mengantuk.
"Okay, tapi sebelum kamu tidur harus pakek salep dulu." Syarat Vano yang langsung diangguki cepat oleh Ai. Mengambil alih salep yang ada ditangan Vano, Ai lalu dengan hati-hati mengoleskannya setara mungkin di atas perutnya. Anehnya salep ini bekerja sangat cepat karena hanya beberapa menit saja itu langsung mengering.
"Sekarang balik badan kamu, gak apa-apa sambil tiduran biar enak nantinya aku olesin di punggung." Ai tidak banyak bicara, membalikkan badannya ia lalu tidur dengan memunggungi Vano.
Lagi-lagi Vano tidak banyak berpikir ketika melihat Ai yang terlalu patuh, malah karena ini sudah malam jadi Ai semudah ini berurusan dengannya.
Mengangkat baju Ai di atas punggung sampai memperlihatkan memar yang masih segar di sana, pasti rasanya sangat sakit jika disentuh. Tapi untung saja salepnya dingin atau kalau tidak Ai pasti akan mengeluh kesakitan.
Mengambil salep dari botolnya, Vano kemudian dengan hati-hati mengolesinya di atas punggung. Mengolesinya dengan tenang dan sesantai mungkin meskipun sebenarnya saat ini Vano masih saja terpesona menemukan punggung Ai terlalu putih dan lembut.
Terlalu cantik!
"Ai?" Panggil Vano lembut, ia pikir Ai tidak akan menjawab tapi nyatanya Ai merespon panggilan Vano.
"Iya?" Jawab Ai dengan suara yang teredam.
__ADS_1
Vano tersenyum, "Ai, aku mau bilang sesuatu sama kamu." Ucap Vano sambil fokus mengoles salepnya.
"Iya, bilang aja." Ujar Ai tidak keberatan sama sekali.
"Ai, ada seseorang yang membuat aku jatuh cinta di keluarga kamu." Lapor Vano lembut, menceritakan bagian masa lalunya kepada Ai dengan santai.
Meremat tangannya kuat menahan sakit, "Benarkah?"
Vano spontan mengangguk, seolah-olah Ai bisa melihat gerakannya.
"Benar Ai, aku bahkan berjanji untuk memberikannya cincin setelah kami lulus SMA dan menjalin hubungan yang lebih serius dengannya. Dan jika waktunya tiba, aku akan melamarnya di depan banyak orang sehingga ia malu untuk menolak ku. Setelah itu kami akan menikah dan tinggal bersama, mempunyai anak hasil dari cinta kami dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Bagaimana menurutmu?" Tanya Vano penasaran dengan pendapat Ai.
Meniup pelan punggung Ai yang mulai mengering salepnya, Vano kemudian menutupnya kembali dengan pakaian Ai dan menarik selimut hangat untuk menutupi badan Ai dari dinginnya malam.
Angela benar dan Ai hanya menipu dirinya sendiri. Vano menyukai Angela dan bahkan sudah merencanakan kehidupan yang indah bersama Angela. Mengapa aku senaif ini?
"Sepertinya kamu sudah sangat mengantuk." Vano bangun dari duduknya, mematikan lampu agar Ai bisa merasa lebih nyaman saat tidur.
"Aku ke dapur sebentar yah, makanan ringannya belum aku masukin ke tas." Izin Vano pada Ai namun setelah beberapa menit menunggu responnya, Ai sama sekali tidak mengatakan apapun.
Jadi Ai sudah tertidur, pikirnya lalu turun ke bawah sesuai dengan apa yang ia katakan tadi.
__ADS_1
Begitu Vano pergi Ai akhirnya bisa mengeluarkan isaknya, rasanya sangat sesak memendamnya seperti itu.
"Hiks.. mengapa aku bodoh sekali?" Suaranya penuh penghinaan pada dirinya sendiri.
"Tentu saja mereka akan bersama, memangnya jika Vano tidak bersama Angela lalu apa?" Mengubur kembali wajahnya di dalam bantal yang penuh dengan wangi Vano.
"Itu tidak seperti Vano akan bersama ku hiks..ada banyak gadis cantik yang menarik perhatian Vano." Suaranya mengejek.
"Tapi..tapi itu tidak terjadi karena satu-satunya perempuan dikeluarga ku adalah Angela. Hiks..dia selalu beruntung seperti ini.." Gumamnya sedih, menenggelamkan perasaan sakitnya dalam diam yang amat sangat menyiksa. Ia bahkan sulit bernafas dibuatnya, karena ketika bernafas seolah-olah hatinya disayat benda tajam. Begitu perih dan menyakitkan, Ai baru kali ini merasakan perasaan sesakit ini. Mungkin.. mungkin karena Vano sendiri yang mengakuinya bahwa ia memang menyukai Angela.
"Sampai kapan aku harus seperti ini?"
"Sampai kapan kamu harus terjebak di dalam perasaan bodoh ini, Ai!"
...🍃🍃🍃...
"Kalian hati-hati ya di sana, kalau ada apa-apa langsung hubungi Mama dan Papa." Teriak Mama Vano ketika mobil Vano sudah keluar dari gerbang rumah.
"Siap, Ma!" Teriak Vano dari luar jendela mobil, melambaikan kedua tangannya dari dalam.
Setelah itu suasana di dalam mobil terasa canggung, tidak ada orang yang bersuara sehingga membuat supir Vano mau tidak mau ikut tegang.
__ADS_1
Vano tidak tahu mengapa tapi Ai sepertinya sedang dalam suasana hati yang buruk, ia bahkan menolak untuk menatapnya ketika mengobrol di rumah tadi. Jika pun mereka mengobrol Ai hanya meresponnya secara singkat, ini seolah-olah Ai sedang menjaga jarak darinya.
Apakah ia gugup?