
Tubuhnya kurus dan tidak berdaging, Ai juga lemah dan mudah sakit jadi Vano bisa menebak saat Ai mendapatkan pukulan itu mungkin ia sangat kesakitan. Kesakitan dengan pukulan mereka dan Vano juga yakin jika kedua orang ini tidak akan terpengaruh oleh tangisan kesakitan Ai, Hem, mereka memang tidak akan terpengaruh.
Memikirkannya terus menerus membuat wajah Vano tiba-tiba mengeras, kedua tangannya bergetar karena marah dan emosi. Ia ingin membalasnya, ia ingin membalas mereka, ia ingin apa yang Ai rasakan dirasakan juga oleh mereka!
Maka dari itu tanpa mengatakan apa-apa Vano langsung mengangkat kakinya dengan gaya karate, mengerahkan tenaganya pada kakinya yang langsung mengenai punggung Rendi yang tidak sempat melakukan apa-apa.
Bugh
Rendi langsung terlempar di bawah pohon, teriakannya yang putus asa menunjukkan bahwa punggungnya benar-benar kesakitan. Kedua matanya bahkan mulai memerah ingin menangis merasakan betapa tidak nyaman punggungnya.
Mereka berdua kesakitan dan hanya bisa mendesah sakit merasakan bagian masing-masing. Vano tersenyum miring melihatnya namun masih belum puas. Ia juga ingin meninju wajah menyebalkan mereka akan tetapi ia tahu bahwa ia tidak bisa. Jika ia memukul wajah mereka maka itu sama saja melaporkan perbuatannya kepada pihak sekolah.
__ADS_1
"Ini adalah bayaran untuk semua yang kalian lakukan kepada Ai. Untung saja kita sedang berkemah karena jika tidak-" Vano menunjuk bagian wajah masing-masing dengan niat yang buruk.
"Wajah kalian akan mendapatkan bonus spesial dariku." Ucapnya senang dan agak terhibur dengan ekspresi ketakutan mereka berdua.
Menepuk pakaiannya bersiap pulang ke tenda, Vano lalu teringat dengan kekesalannya yang masih belum terpuaskan. Jadi karena masih belum puas Vano lalu memutuskan untuk menambah penderitaan mereka berdua.
"Karena malam ini ada api unggun kita harus membutuhkan kayu bakar. Jadi, berhubung kalian berdua di sini aku ingin kalian mencari kayu bakar untuk malam ini. Jangan mencoba berpikir yang macam-macam berniat kabur atau melapor kepada guru karena sudah pasti akulah yang akan menang. Aku punya rekaman cctv perbuatan kalian sedangkan kalian berdua hanya bisa mengatakan omong kosong. Baiklah, aku akan menunggu di depan tenda Osis jadi bersenang-senanglah." Setelah mengatakan itu Vano langsung meninggal mereka berdua yang masih kesakitan di tempat dengan suasana hati yang sudah baik.
"Tunggu!" Teriak Bayu yang kini sudah terduduk di atas tanah menahan sakit. Wajahnya yang pucat dan berkeringat menunjukkan bahwa pukulan yang Vano berikan kepadanya tidak main-main. Itu sangat kuat dan menyakitkan!
Vano menghentikan langkahnya, ia mengalihkan pandangannya melihat Bayu yang sedang duduk lemah di atas tanah.
__ADS_1
"Hem?" Responnya dengan senyuman tampan yang sudah tercetak alami diwajahnya. Biasanya Bayu tidak akan merasakan apa-apa melihat senyuman ini akan tetapi kali ini ia merasakan perasaan terancam.
Mencetak sebuah pikiran di kepalanya bahwa di masa depan ia harus menjaga jarak dari Vano atau kalau tidak hal seperti ini akan terjadi lagi kepadanya.
"Kenapa lo belain dia padahal semua orang tahu kalau lo risih ditempeli terus sama Ai." Untuk berjaga-jaga Bayu tidak lagi menghina nama Ai namun langsung mengatakan namanya dengan benar. Ia takut jika mengatakan hal yang salah lagi Vano akan melayangkan gelombang kedua padanya.
Bayu sebenarnya penasaran kenapa Vano membantu Ai padahal semua orang tahu bahwa Vano tidak menyukai Ai bahkan risih ditempeli terus. Apakah Vano terpaksa melakukan ini karena Angela atau karena dipaksa oleh Ai?
"Kamu salah Bayu, Ai gak pernah nempeli aku karena yang selama ini ngejar-ngejar Ai adalah aku." Bantah Vano terdengar santai, sama sekali tidak merasa malu mengungkapkan dirinya di depan orang lain.
"Ah..." Sejenak Bayu tidak bisa mengatakan apapun dan hanya bisa menatap bodoh Vano yang masih tersenyum tampan.
__ADS_1