
Tertegun, Ai bisa merasakan jika jantungnya sedang berpacu kuat di dalam dadanya. Bertanya-tanya, hal apa yang ingin ditanyakan Vano kepadanya.
Ragu, "Boleh." Namun tetap saja ia tidak bisa menolak jika itu Vano. Baginya Vano adalah segalanya sehingga kata 'tidak' untuk Vano adalah sesuatu yang sangat tabu untuk ia katakan.
"Kasus pembulian yang kamu dapatkan di sekolah, mengapa tidak kamu katakan kepada orang tuamu. Karena jika sekolah bungkam maka setidaknya orang tua mu menuntut keadilan untuk mu." Vano tahu mungkin Ai tidak nyaman membahas topik ini mau bagaimana lagi, Vano hanya ingin mengkonfirmasi sesuatu.
Diam, kedua mata persik Ai yang indah diam-diam memandangi langit-langit tenda. Sejenak ia dibawa kembali ke hari dimana kedua orang tuanya memberikannya kebebasan untuk hidup diluar.
Yah, hidup diluar sama dengan mendorong Ai jauh dari pandangan mereka. Menjauh dari pandangan semua orang yang mengenal keluarganya, ini... Ai tahu agar keluarganya tidak malu mempunyai anggota seperti dirinya yang terlahir cacat dan menjadi aib yang memalukan.
Hampa sekali rasanya, hatinya kosong dan cemburu melihat keharmonisan keluarga anak lain. Misalnya seperti keluarga Vano, mereka hidup dalam keharmonisan dan tidak terganggu dengan kehadirannya di tengah-tengah mereka. Membuat Ai bertanya-tanya mengapa mereka tidak terganggu sedangkan keluarganya sendiri yang mempunyai hubungan darah dengannya terganggu dengan kehadiran Ai.
__ADS_1
Kenapa?
"Itu karena.." Mereka tidak akan perduli.
"Aku ingin hidup mandiri. Aku tidak ingin melibatkan keluarga ku dalam masalah sepele ini." Lanjutnya setelah membuang keraguan yang sempat merayapi hatinya.
Vano diam membisu, diam-diam matanya melirik Ai yang masih fokus memperhatikan langit-langit tenda mereka. Menilai sikap Ai yang terlihat kesepian, Vano menduga bahwa mungkin tebakannya memang benar jika ada sesuatu yang salah dari keluarga Ai. Hidup sendirian dan bahkan mencari pekerjaan paruh waktu untuk menghidupi dirinya sendiri, Vano seharusnya bisa menebak dari awal bahwa Ai pasti ditinggalkan oleh keluarganya.
Merasa bersalah, Vano lalu menggeser tangannya untuk lebih dekat lagi dengan tangan kiri Ai. Menguatkan mentalnya, ia lalu meraih tangan Ai dengan gerakan sealami mungkin. Menyelipkan jari-jari Ai ke dalam genggaman tangannya yang penuh akan kehangatan dan kasih sayang. Vano bisa merasakan jika tangan Ai menjadi kaku saat ia sentuh namun Vano tidak terlalu memperdulikannya karena jika ia tidak bisa lebih dekat dari Ai hari ini mungkin ia akan kesulitan mendekati Ai di masa depan.
Tertegun dengan kata-kata penghiburan Vano, tangan kiri Ai lalu mengeratkan genggaman tangannya di dalam tangan Vano. Menyampaikan betapa bahagianya ia saat ini setelah menerima perhatian khusus Vano meskipun itu sederhana.
__ADS_1
Hem, tangan mereka berdua kini sedang terikat dan entah mengapa perasaan sesak dihatinya kini mulai terhapus digantikan sebuah perasaan manis.
"Vano, terimakasih." Ucapnya setelah terdiam lama menikmati kehangatan Vano.
Hem, terimakasih Tuhan.
...🍃🍃🍃...
"Sebentar," Dokter Ares berjalan menjauh dari rekannya setelah mendapatkan sebuah pesan dari Vano. Khawatir jika putranya mendapatkan sesuatu yang buruk di kota lain, ia lalu segera membukanya dengan waktu yang singkat.
Pa, apakah Ai bisa hamil?
__ADS_1
Dokter Ares, "....." Ia bertanya-tanya sejak kapan pikiran putranya menjadi seperti ini?
Hamil, tentu saja Ai bisa hamil. Bukankah dia spesial-oh astaga, jangan-jangan Vano sudah melakukan sesuatu kepada Ai. Memikirkan ini Dokter Ares langsung panik karena hei, Ai terlalu polos untuk dicabuli putranya sendiri yang tengil. Karena khawatir Vano menodai calon menantunya maka langsung saja Dokter Ares menghubungi putranya sebelum sesuatu yang tidak diinginkan terjadi!