Dear, Vano

Dear, Vano
47. Bioskop


__ADS_3

"Vano, kita ke sini mau beli apa?" Tanyaku bingung karena setelah masuk ke mall, Vano membawa ku masuk ke bioskop.


Ini... apakah orang yang berkemah perlu menonton bioskop?


Tapi, kami akan berkemah di dalam hutan dan dipastikan untuk mengadakan acara nonton bioskop bersama sulit. Selain peralatan yang cukup berat dan beresiko rusak ditengah hutan, kami juga harus menyiapkan listrik.


Ini seperti kami tidak melakukan kemah.


"Kita ke sini mau beli tiket," Ucapnya sambil menarik tanganku melihat poster-poster film yang ditayangkan bioskop.


"Kamu mau nonton film yang mana?" Tanyanya sambil menatapku.


Aku yang masih belum siap ditatap dadakan olehnya tentu saja tidak bisa mengeluarkan suara sejenak. Ini adalah pertama kalinya aku berkunjung ke bioskop dan itu bersama dengan Vano, laki-laki yang ku sukai.


Apa ini pantas disebut sebagai kencan?


Meremat kedua tangan ku merasa deg-degan, kedua mataku tanpa sadar berpaling darinya. Berpura-pura melihat poster film animasi yang sedang trend sekarang.


"Aku..mau yang ini." Ujar ku seraya menunjuk animasi tersebut. Sudah lama aku ingin menontonnya dan ini adalah season duanya. Menurut artikel yang pernah ku baca, animasi ini berhasil menarik banyak perhatian orang saat awal penayangan. Bukan hanya anak kecil yang menjadi tujuan pasarnya, namun orang-orang dewasa pun juga termasuk.


Yah, animasi ini memang luar biasa saat aku menonton trealernya dulu. Season satunya saja sukses apalagi season duanya.


Tapi, dengan hati-hati aku melihat Vano. Aku ingin tahu ekspresi apa yang akan ia perlihatkan saat ini. Apakah ia akan merasa aneh jika aku ingin menontonnya?


Karena yah..aku..aku adalah laki-laki dimatanya, jadi apakah ia merasa aneh melihat pria seperti ku ingin menonton animasi yang memang diperuntukkan bagi kalangan wanita.


"Okay, kita akan nonton yang ini." Setujunya langsung diluar ekspektasi ku.


Aku tidak menduga jika ia akan setuju begitu saja.


"Kamu tunggu di sini dulu yah sementara aku mau beli tiket dulu, jangan kemana-mana." Pesannya.


Setelah menganggukkan kepalaku Vano langsung bergegas pergi ke loket pembelian tiket. Dari sini aku bisa melihat orang yang mengantri di sana cukup ramai. Kebanyakan dari mereka adalah pasangan yang ingin berkencan, ada juga anak-anak yang lebih dominan perempuan.


Di atas kepala mereka ada bando salah satu pemeran animasi yang akan kami tonton, sepertinya kami akan bertemu dengan mereka.

__ADS_1


"Ekhem.." Aku terkejut melihat ada orang lain di samping ku.


Sejak kapan mereka ada di sini?


"Hei," Sapanya sok akrab seraya lebih dekat dengan ku.


Menggeser posisi ku menjauh darinya, "Ya?" Bingung ku melihat laki-laki ini tiba-tiba mendekati ku.


"Boleh kenalan?" Tanyanya sambil tersenyum manis.


Aku tidak tahu harus merespon apa dengan laki-laki ini karena menurut ku ini terlalu tiba-tiba.


"Aku Dimas dan ini adalah adik ku, Rafa." Ucapnya memperkenalkan diri secara langsung karena mungkin ia tahu betapa canggungnya aku sekarang.


Ah, bukan canggung tapi lebih tepatnya takut!


Mereka terlihat begitu.. menakutkan untuk ku karena yah.. mereka adalah laki-laki lalu mengapa tiba-tiba mendekati ku yang berfisik sebagai laki-laki!


Itu tidak mungkin jika mereka.,.


"15 menit lagi kita masuk," Suara Vano dingin, ia tiba-tiba sudah berdiri saja di samping ku.


Ia datang dengan kedua tangan yang sudah penuh oleh dua minuman khas bioskop dan satu popcorn rasa karamel yang manis. Melihatnya saja sudah membuat ku ngiler!


"Jadi ada baiknya kita menunggu di kursi tunggu." Lanjutnya seraya menyerahkan popcorn tersebut ke dalam pelukan ku. Dengan antusias aku mengambil alih popcorn tersebut, melupakan perasaan takut yang sempat menghampiri ku saat berhadapan dengan dua laki-laki ini.


Ah, wangi karamel yang lengket dan manis langsung menerpa hidung ku, membuat ***** ku untuk bergegas mengunyahnya semakin-


Deg


Tertegun, tubuh ku tiba-tiba terasa kaku. Di belakang ku atau tepatnya di atas punggung ku, tangan besar nan hangat Vano bersarang di sana.


Dengan malu-malu aku mengangkat kepalaku, menatapnya ragu.


Ia balas menatap ku tersenyum, "Ayo." Ajaknya seraya membawa ku menjauh dari kedua laki-laki tersebut. Aku tidak tahu bagaimana ekspresi mereka saat ini karena sejak Vano memberikan aku popcorn yang sedang bersarang di pelukan ku, maka di saat itu pulalah aku tidak perduli lagi dengan mereka.

__ADS_1


Sesampainya di kursi tunggu sudah ada beberapa orang yang duduk di sana. Untungnya kursi tunggu itu panjang sehingga aku dan Vano bisa duduk lebih jauh dari orang-orang itu.


"Kamu gak diapa-apain sama mereka kan Ai?" Begitu duduk Vano langsung menanyakan ini kepadaku.


"Aku gak diapa-apain kok sama mereka." Jawabku jujur.


Lagipula mereka hanya ingin kenalan dan Ai pun tidak merespon mereka dengan seharusnya, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Setelah itu Vano tidak mengatakan apa-apa lagi kepada ku, ia terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri. Mungkin ia memikirkan acara besoknya yang sekaligus menjadi acara terakhirnya sebagai ketua OSIS. Yah..aku juga paham jika Vano mungkin merasa berat meninggalkan jabatannya yang sudah dua tahun ia emban.


"Ai," Panggilnya.


"Ya?" Jawabku seraya menatapnya.


"Lain kali jika kamu keluar poni ini harus lebih rapat lagi nutupin mata kamu, juga kacamata ini tidak boleh kamu lepaskan kecuali jika itu hanya ada aku di samping mu." Ucap Vano lembut seraya memperbaiki poni ku lebih rapat lagi menutupi sebagian kacamata ku.


Deg


Deg


Deg


Wajahku terasa hangat, aku bisa merasakan nafas panas Vano menerpa wajahku. Bahkan wajah Vano begitu dekat dengan ku, dekat sampai aku takut mengedipkan mataku. Jika aku sampai mengedipkannya maka hal yang akan ku lihat selanjutnya adalah lingkungan kamar sunyiku yang ada di apartemen.


Aku takut semua ini hanya mimpi.


Dan aku lebih takut jika aku akan terbangun dari mimpi ini, rasanya begitu manis.


"Ai...Ai?"


"Y-ya?" Jawabku tergagap.


Ia tersenyum lembut seperti biasanya, "Ayo kita masuk sebelum filmnya di mulai." Ajaknya sambil bangun dari duduk.


"Ah..ya." Dan aku baru sadar jika sedari tadi orang-orang sudah masuk ke dalam bioskop. Hanya ada beberapa saja di sini selain kami berdua.

__ADS_1


__ADS_2