
Ah, itu 6 tahun lalu ketika neneknya memasak di dapur. Saat itu Ai masih kelas 6 SD dan lebih banyak tinggal bersama kakek dan neneknya. Mereka berdua sudah seperti orang tua Ai saja karena perawatan dan perhatian yang Ai dapatkan dari mereka lebih baik dari orang tua kandungnya sendiri.
Karena mereka ada Ai tidak merasa terlalu kesepian meskipun di sekolah ia tidak punya teman untuk bermain. Namun ketika pulang ada kakek dan neneknya yang akan menyambutnya, memberinya perhatian dan membuatnya lupa akan luka yang ia dapatkan dari teman-teman sekolahnya.
Dari sekolah dasar, Ai sudah menjadi bahan bulian yang selalu berlangganan. Bahkan teman-temannya yang dulu sering membuli masih tetap membulinya di sekolah jika bertemu.
"Ai, jangan melamun di sini nanti kamu kena cipratan minyak goreng." Tegur Vano panik ketika melihat sorot mati yang terlihat kosong dan tidak berkedip.
Sontak Ai tersadar dari lamunannya dan menatap Vano terkejut.
"Kamu duduknya jauhan dikit." Vano lalu menggeser kursi yang Ai duduki menjauh dari wajan. Spontan membuat kedua tangan Ai dengan panik berpegangan pada pundak kuat Vano, ia takut jatuh karena memarnya masih belum sembuh.
Namun itu hanya beberapa detik karena setelah itu Ai dengan tahu diri menyingkirkan kedua tangannya dari pundak kuat Vano dan menguatkan tekad seraya berdoa agar jangan sampai jatuh.
"Ini...ayam gorengnya gimana?" Tanya Ai bingung karena jaraknya dengan wajan ayam goreng itu sangat jauh, ia tidak bisa mengawasinya jika seperti ini.
__ADS_1
"Biar aku aja, aku kan cowok." Jawab Vano seraya berdiri di samping wajan, mengawasi ayam goreng kesukaannya yang sedang dalam proses pematangan.
Ai yang tidak jauh dari Vano tiba-tiba membeku kaku setelah mendengar jawaban Vano. Mungkinkah Vano tahu jika ia bukan laki-laki?
Jika tidak, lantas mengapa Vano mengatakan itu?
Seakan-akan di mata Vano, Ai bukan laki-laki.
"Kamu kemarin kenapa gak ke sini?" Tiba-tiba suara Vano menjadi serius, membuat suasana menjadi canggung.
"Aku..aku kemarin ada urusan mendadak." Jawab Ai berbohong, tidak ingin Vano tahu apa yang telah terjadi kemarin.
Memangnya kenapa jika Vano tahu?
Benar, memangnya kenapa ia harus menyembunyikan ini dari Vano? Mereka bukan siapa-siapa dan tidak punya hubungan apapun.
__ADS_1
"Urusan mendadak, yah." Suara Vano dingin.
Entah mengapa Ai selalu merasa jika semakin Vano bersuara semakin suram auranya.
"Kalau ada urusan mendadak seharusnya kamu telpon ke aku, bilang kalau gak bisa datang ke sini biar Mama gak nungguin. Aku bahkan harus nelpon kamu berkali-kali biar ada kejelasannya, tapi satupun telpon dari aku gak kamu angkat. Bukan hanya itu, gara-gara kamu kemarin aku harus bolak balik keliling sekolah nyariin kamu, tapi tetap aja kamu gak ada di mana-mana. Lain kali kamu gak boleh ulangin kebiasaan buruk ini di masa depan." Kesal Vano.
Bagaimana ia tidak kesal jika kemarin ia mati-matian nelpon Ai tapi tidak ada satupun yang direspon. Tidak hanya itu ia juga harus bolak balik keliling sekolah untuk nyari orang ini, ia takut jika Ai diapa-apain di sekolah. Takut sampai ia sendiri tidak bisa berpikir jernih.
Meskipun terkejut mendengar kekesalan Vano, namun Ai juga menjadi semakin bersalah karena gara-gara dirinya Vano harus dimarah Mamanya. Membuat Vano harus capek ke sana kemari untuk mencarinya.
Ai juga tidak pernah memainkan handphonenya hari ini sehingga ia tidak tahu jika Vano sudah menghubunginya berkali-kali.
"Maaf, aku tahu aku salah." Hanya ini yang bisa Ai katakan sekarang.
Ia tidak bisa membela dirinya di depan Vano karena dari awal memang yang salah di sini adalah Ai.
__ADS_1
"Terus kenapa hari ini kamu gak masuk sekolah? Tanpa keterangan lagi." Untuk memastikan keadaan Ai, Vano harus datang pagi-pagi ke sekolah.