Dear, Vano

Dear, Vano
9. Homo Lemah


__ADS_3

“Homo ini benar-benar tidak sadar diri, menyukai seseorang yang sudah mempunyai pasangan. Lihat mata genitnya itu yang terus saja menatap Vano dengan tatapan cabul. Hah, jika Vano adalah aku maka hal pertama yang aku lakukan adalah memukulnya sampai puas.” Aku tau, kalian tidak perlu memberitahu ku tentang hal ini karena aku tau betul betapa menjijikkannya aku.


“Rio sayang, kamu gak boleh gitu. Kasian tau dianya kamu bully terus, daripada kamu bully mending kamu ajak pacaran deh. Siapa tau kamu nyaman.” Aku menundukkan pandangan ku, memilih menatap dinginnya lantai yang sebenarnya tidak menarik sama sekali.


“Anjir Vi, kamu ngomongnya jangan gitu dong. Badan aku sampai merinding tau dengar omongan gak masuk akal kamu.” Meremat kedua tangan ku takut, aku ingin sekali rasanya pergi dari tempat ini. Padahal aku sudah biasa mendapat dan mendengarkan kata-kata seperti ini tapi tetap saja rasanya selalu sakit dan menyesakkan.


“Bener tuh kata si Vivi, coba aja Rio siapa tau lu ketagihan.”


Tuhan,  ini sangat sakit.


“Sialan, dasar cewek-cewek sakit. Daripada lu lempar ke Rio, mending lu lempar aja ke Vano. Siapa tau dia minat.”


Tidak, kalian tidak boleh melakukan itu. Kalian-


“Woi Van, ada yang nyariin nih. Kasian tau dari tadi ngeliatin lo mulu.”


Deg


Aku mengangkat wajah ku spontan, menatap Vano yang kini sedang menatap aneh diriku. Tetap saja, rasanya tetap sakit meskipun aku tau respon ini yang akan aku dapatkan. Mengalihkan pandangan ku, aku kemudian berdiri dari tempat duduk ku. Berjalan ke tempat biasanya aku menghabiskan waktu. Menghela nafas, aku mencoba terlihat tenang dan sekuat tenaga menahan air mata yang sudah mengaburkan pandangan ku.

__ADS_1


Sesampai ku di depan perpustakaan, aku langsung mendudukkan diriku di tempat yang sepi dan tersembunyi. Bersyukur jika perpustakaan tidak seramai hari biasanya sehingga aku bisa menenangkan hati ku dengan nyaman.


“Tidak, kalian salah.” Sesuatu yang hangat mengalir lembut di kedua pipi ku.


“Aku memang cacat tapi aku tidak pernah punya pikiran sekotor itu.” Bahkan sekalipun aku menyukai Vano aku tidak pernah sampai berpikir untuk serakah karena atau aku punya batasan.


“Aku lelah, sungguh.” Aku begitu lelah menghapi perasaan ini tapi hati ku selalu menolak untuk melupakan. Padahal rasional ku sudah menyadarkan bahwa aku tidak punya apapun untuk dilakukan tapi hati ku seakan acuh terhadap fakta semua ini. Hati ku tidak ingin berhenti berharap.


Tuhan, aku justru merasa malu dengan diri ini yang masih belum mengerti kekurangannya.


...🍃🍃🍃...


“Uhh..ini sakit.” Aku mengeluh ketika merasakan nyeri pada perut bagian bawah ku datang lagi. Kali ini sekuat apapun aku menarik nafas untuk menghilangkan rasa nyeri yang ada di perut ku, itu tidak berguna sama sekali. Justru rasanya akan semakin jelas dan menyengat seolah-olah ada benda tajam di dalam sana sedang menggaruk perut bawah ku. Begitu menyengat dan sakit rasanya, seakan-akan tenaga ku di sedot habis.


Menguatkan diriku dengan tekat, aku kemudian membawa langkah kaki ku keluar dari perpustakaan. Meskipun tidak secepat biasanya aku cukup bersyukur dapat berjalan normal seperti biasanya.


Sesampai di kelas, masih terlihat seperti terakhir kali aku tinggalkan, suasananya cukup ramai dan hidup. Meraih tas punggung ku dengan cepat aku kembali membawa langkah hati-hati ku menyusuri koridor sekolah, kali ini tujuan ku adalah ruang BK. Bimbingan dan Konseling sudah biasa dengan kehadiran ku setiap bulannya. Tidak, aku tidak berbuat nakal atau terlibat perkelahian. Aku hanya punya suatu kesulitan yang selalu menyulitkan ku setiap bulan dengan jadwal yang tidak pasti.


Tok

__ADS_1


Tok


Tok


Aku mengetuk pintu pelan, tidak ingin membuat orang-orang yang ada di dalam terganggu. Lagipula aku sudah tidak punya tenaga ekstra untuk sekedar mengetuk pintu lebih keras lagi. Tenaga ku untuk saat ini hanya untuk kaki ku agar dapat berjalan dengan mudah.


“Masuk.” Suara seseorang yang sudah tidak asing lagi mengizinkan ku masuk.


Mendorong pintu, “Permisi-“ Suara ku langsung tertahan begitu melihat Vano juga ada di dalam. Ia terlihat sedang berdiskusi bersama Pak Roni, mungkin ini mengenai program terakhir osis untuk jabatannya yang sebagai ketua osis segera berakhir.


“..Pak.” Lanjut ku mengecilkan suara ku. Aku tidak ingin menganggu diskusi mereka jadi tanpa menunggu respon dari Pak Roni langsung saja ku bawa langkah ku ke meja Bu Dewi yang sedang sibuk mengurus beberapa dokumen.


“Siang, Buk.” Sapa ku sesopan mungkin.


Bu Dewi mengangkat wajah cantiknya melihat ku, kemudian sebuah senyuman cantik terbit di bibirnya.


“Ai, silakan duduk.” Perintahnya seraya merapikan dokumen-dokumen tersebut.


Mendudukkan diriku, aku merasakan perasaan di awasi. Ah, orang gila mana yang akan mengawasi ku. Lagipula di ruangan ini kami hanya berempat dan tidak ada orang lain selain kami. Jadi jika aku berpikir bahwa Pak Roni bahkan Vano yang sedang memperhatikan ku bukankah seharusnya aku sudah gila?

__ADS_1


“Tunggu sebentar, ya.” Ucap Bu Dewi langsung pergi meninggalkan ku tanpa menunggu jawaban atau respon apapun dari ku. Diam, aku hanya bisa menunggu kedatangan Buk Dewi dengan tenang. Tuhan tahu apa yang sebenarnya aku rasakan sekarang. Berada satu ruangan bersamanya dan menghirup udara yang sama di sini membuat ku entah mengapa merasa gugup dan berdebar. Ini memang menegangkan tapi bohong jika ku katakan bahwa aku tidak menyukainya. Aku menyukainya walau hanya seperti ini karena aku hanya bisa menyukainya dengan diam-diam seperti ini.


Tapi, mengapa perasaan di awasi ini semakin jelas saja rasanya. Ini seperti orang itu sedang menatap ku dengan rakus?


__ADS_2