Dear, Vano

Dear, Vano
29. Sarapan Bersama


__ADS_3

Setelah beberapa menit akhirnya ia sampai dengan lancar ke rumah Vano. Hari ini langit cerah dan berawan sehingga jalanan tidak licin, mempermudah Ai untuk melanjutkan perjalanannya.


"Permisi, Pak." Sapa Ai sopan pada satpam yang menjaga gerbang rumah Vano.


"Silakan, masuk Mas." Sapa balik satpam itu ramah seraya mempersilakan Ai masuk ke dalam halaman rumah.


"Terimakasih." Sopannya sambil membimbing sepedanya mengikuti langkahnya.


Dug


Dug


Dug


Suara detak jantung Ai semakin cepat seiring langkahnya semakin dekat dengan pintu rumah Vano.


Tok


Tok


Tok


"Per-"


Cklack

__ADS_1


"Mama bilang masuk." Ucap Vano langsung tanpa menunggu Ai menyelesaikan ucapannya.


Gugup, kedua tangan Ai dengan erat menggenggam buket bunga yang ada di pelukannya. Menimbang apakah ia harus masuk dan apakah ia tidak masuk.


Jika ia masuk, Ai takut ada Angela di dalam sehingga membuat suasana semakin canggung. Apalagi Angela kemarin siang terlihat marah kepadanya sehingga masuk ke sana bukan pilihan yang baik.


Namun..


Namun, jika ia tidak masuk Mama Vano pasti berpikir ia kurang ajar. Apalagi sejujurnya Ai pribadi ingin masuk ke dalam, ia ingin bersama Vano lebih dekat lagi.


"Vano, maaf sepertinya aku tidak bisa karena ada tugas sekolah yang belum aku selesaikan."


...🍃🍃🍃...


Dan di sinilah ia sekarang, terduduk canggung di meja makan bersama Vano. Beberapa saat yang lalu Ai memang menolaknya untuk ikut masuk, akan tetapi Vano tidak mengizinkan hal itu terjadi dan dengan paksa menariknya ke dalam.


Tersenyum canggung, Ai dengan jujur mengakuinya karena siapa pun tahu bahwa di jam sepagi itu ia belum sempat memasak apapun.


Yah, biasanya ia sarapan roti tapi berhubung rotinya sudah kehabisan stok maka jadilah beberapa hari ini ia tidak sarapan.


"Iya Tante, tapi Ai gak lapar kok jadi walaupun gak sarapan Ai tidak terganggu saat beraktivitas." Ia juga jujur ketika mengatakan ini bahwa meskipun ia tidak sarapan itu tidak masalah.


Ia tidak akan terganggu karena tidak sarapan, mungkin..ini sudah menjadi kebiasaan untuknya.


"Lapar gak lapar harus tetap sarapan, Ai. Ingat, tubuh kamu butuh nutrisi." Ujar Mama Vano memberikan nasihat.

__ADS_1


Mama Vano sebenarnya miris melihat Ai yang begitu kurus dan tidak terawat. Apalagi anak ini sebenarnya cukup cantik jika ia mau menyingkirkan poninya yang panjang dan membuang kaca mata yang selalu bertengger di matanya setiap kali kemari.


Berpikir seperti ini ia rasanya ingin mengadopsi Ai lalu merawatnya seperti gadis-gadis diluar sana. Tapi sayang, putranya punya pikiran berbeda dengannya..jadi mau tidak mau Mama Vano harus mengalah.


"Ai ingat Tante."


Mengeratkan genggaman tangannya, mata persik Ai sesekali melirik Vano yang sedari tadi hanya diam melihat interaksi Ai dengan Mamanya.


Karena Vano tidak melakukan apa-apa, maka Ai memutuskan dengan berani memberikan bantuan kepada Mama Vano.


"Hemm.. Tante, Ai boleh bantu gak?" Tanya Ai tidak tahan melihat Mama Vano yang sedari tadi terus mondar-mandir dari dapur ke ruang makan.


"Boleh, tapi Ai yakin bisa bantu Tante?" Tanya Mama Vano ragu, kedua matanya terlihat tidak setuju dengan tawaran Ai ketika melihat wajah Ai begitu pucat.


Mengangguk polos, "Ai bisa kok, Tan. Ai juga janji gak bakal mecahin piring-piring Tante."


Mungkin Mama Vano khawatir jika tangannya sampai tergelincir dan berakhir menjatuhkan barang-barang mahal mereka. Ai mengerti pikiran mereka-


"Maksud Mama bukan begitu lho, Ai." Tiba-tiba Vano berucap santai, berniat menghilangkan pikiran negatif Ai.


Terkejut, "Ya?" Gugup Ai dengan pandangan malu-malu menatap Vano sepenuhnya sedang menatapnya.


Tersenyum tipis, Vano bisa melihat bahwa dibawah bingkai kacamata itu mata indah Ai menatapnya dengan gugup. Ia bahkan bisa melihat dengan jelas pergerakan bulu mata lentik nya meskipun poni lebat Ai dengan kokoh menyembunyikan.


Ai sedang gugup, pikir Vano.

__ADS_1


"Mama tuh khawatir kamu kenapa-napa karena wajah kamu kelihatan pucat banget sekarang, iya kan, Ma?"


__ADS_2