Dear, Vano

Dear, Vano
35. Memar


__ADS_3

Sinar matahari yang menyengat mata mengusik" tidur lelap Ai, mengganggu tidurnya dengan halus dan samar. Perlahan mata terpejam itu mengerjapkan kelopak matanya, menampilkan mata persik cantik yang indah dan mempesona. Namun, tampilan pagi ini terlalu menyedihkan untuk ditatap orang. Wajah tirus nan pucat milik Ai menggambarkan bahwa ia tumbuh dengan sakit-sakitan.


Begitu miris.


"Ini hampir jam sepuluh." Gumamnya tidak terkejut ketika melihat waktu sudah siang.


"Aw.." Ringisnya merasakan sakit di bagian perut dan punggungnya. Meskipun tidak sesakit kemarin namun tetap saja rasanya masih tidak tertahankan untuk Ai yang sudah lemah tubuhnya dari beberapa hari yang lalu.


"Syukurlah sakitnya tidak seperti kemarin." Bisiknya bersyukur.


Dengan begini Ai pikir ia sanggup untuk sekedar singgah ke rumah Vano. Menjelaskan kepada Mama Vano bahwa kemarin ia ada halangan sehingga tidak bisa menepati janjinya. Dan ia juga bisa berkunjung ke toko Oma untuk mengurus pengunduran dirinya.


Seperti yang Mamanya bilang, bekerja di sana telah membuat mereka malu. Apalagi orang yang menjadi langganan tetap Ai adalah Mama Vano yang notabene merupakan kerabat dekat Mama dan Papa. Jadi, terus bertahan di sana bukanlah pilihan yang baik dan Ai juga berpikir bahwa ia tidak seharusnya terlalu mendekati Vano.


Jika orang-orang yang tidak ada hubungannya dengan Vano merasa risih melihatnya terlalu dekat, lalu bagaimana dengan Vano sendiri?

__ADS_1


Ia pasti jauh lebih risih dan terganggu di dekatnya. Lagipula, ia sudah pernah merasakan manisnya bisa sedekat itu dengan Vano. Meskipun hanya beberapa hari, namun bagi Ai yang hanya bisa mencintai dalam diam dan menatap dari jauh cukup puas.


Yah, namanya juga cinta bertepuk sebelah tangan tentu saja rasa cemburu juga sakit itu ada. Namun Ai berusaha untuk tahu dirinya sendiri, tahu kekurangannya dan tahu batasannya. Sehingga ketika melihat Vano dengan gadis lain, Ai tidak akan merasa tidak adil dengan rasa sakitnya. Apalagi jika gadis itu adalah Angela, saudaranya sendiri, ia akan sangat bersyukur melihat betapa beruntungnya Angela.


Setidaknya ia tahu bahwa Vano bisa bersanding dengan orang yang pantas dan berkualitas, tidak seperti dirinya yang cacat.


"Ada memar.." Bisiknya sudah menduga jika pukulan orang-orang itu pasti meninggalkan bekas di tubuhnya.


Merabanya dengan hati-hati, ada rasa sakit yang menyengat langsung menyebar ketika jari-jarinya dengan perlahan menyentuh memar biru yang ada di atas perutnya.


Setelah puas memandangi memar diperutnya, ia lalu masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan badannya dengan air hangat yang nyaman dan itu tidak selama biasanya ia mandi. Berhubung kondisinya sedang tidak baik maka jadilah ia hanya mandi beberapa menit saja.


Menggunakan pakaian santai yang nyaman, lalu ia melihat waktu yang kini sudah menunjukkan baru pukul 10 siang. Sudah pasti teman-teman sekolahnya sudah berangkat kemah, tidak terkecuali Vano.


Jadi, mengunjunginya sekarang seharusnya tidak masalah. Namun sebelum ke rumah Vano ia terlebih dahulu akan ke toko bunga Oma untuk mengurus pengunduran dirinya.

__ADS_1


Menghirup udara dengan perlahan, beberapa detik kemudian ia menghembuskannya dengan tenang.


Ia siap memulai hari!


...🍃🍃🍃...


"Siang, Oma." Sapa Ai sopan seraya berjalan senormal mungkin mendekati Oma.


Kali ini sikap Oma tidak seperti biasanya yang cuek dan culas, ia malah merespon salam Ai dengan tenang.


"Siang, Ai." Jawabnya.


Tanpa menunggu ucapan Ai selanjutnya, Oma beranjak pergi dari tempat duduknya. Menarik laci dan mengeluarkan amplop kuning yang sudah tidak asing lagi untuknya.


"Ini adalah gaji mu bulan ini dan untuk seterusnya kau tidak lagi bekerja di toko ku. Ai, kau Oma pecat karena pekerjaan mu berantakan di bulan ini sehingga merugikan konsumen ku."

__ADS_1


__ADS_2