Dear, Vano

Dear, Vano
22. Hangat


__ADS_3

Tap


Tap


Tap


“Ai, kemarilah.” Suara Vano membuyarkan lamuanannya. Dengan patuh Ai membawa langkahnya tanpa ragu mendekati Vano yang kini sudah ada di depannya dengan sebuah jaket, jaket yang entahlah Ai tidak tahu namanya karena ia sendiri tidak punya jaket seperti ini.


“Lepaskan tas mu dulu.” Perintah Vano yang langsung di patuhi oleh Ai walaupun sedikit bingung.


“Tangan mu.” Lalu dengan santai Vano memakaikan jaket itu ke tubuh kurus Ai.


Menahan nafas, badan Ai tiba-tiba terasa kaku di perlakukan seperti ini oleh Vano. Bahkan jarak mereka sangat dekat saat ini, membuat Ai tanpa sadar memandang dada bidang Vano dengan gugup karena Ai jauh lebih pendek dan kecil dari Vano. Ai di buat mabuk saat ini karena ia tidak bisa membedakan wangi parfum khas Vano yang menguar kuat di sekelilingnya.


Ia bingung apakah wangi ini berasal dari jaket yang sedang dipasang di tubuhnya atau dari tubuh Vano yang ada di depannya.


Gugup, Ai berulang kali mengerjapkan matanya tidak percaya pada situasi fantasi yang terjadi sekarang. Ini benar-benar seperti kisah romansa yang sering di tulis dalam novel, begitu manis dan penuh imajinasi.


“Astagfirullah Vano, Mama baru tinggal satu jam aja kamu udah mau apa-apain anak orang!”


Dan Wush..


Seketika momen romantis itu berubah menjadi kaku dan canggung.

__ADS_1


Menjaga jarak, Ai baru menyadari jika badannya saat ini terasa hangat dan nyaman.


“Ma, Vano lagi masangin Ai jaket bukan buat ngapa-ngapain.” Suara lembut Vano yang tidak biasa benar-benar membuat Ai tercengang.


“Tante, tante jangan salah paham dulu. Vano gak maksud gitu kok.” Ai dengan gugup menjelaskan kesalah pahaman ini.


“Ai, laki-laki memang seperti ini jadi kamu jangan terpengaruh dengan modus mereka yang polos tapi sebenarnya belang-belang penuh warna.” Ia membawa Ai menjaga jarak lebih jauh lagi dengan Vano yang kini hanya menatap datar Mamanya.


“Mama lebay ih, gitu doang padahal.”


“Eh Mama bukannya lebay yah tapi ini fakta yang ada. Asal kamu tahu ya kalau sebelum kamu jadi Papa selalu modusin Mama kayak gini. Jadi Mama tahu betul buaya macem kamu ini, satu turunan sama Papa kamu yang raja modus.”


“Alah, Mama juga di modusin senang kan?”


“Lha iya, kalau Mama gak senang gak mungkin dong aku jadi.”


“Tan-tante?” Panggil Ai canggung membuat perdebatan di antara mereka terhenti.


“Ya, sayang?” Jawab Mama Vano lembut dan hangat khas seorang Ibu.


“Maaf udah ganggu tante tapi Ai harus ke sekolah sekarang biar gak telat.” Ucap Ai meminta izin keluar.


Rasanya kurang nyaman ada diantara mereka karena ini adalah urusan pribadi mereka.

__ADS_1


“Lho Ai gak sama Vano berangkatnya?” Heran Mama seraya mengalihkan tatapannya pada Vano yang kini hanya diam menonton intraksi Ai dan Mamanya.


Menggeleng pelan dengan canggung,”Ai bawa sepeda tante.” Ucap Ai mengingatkan.


“Gak mau di titip sini aja sepedanya?”


Tersenyum kecil namun sarat akan ketulusan,”Enggak usah tante, Ai nggak mau ngerepotin.” Tolak Ai tidak ingin merepotkan.


Menghela nafas,”Gak ngerepotin sayang, Angela juga sering kok berangkat bareng sama Vano tiap pagi.”


Seketika senyum kecil Ai hilang digantikan dengan senyum canggung, tubuh yang semula rileks kini berubah lemas tanpa kekuatan, seakan ada magnetbesar yang merebut paksa perasaan manis itu.


“Tante, sungguh itu tidak perlu karena Ai juga lebih suka naik sepeda.” Ia dengan halus menolak Mama Vano lagi.


“Ya udahlah, tante juga bisa ngomong apa kalo Ai tetap nolak anak Tante. Ai hati-hati yah di jalan.”


"Ih, kok Mama gitu sih itu doa lho." Peringat Vano pada Mamanya yang sedang menatapnya dengan ejekan.


"Iya Tante, Ai pamit dulu yah."  Dan dengan begitu Ai membawa langkah tidak berdayanya menjauh dari mereka.


Jalanan pagi masih sepi, bahkan orang-orang seusianya masih satu dua yang terlihat di waktu seperti ini. Ai yang sudah terbiasa dengan suasana ini apalagi dengan perasaan yang buruk sebagai pengiring langkahnya tidak merasa keberatan sedikit pun. Akan tetapi hari ini sedikit berbeda, ah, mungkin sangat berbeda.


“Jangan terlalu berharap tinggi pada sesuatu yang tidak mungkin karena jika terjatuh rasanya akan sangat sakit."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2