
“Ayo duduk, Mbok.” Pinta Ai setelah tersadar dari keterkejutannya. Menggeser tas belanjaannya ia pun mempersilakan wanita paruh baya yang ia panggil Mbok untuk duduk di sampingnya.
“Non Ai teh keliatan pucat, apa non baik-baik saja?” Suara Mbok khawatir seraya mendudukkan dirinya di samping Ai.
Tersenyum kecil, Ai menggelengkan kepalanya ringan.”Ai baik-baik aja kok Mbok, ini cuma kecapean aja. Mbok sendiri apa kabar di sana?”
“Alhamdulillah, Mbok teh baik-baik aja di rumah. Non Ai kapan pulang ke rumah, Mbok kangen banget sama non Ai.”
Ai tersenyum miris ketika mendengar pertanyaan ini, pulang ke rumah?
Tidak, itu bukan rumahnya lagipula ia tidak pernah dibutuhkan di sana. Ia hanya di anggap orang asing di tempat yang mereka sebut sebagai rumah.
__ADS_1
“Masih belum tahu Mbok, Ai sedikit sibuk hari-hari ini jadi waktu untuk ke sana masih belum ada.”
Mengalihkan tatapannya yang mulai menyendu, ia kembali membawa atensinya menatap langit yang sudah sepenuhnya di tutupi awan mendung. “Tapi jika Mbok mau, Mbok bisa datang ke apartemen Ai untuk sekedar mengobrol dengan Ai.”
Berbicara dengan ku agar aku tidak selalu merasakan perasaan kesepian itu.
“Serius Mbok teh bisa ke apartemen non Ai?” Terdengar suara antusias yang bergema ke dalam pendengaran Ai.
Tersenyum tipis Ai menganggukkan kepalanya ringan sebagai persetujuan. “Mbok, langit udah mendung jadi obrolan kita sampai di sini saja karena Ai harus pulang sebelum hujan turun.” Ucap Ai seraya berdiri duduknya.
“Non Ai tunggu.” Mbok berjalan cepat mendekati Ai yang sudah menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Meraih tangan kurus Ai, Mbok tidak bisa menatap miris pada keadaan majikan kecilnya yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri. “Non gak boleh makan mie terus, gak baik untuk kesehatan.” Ucap Mbok seraya memberikan kantong kresek yang berisi berbagai macam sayuran segar khas produk supermarket.
“Ini untuk Non, maaf hanya ini yang Mbok punya untuk Non Ai.” Ucap Mbok sedih seraya menyelipkan beberapa lembar uang yang sudah terlipat ke dalam genggaman tangan kanan Ai yang bebas dari beban.
Terkejut, Ai langsung menggeleng pelan sebagai respon penolakannya terhadap kebaikan Mbok. “Mbok lebih membutuhkan dari Ai.” Ucap Ai seraya memberikan kembali uang tersebut kepada Mbok.
“Non, Mbok teh tau jika non tidak senang di kasihani tapi non teh harus tahu dari lubuk hati Mbok yang paling dalam ini adalah pemberian yang tulus tanpa niat yang lain. Bagi Mbok non Ai adalah keluarga jadi Mbok mohon jangan tolak niat Mbok kepada non Ai.” Mbok mendorong kembali uang tersebut kembali kepada Ai.
Ia memberikan uang tersebut ikhlas dan bukan karena rasa kasihan. Mbok adalah orang yang membesarkan dan menyaksikan pertumbuhan Ai lebih dekat dari siapa pun. Majikan kecilnya tumbuh dengan kekuatan hati yang luar biasa dan sangat membenci perasaan kasihan yang orang lemparkan kepadanya.
Terdiam cukup lama, Ai akhirnya mengangguk setuju.”Terimakasih, Mbok. Tapi aku harap ini adalah yang terakhir kalinya Mbok memberikan ku apapun.”
__ADS_1
Mengucapkan pamit sekali lagi, Ai akhirnya melanjutkan lagi perjalanan pulanngnya yang sempat tertunda. Berjalan santai, ia menyusuri jalan ramai yang semakin ramai walaupun langit sudah menunjukkan akan turun hujan. Menatap langit, ada senyum tidak berdaya yang tercetak samar di bibir tipisnya.
Terimakasih Mbok untuk ketulusan hati mu dan maafkan aku yang sempat menolak kebaikan mu tadi, itu bukan karena aku berpikir Mbok mengasihani ku tapi itu karena aku tidak terima mengapa Mbok yang harus peduli kepada ku dan mengapa bukan mereka yang ku panggil sebagai keluarga?