
Tidak ada pergerakan lain yang ada di ruangan ini kecuali hanya suara nafas Ai dan kepulan asap dari teflon tersebut.
"Aku tidak lapar jadi mungkin satu suap saja tidak apa-apa." Gumamnya tidak merasa lapar sambil mengangkat sendok yang berisi sayuran dan telur yang masih hangat.
Meniupnya beberapa kali ia kemudian dengan lancar memasukkannya ke dalam mulut dan mengunyahnya singkat.
"Lalu minum obat dan istirahat." Mengambil air putih ia memasukkan satu tablet ke dalam mulutnya.
Setelah selesai ia langsung membawa langkahnya menaiki ranjangnya, berbaring pandangannya tiba-tiba serasa kosong ketika menatap langit.
Beginilah nasib orang cacat sepertinya, jika tidak bersedih maka itu hanya akan meratapi kehidupannya yang tidak punya masa depan.
Ai sekeras apapun ia mencoba untuk berlapang dada ia tidak akan bisa. Mengapa?
Itu karena ia tidak punya cinta yang tulus untuk menyokongnya berdiri.
Mungkin ..
__ADS_1
Ya, mungkin menginginkan Vano itu adalah sebuah kesalahan yang besar maka Ai tidak akan berharap besar. Tapi bagaimana jika Ai menginginkan tulusnya cinta keluarga?
Seharusnya itu bukan sesuatu yang sulit bukan?
Ya seharusnya tapi fakta yang ia dapatkan tidak ada ketulusan untuknya.
Menghela nafas lelah, Ai dengan kuat mencoba menahan luapan air matanya yang berteriak ingin keluar.
Bahkan jika itu memang sakit.. menangis tidak bisa mengubah apapun.
"Ah.. pesan ini?" Tiba-tiba tangannya tidak sengaja menyentuh buket bunga yang belum sempat ia buang.
Deg
Gerakannya tiba-tiba berhenti ketika mencium wangi semerbak yang menguar dari kertas pesan yang ada ditangannya.
"Apa penciuman ku sedikit bermasalah?" Ai bertanya kosong sambil menatap kartu ucapan yang ada di depannya. Menghirupnya sekali lagi ia benar-benar di buat yakin jika wangi kartu ucapan ini sama sekali tidak mengeluarkan wangi bunga tulip itu padahal mereka berada di satu tempat juga saling menempel.
__ADS_1
"Ini seperti bau parfum..Vano?" Walaupun samar akan tetapi Ai begitu yakin jika pemilik wangi ini adalah Vano karena saat di kafe tadi pun Ai dapat menciumnya dengan jelas.
Hei, ia sudah menyukai Vano sejak bertahun-tahun jadi ia hafal betul wangi parfum seperti apa disukai Vanonya-ah, maksud Vano milik Angelanya.
"Dasar bodoh, orang yang memakai parfum ini di sekolah bukan hanya Vano jadi singkirkan pikiran tidak mendasar mu itu." Menggelengkan kepalanya mengusir pikiran tak masuk akal tersebut, ia kemudian dengan hati-hati menaruh kartu ucapan tersebut ke dalam lacinya.
Rasanya lucu sekali ketika pikirannya dipenuhi tentang Vano, karena ketika mendapati sesuatu yang juga berkaitan dengan Vano, Ai tidak bisa mengontrol halusinasinya yang berlebihan.
"Lagipula jika itu Vano kenapa ia harus melakukan hal ini kepada mu, Ai, ini seperti kamu berharga saja untuknya." Tersenyum masam, ia mencoba berpikir sebagaimana fakta berbicara.
Ia tidak ingin terlalu berharap, menyukainya bukan berati ia harus berimajinasi Vano bersikap manis kepadanya seperti sikapnya pada perempuan-perempuan sempurna di luar sana.
Hah, itu benar-benar mustahil untuk seukuran mahluk cacat seperti dirinya.
"Yah, Vano tidak akan bodoh melakukan hal ini kepada manusia menjijikkan seperti ku. Ia pasti takut dan jijik ketika memikirkan ku, apalagi mengingat tatapan anehnya saat melihat ku di sekolah..itu membuat ku sadar bahwa cintaku benar-benar memuakkan." Gumamnya sakit.
Menatap kosong pada jendelanya yang tersingkap karena angin malam, percikan air hujan yang turun dengan derasnya begitu mudah masuk ke dalam apartemennya. Memberikan penghiburan pada dirinya yang sepi, hujan itu seolah-olah sedang membelainya dengan sayang.
__ADS_1
"Hujan lagi," Gumamnya pada diri sendiri.
Menarik selimut untuk menghangatkannya, kedua mata Ai tidak pernah lepas dari pemandangan itu. "Terimakasih." Lalu ia mulai membungkus dirinya dalam pelukan selimut hangat. Memejamkan matanya ia merasakan perasaan nyaman di sekitarnya, lalu dada ratanya kemudian bergerak naik turun dengan teratur. Mengirimnya ke alam mimpi yang penuh akan fantasi dan delusi yang samar.