
"Papi, siapa mereka?" Bola mata besarnya menatap penasaran pada sosok laki-laki dewasa yang tampan dan tak tersentuh. Mereka berdua saat ini menatap jendela yang menampilkan pemandangan halaman depan rumah mereka. Di halaman ada sebuah keluarga kecil yang sedang datang bertamu dengan senyum kecerian yang kental akan kebahagiaan.
"Itu teman Papi." Jawab laki-laki dewasa tanpa mengalihkan pandangannya ke arah si kecil yang sedang menatapnya penuh minat.
"Teman, Ai juga mau teman Pap." Suara lembut nan manis itu seketika langsung membuat laki-laki itu mengalihkan pandangannya menatap Ai kecil yang sedang memandang halaman depan dengan perasaan takjub.
"Hem." Responnya terdengar acuh sambil membawa pandangannya kembali menatap halaman depan.
Ai tidak terlalu memikirkan respon Papinya yang begitu biasa tanpa ada nada ketertarikan, ia hanya fokus membawa mata berbinarnya menatap seorang anak laki-laki yang seumuran dengannya. Anak laki-laki itu terlihat berpenampilan sederhana seperti kedua orang tuanya yang juga sederhana namun sarat akan kemewahan.
Tiba-tiba pandangannya semakin tertarik antusias begitu melihat Angela keluar dan menarik anak laki-laki itu masuk ke dalam rumah. Melihat itu Ai kecil juga ingin bermain bersama mereka sehingga tanpa menunggu lama Ai kecil segera membawa kaki kecilnya berlari dari tempatnya ingin menyusul mereka untuk bergabung bermain bersama. Namun sebelum ia sempat melangkah lengan tangan kirinya tiba-tiba ditarik dengan kasar, membuat Ai kecil terkejut menahan sakit dari tangan dewasa yang kuat.
"Mau kemana?" Papi menatap Ai kecil dengan tatapan acuh tak acuh, begitu dingin. Ai tanpa sadar mengecilkan bahunya ketakutan.
__ADS_1
Menatap patuh sang Papi, "Ai mau teman Pap." Jawabnya dengan suara yang semakin mengecil.
"Ai, anak laki-laki itu bukan teman mu, Nak, tapi itu temannya Angela." Suara Papi menjelaskan batasan Ai.
"Tapi Ai mau temenan sama dia seperti Kak Angela." Suara Ai kian mengecil.
Menatap dingin, "Papi bilang dia adalah teman Angela dan Ai tidak bisa berteman dengannya sampai kapanpun." Lalu dengan langkah besar ia meninggalkan Ai kecil, perlahan-lahan menjauh sampai suara kebingungan Ai kecil membuat langkahnya terhenti.
"Kamu ingin tahu kenapa Nak?" Suara dingin nan putus asa itu bergema di dalam ruangan tempat mereka berdua berada.
"Itu karena kamu monster." Dan dengan begitu Ai kecil seakan linglung. Mata berbinarnya perlahan meredup manampilkan wajah kecil yang sendu dan pucat. Ia tidak mengerti maksud Papinya, moster yang ia sering tonton di tv adalah mahluk yang menyeramkan dan begitu menakutkan. Tapi Ai kecil merasa dirinya tidak menyeramkan dan menakutkan karena wajahnya terlihat baik-baik saja juga ia tidak punya kekuatan apapun untuk menyakiti orang lain.
Jadi...
__ADS_1
"Ha'ah...mimpi buruk lagi." Desah Ai tidak berdaya seraya mendudukkan dirinya.
"Kenapa?" Bisiknya kesakitan.
"Ini adalah satu-satunya pertanyaan yang masih belum bisa aku dapatkan jawaban sebelumnya. Tapi sekarang aku benar-benar mengerti mengapa mereka menyebut ku sebagai monster, itu karena aku cacat dan berbeda." Tersenyum miris, ia mengusap matanya yang kini sudah mengaliri cairan hangat.
Sakit rasanya di tatap sejahat itu oleh orang yang ia kasihi. Bertahun-tahun lamanya ia seperti orang bodoh yang terus saja mencari alasan mengapa ia masih belum punya teman dan mengapa mereka bilang ia menakutkan. Ia tidak mengerti sekuat apapun orang memandangnya sebelah mata, sampai akhirnya ia bisa mengerti seperti apa dunia ini berjalan dan seperti apa pemikiran dunia ini bekerja. Lalu ketika ia mulai mengerti itu semua ia pun perlahan mengetahui dirinya yang sedikit berbeda dengan mereka semua.
Mereka menjauhinya karena ia cacat, itu saja dan Ai sudah cukup mengerti dengan alasan ini.
"Tuhan aku benci mimpi buruk sialan ini!"
Bersambung…
__ADS_1