Dear, Vano

Dear, Vano
26. Demam Tinggi


__ADS_3

Malamnya, Ai langsung demam tinggi. Ia juga sepulang sekolah tadi tidak mampir untuk bekerja di toko bunga Oma, namun langsung pulang ke apartemennya.


Meriang di tubuhnya bertambah parah seusai berbicara dengan Angela tadi siang dan Ai juga tahu bahwa ia tidak akan bisa bertahan lama lagi. Maka dari itu ia akhirnya memutuskan untuk langsung pulang dan beristirahat, berharap meriangnya bisa mereda dan ia dapat beraktivitas normal seperti biasanya.


Namun, sekali lagi itu hanya sekedar harapan karena nyatanya malam ini ia mengalami demam tinggi.


"Pusing.." Keluhnya kesakitan karena pandangannya mulai berputar-putar hebat.


Ia seakan bisa melihat langit kamarnya berputar-putar keras, tanpa jeda sedikitpun. Tidak hanya itu, ia juga merasakan badannya seperti didorong kesana kemari.


"Badan ku panas..panas..hiks..sakit.." Rintihnya kesakitan.


Ai benar-benar terjatuh pada tahap dimana ia hanya bisa merintih tidak jelas, berbicara tidak beraturan. Ia putus asa dan tidak berdaya pada keadaannya seperti ini. Dalam hati ia berharap akan ada Mamanya yang penuh kasih merawatnya, mengkompres kepalanya yang pusing dan sakit, lalu menenangkannya dengan bisikan-bisikan lembut halnya seorang Ibu di seluruh dunia.


Tapi..tidak ada siapapun di ruangan ini dan hanya dia seorang. Tidak akan ada yang mendengarnya merintih kesakitan atau dengan panik memeluknya sambil membisikkan kata-kata penenang, tidak ada.


"Mama.. pusing.." Karena putus asa, ia dengan susah payah menjangkau handphonenya di atas laci.


Prank


Tangannya tanpa sengaja menyenggol gelas yang ada dipinggir lacinya, membuatnya jatuh dan pecah tanpa bisa ia cegah.


Biarlah, ia tidak perduli karena saat ini hal yang paling ia butuhkan adalah seseorang merawatnya. Ia butuh Mamanya saat ini.


Setelah bersusah payah menjangkaunya, akhirnya ia bisa menjangkau handphone-nya. Lalu dengan mata berkunang-kunang, ia berusaha mencari kontak Mamanya. Tidak perlu bersusah payah mencarinya karena di kontak Ai, hanya ada 4 nomor telepon.


Kontak pertama adalah Angela


Kontak kedua adalah Mama

__ADS_1


Kontak ketiga adalah Nenek


Dan kontak terakhir adalah Vano, nomor yang diam-diam Ai simpan 3 tahun yang lalu dan ia tidak yakin jika nomor Vano ini masih aktif.


Tetap saja..meski tidak tahu itu aktif atau tidak, ia tidak berusaha menghubungi ataupun menghapusnya.


Terdd


Akhirnya telpon pun tersambung, beberapa detik kemudian telepon itu di jawab. Ini sebenarnya cukup mengejutkan untuk Ai karena tidak biasanya Mama secepat ini menjawabnya. Biasanya ia akan menelpon 3 atau 4 kali sebelum Mamanya mengangkat telpon darinya.


Tidak tahan, "Mama..hiks..kepala Ai sakit, badan Ai juga demam..Ai pusing Ma..hiks.." Lapor Ai mengadu kesakitan.


Sunyi.


Tidak ada respon yang Ai dapatkan sampai akhirnya beberapa detik kemudian telpon tersebut dimatikan.


Tertegun, Ai menatap kosong langit-langit kamarnya yang semakin berputar tidak karuan. Mengacaukan kepalanya yang berdenyut sakit dengan hebat. Bahkan badannya yang terasa panas bak di dalam air mendidih benar-benar tidak tertahankan.


Lalu, perlahan kedua mata persiknya yang berair tertutup lemah. Tidak punya tenaga lagi untuk terbuka sehingga ia dengan sopan mengalah pada kegelapan, membiarkan kegelapan menguasainya.


Ai akhirnya tidur, ah tidak!


Lebih tepatnya Ai jatuh tidak sadarkan diri, keringat dingin bercucuran deras di dahi dan punggungnya. Membasahinya dengan congkak seakan-akan ia berikrar bahwa Ai telah menutup matanya untuk selama-lamanya.


Tapi sayangnya itu tidak terjadi karena-


Ting


Suara denting kunci apartemen bergema di ruangan sunyi itu, memperlihatkan sosok tinggi yang dengan panik mendekati ranjang Ai.

__ADS_1


"Ai?" Bisik laki-laki itu khawatir seraya mengangkat tangannya untuk menempel di atas kening Ai.


"Ai demam tinggi?" Kaget laki-laki itu ketika merasakan kening Ai begitu panas.


Membuka jaketnya, laki-laki itu lalu mengotak-atik handphonenya untuk menghubungi seseorang.


"Hallo Pa, ini aku." Suara laki-laki itu serak sarat akan rasa cemas ketika orang yang diseberang sana mengangkat telponnya.


"Ini bukan Mama, Pa, tapi tentang Ai. Lagian Mama kan sama Papa di rumah." Bantah laki-laki itu tidak sabaran dengan mata yang sesekali melirik Ai, mengawasi Ai yang sedang tertidur lelap di atas ranjang.


"Enggak..Ai demam tinggi, Pa. Dan badannya panas banget, aku udah coba bangunin dia tapi dia gak bangun-bangun sekuat apapun aku mencoba." Cerita laki-laki itu terlihat gusar.


Ia mengacak-acak rambutnya cemas, menandakan betapa tidak puasnya ia dengan situasi ini.


"Ok, aku akan tunggu." Jawabnya cepat setelah itu ia mendudukkan dirinya di ranjang Ai, menatap sosok rapuh ini dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Ai, kamu harus percaya sama diri kamu sendiri dan terus bertahan hidup, okay?" Bisik laki-laki itu lembut seraya mengecup kening Ai sayang.


Sambil menunggu pesan dari Papanya, tatapan laki-laki itu tanpa sengaja jatuh pada pecahan gelas yang berserakan di bawah sepatunya.


Kenapa ia tidak menyadari ada pecahan beling di sini?


Khawatir sewaktu-waktu Ai bangun dan tidak sengaja menginjaknya, ia pun memutuskan untuk membersihkannya.


Dengan cekatan kedua tangannya bergerak bolak balik memasukkan beling ke dalam bak sampah. Lalu ia membawa keranjang sampah tersebut ke dapur yang lebih jauh jangkauannya dari Ai.


Menghela nafas lega, tiba-tiba pandangan laki-laki itu jatuh pada sayur-sayuran yang sudah layu di sebuah rak mini. Bukan hanya itu, ia semakin miris dibuatnya ketika melihat jejeran mie instan di samping sayuran yang sudah layu.


Bukankah ini tidak baik untuk tubuh jika dikonsumsi secara terus menerus?

__ADS_1


Berdecak kesal, dalam hati laki-laki itu berjanji untuk mengontrol pola makan Ai yang tidak sehat ini dengan pola makan sehat yang biasa Mamanya berikan untuknya.


__ADS_2