Dear, Vano

Dear, Vano
49. Kenapa Hujan Tidak Turun?


__ADS_3

Setelah menyelesaikan makan malam dan mengobrol bersama, akhirnya mereka semua memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing. Termasuk Ai dan Vano, karena besok mereka akan pergi berkemah bersama maka mereka harus segera mempersiapkan semua barang-barang yang harus dibawa besok.


Yah, itu hanya sebatas beberapa pakaian untuk 3 hari ke depan dan beberapa bungkus makanan ringan yang akan mereka sembunyikan di dalam tenda.


"Ah... akhirnya selesai juga." Lega Vano sambil merebahkan dirinya di atas ranjang sementara Ai hanya duduk diam di sampingnya, mengamatinya dengan bisu.


"Oh ya Ai, memar kamu udah di olesin salep belum?" Tanya Vano ketika ingat ada memar Ai di badannya.


Ai dengan jujur menggelengkan kepalanya, ia tidak pernah mengoleskan memar yang ada di perut dan punggungnya dengan salep, lagipula darimana ia akan mendapatkan salep?


"Jadi aku belum ngasih kamu salep pemberian Papa aku?" Tanya Vano sebenarnya bisa menebak jika dia melupakan hal penting itu, ah!


"Salep apa?" Tanya Ai bingung.


"Kamu tunggu di sini." Kata Vano sebelum menghilang dari kamarnya.


Kini hanya Ai sendirian di kamar ini, memandangi kamar laki-laki yang ia sukai dengan perasaan campur aduk. Kamar ini juga berbau Vano, rasanya begitu wangi dan membuat candu untuknya.


Vano?


Jika kamu tahu aku menyukai mu mungkinkah kau akan menjauhiku?


Ai harap tidak karena Vano adalah orang yang baik, ya, dia sangat baik seperti dokter Ares dan istrinya. Keluarga ini sangat baik dengan orang-orang baik di dalamnya. Ai kagum juga cemburu mengapa kedua orang tuanya tidak seperti mereka?


Dertt


Dertt

__ADS_1


Dertt


Ai tersadar dari lamunannya, ia terkejut dengan suara getaran handphonenya yang hampir seharian tidak pernah ia sentuh. Mengambilnya dari dalam kantong bajunya, ia melihat ada nomor baru yang masuk ke handphonenya.


"Hallo?" Meski ragu, Ai akhirnya mengangkatnya juga karena siapa tahu ini dari keluarganya.


"Ai, ini aku." Suara lembut Angela memasuki pendengarannya.


Jadi ini Angela, apakah ia sudah mengganti nomor teleponnya?


"Oo..ini Kakak-"


"Aku tidak akan berbasa-basi lagi dengan mu." Potong Angela terdengar tidak sabar.


Ai terdiam, menutup mulutnya rapat. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang buruk akan terjadi.


"Ai, aku tahu bahwa kamu selama ini menyukai Vano." Ini adalah kata pertama Angela setelah lama terdiam, mungkin Angela merasa tidak enak saat mengatakannya.


"Tapi Ai kamu harus tahu bahwa Vano adalah milikku." Ah, sebenarnya Ai sudah bersiap mendengar ini namun tetap saja rasanya lumayan mengiris.


Tapi..tapi Vano pernah mengatakan kepadanya jika ia tidak punya kekasih maka apa yang dikatakan Angela saat ini adalah omong kosong belaka.


Ai lega dengan pemikirannya.


"Kamu tahu bukan jika kedua orang tua kita berteman dengan kedua orang tua Vano?" Tanya Angela tenang.


"Ya, aku ingat." Jawab Ai pelan.

__ADS_1


"Bagus. Karena mereka berteman akhirnya mereka membuat ikatan yang lebih erat lagi dari pertemanan, kamu tahu itu apa?"


Ai tahu kemana arah pembicaraan ini, "Aku tidak tahu." Jawab Ai enggan.


"Itu adalah hubungan darah, mereka ingin menjadi keluarga sehingga aku dan Vano dijodohkan sejak kecil. Vano juga pernah berjanji kepadaku untuk memberikan cincin pertunangan kami setelah lulus SMA, katanya saat itu kami bisa menjalin hubungan yang lebih serius." Ai menolak percaya karena Vano mengatakan ia tidak punya kekasih!


"Dan kamu harus segera menjauhi Vano, ia adalah milikku." Angela mengklaim dengan angkuh seolah Vano adalah barangnya yang berharga.


"Lagipula kamu harus tahu ini bahwa keluarga Vano baik kepada mu hanya karena pertemanan mereka dengan Mama dan Papa. Selain itu Papa Vano adalah dokter pribadi mu sehingga mereka tentu merasa simpati terhadap mu. Jadi Ai, kamu tidak boleh menganggap perhatian keluarga Vano sebagai bentuk Vano menyukai mu. Kamu tidak boleh berpikir seperti itu karena kamu juga harus ingat fakta kamu dan dia berbeda. Kamu cacat Ai dan Vano tentu saja tidak menyukai orang cacat aneh seperti mu. Em..maaf, aku tidak bermaksud mengungkit luka mu tapi aku hanya ingin mengingatkan batasan mu dan yah.. jangan terlalu banyak berkhayal tentang Vano."


"Baiklah aku pikir cukup ini saja dan aku harap kamu mendengarkan ku kali ini."


Tut


Lama terdiam akhirnya Ai menempatkan kembali handphonenya ke dalam saku. Lalu ia dengan diam membisu menatap jendela yang kini terbuka menampilkan luasnya langit malam.


"Mengapa malam ini tidak turun hujan?" Gumamnya sedih. Biasanya ketika hatinya sakit langit akan selalu meresponnya, menurunkan hujan untuk menemaninya bersedih dan menangis.


Tapi malam ini langit terlalu cerah, Ai tidak suka melihat ini.


"Vano tidak pernah menceritakan hal itu jadi Angela, aku tahu jika kamu sedang berbohong." Gumamnya ragu. Ia mungkin ragu jika mereka adalah sepasang kekasih tapi dijodohkan?


Ai pikir ini tentu saja bisa terjadi namun lagi-lagi ia menolak kenyataan ini.


"Ya Angela, tanpa kamu beritahu pun aku tahu jika aku ini cacat." Angela tidak perlu mengingatkannya bahwa ia tidak pantas untuk merasakan cinta jenis apapun di dunia ini.


Namun karena itulah ia membenci dirinya, itu karena ia cacat tapi masih saja berharap untuk bahagia. Berharap bisa bersanding dengan seseorang yang sangat jauh untuk ia gapai. Ia membenci dirinya jauh lebih dalam dari orang yang jijik melihatnya.

__ADS_1


Benci mengapa diri yang cacat ini masih belum mengerti akan kekurangannya.


"Ai, ini salep-lho, kok mata kamu jadi merah gini?" Panik Vano membawa langkahnya secepat mungkin mendekati Ai.


__ADS_2