
" A apa katamu bilang?Ha hamil ." Perkataan seru begitu saja lolos dari bibir tipisnya sedang Liana tersenyum puas dengan wajah Tertekan Sera.
" Yupz betul Sera sohib ku sayang.aku saat ini juga tengah mengandung anaknya yudha,dan Yudha juga berjanji akan segera menikahiku setelah menceraikanmu." Cetus Liana tanpa tahu malu sedikitpun.
Sera meresa tenggorokannya tercekat,susah payah dia menelan salivannya.otaknya benar benar mendadak berat untuk dibuat berfikir.ingin sekali rasanya dia membunuh dua orang penghianat yang tak tahu diri itu jika tidak ingat jika di negara ini adalah negara hukum yang pasti dia tidak akan sudi untuk capek capek mengotori tangannya sendiri.
" Kalian berdua benar benar manusia tidak tau diri,dasar penghianat.!" Sentak sera menatap tajam Yudha dan juga Liana secara bergantian
" Udah deh terserah Lo mau bilang apa,yang penting sekarang Lo segera angkat kaki dari rumah ini.!" Ucap Liana dengan tidak tau dirinya,sedangkan Yudha masih tetap terdiam dan membisu
" Jangan Mimpi Li,ini rumahku jadi yang berhak pergi dari rumah ini itu kalian bukan Aku.!" Sera tak kalah ngototnya mencoba mempertahankan apa yang memang menjadi hak nya.
" Hahaha coba deh sayang kamu tunjukan semua berkas berkas asli kepemilikan Rumah,aset perusahaan mobil dan juga lainnya pada Istrimu yang nggak guna ini,supaya dia sekarang bisa sadar diri kalau sekarang sudah resmu jadi gelandang." Seru Liana disertai dengan tawa ejeknya.
Sera tersentak bukan main mendengar ucapan wanita ular didepannya itu.dia pun mengalihkan padanya pada yudha yang kini sudah membuang pandangnya kearah mana pun.
" Apa benar yang dikatakan gundikmu ini mas yudha ...?!" Tanya Sera pada yudha dengan suara penuh penekanan.
Yudha tak lekas menjawab dia malah kembali menatap nanar ke arah sera.
" Jawab pertanyaanku mas,kenapa diam saja.!"
" Gue pikir gue nggak perlu jelasin apapun lagi ke Lo." Ucap Yudha dengan suara terkesan dingin dan angkuh
" Apa maksudmu mas?!"
" Gue tau kemarin Lo dateng ke kantor,dan gue juga Yakin Lo udah ngelihat berkas berkas penting Copy-an perusahaan beserta isi dan juga rumah ini yang semua hak kepemilikan sepenuhnya sudah menjadi atas nama gue bukan.?" Ujar Yudha dengan serius
Sera menggeleng cepat,bibirnya nampak bergetar hebat mendapati semua kenyataan ini.
" Tapi kamu menipuku mas ! Aku tidak terima !"
" Terserah Lo mau ngomong apa sera sahabatku yang begoknya minta ampun.!" sahut liana dengan kekehannya yang membuat sera langsung melemparkan tatapan tajam pada wanita di hadapannya itu.
" Dasar kamu wanita penjilat Li.pelakor.!"
" nggak usah banyak bacot deh Lo sera,mending sekarang Lo segera angkat kaki dari rumah ini.karena mulai sekarang aku yang akan tinggal disini dan menjadi nyonya mahendra yang terhornat.hahaha." Ejek Liana berapi api....
Plakk
Tangan mulus sera tiba tiba saja langsung menghadiakan di pipi mulus Liana,sontak saja membuat wanita itu geram bukan maen dan ingin membalas balik perbuatan sera jika saja yudha tak menahannya.
" Lepasin tanganku Yudh,aku mau balas perbuatan istrimu yang gak guna ini." Keluh Liana yang terus memberontak untuk yudha melepaskan dirinya,karena ingin membalas tamparan dari sera karena tidak terima
" Sudah Lah Lia,nggak usah Lo ladenin dia.biarkan wanita tak berguna ini pergi dari rumah ini,karena gue juga udah mulai muak melihat wajah jeleknya itu." Ketus Yudha sambil melirik sera lewat ekor matanya
Perlahan emosi Liana menyurut,saat yudha mengurai pelukannya.wanita itu lantas mendekat kearah Sera dan mendorong tubuh sera hingga sedikit terjungkal,beruntung sera masih menahan keseimbangan tubuhnya sehingga tak jatuh tersungkur ke lantai.
Yudha membalikan badan tanpa mau melihat kearah Sera yang menatapnya dengan nanar.
__ADS_1
" Sekarang juga kemasi barang barang berhargamu dan segera enyah dari rumah ini!" Sentak Yudha masih dalam posisi membelakangi Sera
Susah payah sera menelan salivanya,tenggorokannya seakan tercekat.karena tak ada tindakan apapub dari sera.Yudha lantas berjalan ke arah dua lemari yang tak jauh darinya.lalu mulai membuka salah satu lemari tersebut dan mengobrak abrik lemari pakaian milik sera yang memang terpisah dengan lemari miliknya.
Semua pakaian sera berhamburan dan berserakan di lantai,bahkan sempat beberapa mengenai wajah sera,sera hanya bisa menggigit bibir bawahnya sambil meremas ujung baju yang di kenakannya.
" Bi Nurti....." Teriak Yudha dengan suara keras dan lantang,membuat seorang wanita paruh baya yang sudah lama bekerja di rumah itu lari tergopoh gopoh memasuki kamar yang masih terbuka itu
" A ada tuan.?" tanya ART tersebut dengan suara gemetar,lalu sekilas menatap wajah nona mudanya dengan mulut sedikit menganga karena terkejut.
" Usir dia dari rumah ini,sekarang juga.!" Tegas Yudha
" Ta tapi tuan..."
" Cepat Usir kataku,dan buang semua barang rongsokan ini.!" Bentak Yudha dengan penuh berapi api sambil menendang koper dan juga beberapa potong baju milik Sera
" Udah bi,biarin sera pergi..biar sera yang yang bersihin ini semua." Ujar sera sambil memunguti beberapa potong baju miliknya yang tadi dilempar oleh suaminya.
" Yang sabar ya non..hiks hiks hiks." ujar bi nurti sambil terisak dan membantu sera memunguti pakaiannya.
Sedangkan dua manusia lukcnut itu tengah berdiri didepan mereka,terlihat Liana terus saja mengukir senyum sinis dan mengejek menatap wanita yang kini sudah menjadi mantan sahabatnya itu,sedangkan yudha hanya menatap istrinya itu dalam diamnya.
" Jaga diri baik baik ya bi.sera pergi dulu."ucap sera sambil menepuk punggung wanita paruh baya itu
" Bibi ikut ya non.biar bibi ikut pergi sama non sera..hiks hiks." ucap wanita paruh baya itu disela sela isak tangisnya.
Sera menggeleng cepat,tanda dia tidak setuju.karena sera tau bi nurti punya tanggungan anaknya yang paling bungsu masih sekolah duduk dibangku Smp.beliau memang mempunyai tiga orang anak namun kedua anaknya sudah memiliki keluarga masing masing,dan kedua anak putranya itu tidak ada yang mau dimintai bantuan dengan biaya hidup bi nurti dan putri bungsunya yang masih duduk di kelas Sekolah menengah pertama itu,dan bi nurti pun bekerja keras membiayai sekolah anaknya dan juga dirinya.
Jadi sera tidak ingin menyusahkan orang lain,cukup dirinya kita yang harus menderita berjuang demi janin yang kini ada dalam kandungannya,meski tak diakui oleh ayah dari janin tersebut yang tak lain adalah suaminya.
" Enggak bi,sera nggak mau menyusahkan bibi,bibi harus tetap bekerja dirumah ini,ingat Nayara dikampung bi,dia masih sangat membutuhkan bibi,jangan sampai naya putus sekolah bi." Ucap Sera dengan menahan tangis
" Ta tapi non,gimana dengan non sera,bapak sama ibu di sana bakalan sedih non.." Ucap nurti
Sera tersenyum terlihat supaya bisa tegar dan terlihat kuat meski hatinya saat ini benar benar rapuh.
" Jangan pikirkan sera bi,insyallah sera bisa jaga diri baik baik,doakan supaya bisa kuat dan tegar melewati ini semua bi,doakan juga sera bisa melahirkan anak yang sera kandung dengan selamat."
Bi nurti mengangguk pelan dengan deraian air matanya." Maafkan bibi ya non jaga diri baik baik non."
Sera mengangguk paham sambil menahan senyum getirnya.
" Iya bi..sera pergi dulu ya bi bibi jaga diri baik baik." Ucap sera sambil mengurai pelukannya dari bi nurti
Lalu kini dia berdiri sambil menyeret koper yang berukuran sedang itu dan tak lupa mengenakan tas selempangnya.
" Aku pergi dulu mas,semoga kamu tidak menyesali keputusanmu ini..." Ucapnya lirih sambil menatap sendu wajah tegas suaminya itu yang masih saja membungkam mulutnya
Perlahan sera mulai melangkahkan kakinya namun tiba tiba terurung ketika suara yudha mengintrupsinya.
__ADS_1
" Aku tidak akan pernah menyesali keputusanku,jangan khawatir secepetnya aku akan urus semua surat perceraian kita,jadi kamu tidak perlu susah payah mengurusnya.!"
Jlebb
Bahkan Yudha sendiri yang memutuskan untuk mengurus surat perceraian mereka,dengan tersenyum getir sera menganggukan kepala tanpa berani menoleh ke belakang karena hatinya terlalu sakit jika harus menatap kembali orang yang sudah memberikan luka dalam untuknya.
" Iya....." Lirihnya dengan diiringi dengan anggukan kepala nya pelan,lalu segera melangkahkan kakinya pergi dari hadapan mereka.
*****
Berulang kali Sera memejamkan kedua matanya dibawah guyuran air hujan dimalam ini.entah sudah berapa lama dan berapa jauh dia berjalan tanpa arah tujuan meninggalkan kediaman rumahnya yang banyak sekali mengandung begitu banyak kenangan bersama mendiang kedua orang tuanya.
Entah dosa apa yang pernah dia perbuat sehingga Tuhan seakan tak henti hentinya memberikan cobaan yang bertubi tubi dalam hidupnya.
Entah mengapa malam ini bumi diguyur dengan air hujan yang begitu deras,seakan ikut menjadi saksi bisu nasib menyedihkan seorang Wanita muda tersebut.
Dalam kegelapan malam,Sera berjalan gontai menerobos derasnya air hujan,tubuhnya yang sudah basah kusup membuatnya bergetar karena kedinginan.sambil menyeret koper yang berukuran sedang.
" Ya Allah sekarang aku harus kemana?ayah ,bunda Sera nggak sanggup Sera ingin ikut sama kalian ...." Serunya sambil terus berjalan gontai tanpa tujuan menyusuri trotoar jalanan.
Hujan tidak juga reda,sementara tubuh sera sudah menggigil hebat.wajahnya yang putih bersih itu mulai nampak pucat disertai dengan bibirnya yang juga ikut pucat dan terus saja menggumam tidak jelas.
Dia sangat bingung tidak tau harus kemana tidak ada teman dan sanak keluarga disini.yang dia mintai pertolongan dan tempat berlindung.mengingat kedua orang tua terlahir sama sama anak tunggal.
Tiba tiba saja kepalanya sangat berat.sekelilingnya seolah olah berputar.dan penglihatannya pun mulai gelap dan
Bruk.
Tubuh Sera pun langsung ambruk di tengah jalan dan tak sadarkan diri lagi.
Tak lama kemudian tiba tiba saja sebuah mobil sport warna merah berhenti.lalu di susul dengan sosok pria memakai jas hitam keluar dari mobil sambil membawa payung.Sebelumnya hampir saja mobil tersebut menggilas sosok tubuh mungil yang tergeletak di tengah jalan tersebut.
Beruntung saja Pria tersebut sempat melihat dan menginjal pedam rem mobilnya dengan mendadak.
Perlahan pria itu mendekati Sera yang masih tergeletak lalu,setelah jarak diantara mereka sudah dekat.betapa terkejunya pria itu melihat sosok wanita yang kini tergeletak lemah dijalan
" Sera...."Pekiknya dengan keterkejutannya.
" Sera..bangun sera.." Ucapnya sambil menggoncangkan tubuh sera,lalu sesekali menupuk pipi sera.merasa tak ada respon pria itu langsung membopong tubuh Sera dan membawanya masuk kedalam mobil.
Setelah dirasa posisi sera yang tengah di duduk an di kursi samping kemudi sudah aman,tak lupa juga memasukan koper sera,pria itu dengan langkah cepat memutar langkahnya dan masuk ke dalam mobil dan duduk dibalik kursi kemudi.
Setelah itu langsung mulai menancapkan gas mobilnya.
" Bertahanlah sera...aku tidak akan membiarkanmu terluka.." Ucapnya lirih sambil menahan hawa dingin yang juga menelusup tubuhnya yang juga ikut basah kuyup.
_Bersambung_
Jangan lupa tinggalkan jejaknya jika suka
__ADS_1
Happy reading