Di Ujung Dendam

Di Ujung Dendam
Bab 10. Kembali Pulang.


__ADS_3

Tidak terasa, hari-hari berlalu dengan sangat cepat. Kondisi kesehatan Leon pun terus menunjukkan peningkatan. Selama sebulan ini, dia sudah bisa berjalan walau harus banyak istirahat.


Seperti hari ini, dia banyak menghabiskan waktu untuk membaca dokumen-dokumen perusahaan yang sudah sangat lama ditinggalkan. Dia ingin cepat-cepat kembali bekerja supaya lelah yang dirasakan sang adik segera berpindah padanya.


Klek.


Leon menoleh ke arah pintu saat mendengar seseorang sedang membuka pintu ruangannya, dan tampaklah seorang gadis dengan senyum manisnya berjalan ke dalam ruangan.


"Liora," panggil Leon yang ternyata sudah menunggu kedatangan sang adik.


"Kakak lagi apa?" tanya Liora dengan rona bahagia diwajahnya saat ini.


"Enggak lagi apa-apa." Leon langsung menutup dokumen yang tadi dia baca. "Cuma lagi mikirin adik kakak yang cantik ini." Dia mencoba untuk mengalihkan perhatian.


Liora menatap sekilas ke arah dokumen yang dibaca sang kakak tadi, dia tau jika kakaknya berusaha keras untuk segera bekerja.


"Kata Dokter, hari ini kakak udah boleh pulang," ucap Leon yang sedang memberitahu sang adik dengan wajah berbinar.


"Tentu saja. Kakakkan sudah sehat sekarang," balas Liora yang memang sudah tahu jika hari ini sang kakak sudah diperbolehkan untuk pulang. Namun, Dokter melarang Leon untuk bekerja dan masih harus banyak istirahat.


Tidak berselang lama, masuklah Arya, Alex, dan Zarga yaitu personil lengkap untuk menjemput tuan dan noma muda mereka. Melihat semua berkumpul di ruangannya, mendadak Leon merasa sedih. Matanya mulai berkaca-kaca membuat semua orang menjadi bingung saat melihatnya.


"Ada apa, Leon? Apa kau merasa sakit?" Arya langsung mendekat untuk memeriksa kondisi laki-laki itu, dia takut jika Leon masih merasa sakit.


"Terima kasih."


Belum sempat Arya memeriksa keadaan Leon, tiba-tiba laki-laki itu mengucapkan sesuatu sambil menangis membuat mereka semua semakin khawatir.

__ADS_1


"Ada apa, Kak?" Liora yang berada di samping sang kakak pun mendadak jadi panik, dia memegang lengan kakaknya dengan erat.


"Terima kasih banyak atas bantuan kalian selama ini. Terima kasih karna telah melindungi dan menyayangi Liora, aku tidak tau akan jadi seperti apa adikku kalau tidak ada kalian," ucap Leoan dengan lirih dan terisak.


Jelas sudah maksud dari tangisan Leon saat ini. Tentu dia merasa sangat berterima kasih dan berhutang budi pada mereka semua, yang selama ini telah mengurus keluarganya dengan baik.


"Hais, apa-apaan sih kau ini," gerutu Arya sambil memukul lengan sahabatnya yang menangis itu. "Liora itu bukan orang lain, dia itu adik kami juga. jadi udah sepatutnya kami menjaga dan menyayanginya. Benarkan?" Dia bertanya pada Alex dan Zarga untuk meminta persetujuan dari mereka.


"Benar, Tuan. Tuan tidak perlu merasa seperti itu, kami benar-benar menyayangi nona muda sebagaimana Anda menyayanginya." Ucapan Alex dibenarkan oleh Arya dan juga Zarga.


Leon tersenyum hangat melihat orang-orang yang sudah sangat membantunya itu, dia lalu menggenggam tangan sang adik seraya tersenyum dengan hangat.


Setelah semua proses selesai, mereka bergegas pergi dari rumah sakit untuk kembali ke rumah. Momen mengharukan pun terjadi lagi pada saat penyambutan Leon. Para pengawal dan pelayan tidak kuasa untuk menahan tangis, saat melihat tuan muda mereka kembali sehat dan bisa berada di tengah-tengah mereka lagi.


"Terima kasih untuk segala do'a dan kerja keras kalian untuk keluargaku, aku sungguh sangat menghargainya. Semua kebaikan kalian akan aku ingat selamanya," ucap Leon dengan senyum tulus di wajahnya.


Selesai acara tangis-tangisan, mereka berkumpul ditaman samping rumah mewah itu. Liora telah menyiapkan sedikit kejutan untuk menyambut kedatangan sang kakak, dia menyiapkan semua makanan dan minuman kesukaan Leon.


Terlihat mereka semua sedang asyik bersenda gurau. Ada yang berceloteh tidak ada habisnya, ada yg hanya sekedar menikmati makanan, bahkan ada yang sekedar bernafas ditempat itu. semua sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


Tak.


Tak.


Tak.


Seorang lelaki paruh baya memasuki rumah Liora dan berjalan mendekat ke arah mereka dengan buket bunga besar ditangannya.

__ADS_1


"Paman?" Leon menoleh ke arah orang yang dipanggilnya paman, lelaki itu mendekat dan langsung memeluknya dengan hangat.


"Selamat atas kesembuhanmu," ucap lelaki paruh baya bernama Daniel sambil tersenyum hangat. Dia lalu melerai pelukan itu, dan menyerahkan buket bunga yang dibawa pada Leon.


"Terima kasih, Paman." Leon menerimanya dengan penuh suka cita.


"Bagaimana kabar paman?" Liora juga datang menghampiri mereka, sudah lumayan lama juga dia tidak bertemu dengan sang paman.


"Sangat baik, Liora," jawab Daniel sambil menepuk bahu gadis itu.


Dialah Daniel Grazielle. Adik kandung dari ayah Liora dan juga Leon. Dia mengembangkan kerajaan bisnisnya di negara M, tetapi sesekali dia akan datang untuk melihat keadaan para keponakannya.


"Apa Delila tidak ikut, Paman? Sudah sangat lama aku tidak melihatnya," tanya Leon yang memang sudah rindu dengan adiknya itu.


"Sebenarnya dia ingin ikut ke sini, tapi karna ada sesuatu hal yang mendesak, mungkin lain kali dia akan datang," jawab Daniel sambil duduk di kursi yang ada di tempat itu.


Kemudian mereka kembali saling bercengkrama dan melepas rindu. Sesekali mereka mengulang kisah masa lalu yang telah mereka lewati, dan telah menjadi kenangan untuk terus disimpan dalam memori hati dan pikiran.


Begitulah kehidupan. Kenangan yang lama akan berganti dengan kenangan baru. Membawa berjuta pelajaran yang berharga untuk melalui setiap permasalahan yang terjadi. Sedih dan senang, susah dan bahagia, semua mempunyai porsinya masing-masing.





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2