
Setelah Liora setuju untuk merayakan hari ulang tahunnya, mereka semua merasa sangat senang dan antusias mempersiapkannya. Semua orang sibuk dengan tugas dan pekerjaan mereka masing-masing.
Seperti Alex yang saat ini sedang mengecek gedung yang akan digunakan untuk pesta,
terlihat dia juga menelpon di sana sini untuk memastikan pekerjaan yang lain selesai pada saat sebelum acaranya dimulai.
"Apa semua sudah selesai?" Leon menghampiri Alex yang sedang memperhatikan dekorasi bunga.
"Sudah,Tuan," jawab Alex sambil masih memperhatikan bunga tersebut.
Leon mengernyit heran saat melihat laki-laki itu, dia ikut memperhatikan apa yang Alex lihat. "Apa yang kau lihat?" Dia merasa penasaran.
"Tidak ada, Tuan." jawab Alex kembali sambil mengalihkan pandangannya ke arah Leon.
Leon merasa sangat penasaran karena tidak biasanya Alex tertarik dengan sesuatu, dan anehnya malah tertarik pada bunga.
"Saya hanya melihat bunga, Tuan," ucap Alex kembali dengan jujur. Dia jadi bingung, memangnya apa yang salah dengan itu?
"Aku tau kalau kau liatin bunga." Leon menjadi kesal. "Memangnya aku buta apa." Dia berucap dengan membuang muka sebal.
Alex mengernyitkan kening dengan tidak mengerti, dia hanya memeprhatikan bunga karena cantik. Namun, kenapa tuannya malah marah seperti itu?
"Semua sudah selesai, Tuan," lapor Zarga pada Leon yang baru saja tiba di tempat itu. Dia bertugas untuk mengundang seluruh keluarga, kolega bisnis, pejabat dan masih banyak yang lainnya. Termasuk para anggota Bloods, tentu mereka tidak boleh ketinggalan.
"Ya sudah," ucap Leon sambil berlalu meninggalkan mereka.
Zarga menatap kepergian Leon dengan bingung. "Loh, ada apa?" Dia bertanya pada Alex.
Alex hanya mengedikkan bahu, dia juga tidak tahu apa yang terjadi. Sepertinya Leon sedang dalam mode sensitif saat ini. Dia lalu mengikuti langkah Leon walaupun lelaki itu sudah jauh, dan memutuskan untuk kembali ke kantor.
Sementara itu, di kafe Vero terlihat Sally dan juga Samuel sedang berada di sana. Mereka tengah membahas tentang acara ulang tahun Liora malam ini.
"Aah, senangnya," ucap Sally saat menerima undangan pesta dari Liora.
"Cih, lebay," cibir Samuel, dia terlihat memulai perang dengan gadis itu.
"Dih, sibuk," balas Sally acuh. Dia tidak ingin merusak momen bahagia ini.
__ADS_1
"Dua hari kemaren kau ke mana, Sam?" tanya Vero yang juga ada di tempat itu.
"Negara M." Tanpa sadar Samuel memberitahu Vero di mana kebaradaannya semalam karena terlalu fokus dengan ponsel.
"Negara M?" tanya Vero dengan tajam. Suaranya sedikit kuat sampai membuat Sally yang ada di sampingnya menatap heran, sedangkan Samuel yang baru sadar langsung kelabakan. Dia merutuki mulutnya yang tidak punya rem.
"Dasar bod*oh." Samuel mengutuki dirinya sendiri.
"Eh, i-itu aku ada bisnis di sana." ucap Samuel dengan gugup, dia malah terlihat sangat mencurigakan sekarang.
"Bisnis?" tanya Vero sarkas membuat Samuel sampai keringat dingin.
"Kenapa memangnya?" sela Sally. dia merasa Samuel terlihat sangat gelisah saat ini, tidak seperti biasanya.
"Apa kau menyelidiki masalah Liora?" tanya Vero lagi, dia merasa temannya sedang menyembunyikan sesuatu darinya
"Ti-tidak," bantah Samuel dengan cepat, dia sampai mengibas-ngibaskan tangannya.
Vero menghela napas kasar. Tentu saja dia tidak percaya dengan ucapan Samuel, tetapi kalau pun dia memaksa pasti laki-laki itu tetap tidak akan memberitahunya.
"Setelah pesta Liora, aku akan berangkat ke negara M," ucap Vero tiba-tiba membuat Samuel yang sedang minum langsung menyemburkannya ke tubuh Sally.
"Maaf, aku gak sengaja." Samuel merasa bersalah karena membuat baju Sally menjadi basah, dan bergegas memberikan tisu.
"Memangnya kau dukun main sembur-sembur orang," cerca Sally, dia langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari semburan maut Samuel.
Sementara itu, Vero terus memperhatikan Samuel. Dia semakin yakin kalau temannya itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya. "Aebenarnya apa yang sedang kau sembunyikan dariku, Sam?" Dia bertanya dengan tajam.
"Maksudmu?" Samuel pura-pura tidak mengerti.
"Jangan berpura-pura lagi, Sam. Aku tahu ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku," ucap Vero tegas.
Samuel menjadi bingung sendiri. Kalau dia terus menghindar pasti Vero akan terus curiga, tapi tidak mungkin juga dia mengatakannya.
"Kebetulan aku ada perjalanan bisnis ke sana, jadi sekalian menyelidiki masalah itu," ucap Samuel memberi alasan, dia berharap Vero tidak bertanya yang lainnya.
Vero mencoba untuk percaya apa yang diucapkan oleh sahabatnya itu. Memang semalam dia sempat menyelidiki masalah itu juga, tapi dia tidak mengakses langsung ke negara M. Dia tidak mau kalau sang ayah tau apa yang sedang dia kerjakan.
__ADS_1
"Hasilnya?" Vero terlihat percaya dengan apa yang Samuel ucapkan.
Lalu Samuel menceritakan semuanya, tetapi dia tidak memberitahu Vero kalau pengirimnya itu adalah klan Zander.
"Dasar bajing*an," umpat Vero yang merasa benar-benar emosi.
"Aku sudah mengatakannya pada mereka, mereka pasti bisa menyelidiki lebih lanjut," ucap Samuel. Semalam dia langsung menelpon Alex dan memberitahu apa yang sudah dia dapatkan.
Vero terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi nanti dia akan kembali menyelidikinya.
"Aku mau pulang," seru Sally yang baru keluar dari kamar mandi.
"Biar ku antar," tawar Samuel, dia langsung menyambar kunci mobilnya dan beranjak dari sofa.
"Tidak mau," tolak Sally dengan ketus, sepertinya dia masih marah karena kejadian tadi.
"Astaga, gitu aja marah. Aku kan gak sengaja," bela Samuel karena dia memang benar-benar tidak sengaja.
Sally masih membuang muka, dia enggan melihat ke arah makhluk itu.
"Ya udah, sebagai permintaan maaf, ayo aku traktir makan!" bujuk Samuel, dia tersenyum dengan sangat manis.
"Bukan traktir makan, tapi traktir baju baru. 'kan bajuku basah kau buat," ucap Sally. Sepertinya dia sedang mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Cih, dikasi hati minta jantung. Ya udah, ayo!" balas Samuel, tetapi dia tetap menuruti keinginan Sally.
Sally bersorak senang saat mendengarnya, dia ingin membeli baju untuk pergi ke pesta Liora. Kemudian mereka pamitan pada Vero dan bergegas pergi dari sana.
"Agle, sebenarnya siapa dia ini?" gumam Vero. dia merasa kalau Agle itu bukan berasal dari negara ini. Laki-laki itu cukup cerdik memanfaatkan orang lain untuk menutup jati dirinya.
"Baiklah, untuk sementara lupakan itu," ucapnya sambil merogoh sesuatu dari saku jasnya. "Kau pasti terlihat sangat cantik saat memakai ini, Liora."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.