
Sally terus mematung ditempat, debaran jantungnya sangat kuat terdengar. Dia terus melihat langkah Alex yang semakin menjauh darinya.
"Ada apa denganku?" Sally benar-benar tidak bisa mengontrol detak jantungnya sendiri, dia merasa takut sekaligus berdebar karena Alex.
"Apa aku jatuh cinta?" Mencoba untuk menjernihkan pikirannya.
Setelah merasa tenang, Sally melanjutkan langkahnya untuk pergi ke ruangan Liora. Dia ingin melihat keadaan wanita itu setelah mendapat kabar dari Samuel jika Liora dirawat di rumah sakit.
"Permisi," ucap Sally saat sudah berada di depan ruang perawatan Liora. Dia mengintip dari pintu ruangan itu yang sedikit terbuka.
Vero dan Liora yang sudah berada di dalam ruangan itu langsung melihat ke arah pintu saat mendengar suara seseorang. "Sally? masuklah." Vero berjalan ke arah pintu, dan mempersilahkan wanita itu untuk masuk.
Sally menganggukkan kepalanya sambil melangkah masuk ke dalam ruangan, dia berjaalan ke arah Leora dengan buket bunga besar ditangannya.
"Semoga anda cepat sembuh, Nona," ucap Sally sambil memberi apa yang dibawanya.
"Terima kasih, Sally." Liora tersenyum sambil mengambil buket itu dengan senang. "Silahkan duduk." Dia lalu mempersilahkan wanita itu untuk duduk.
Sally melirik ke arah Alex karena hanya ada satu kursi kosong tempat itu, dan kebetulan ada di sampaing laki-laki itu. Dia jadi tidak berminat untuk duduk.
"Tidak apa-apa, Nona." Sally memilih berdiri dari pada duduk di samping Alex.
Menyadari hal itu, entah kenapa Alex bangun dan berdiri ke dekat jendela. Dia melirik Sally seakan berkata duduklah di kursi itu.
"Aku pasti sudah gila." Alex tidak tahu apa yang sedang dia lakukan.
Sally duduk di tempat itu dengan penuh keraguan membuat Vero tersenyum simpul. Untuk menghilangkan kecanggungan, dia lalu bertanya bagaimana keadaan Liora saat ini, juga ap yang terjadi sehingga bisa masuk rumah sakit.
Setelah berbincang cukup lama, Sally memutuskan untuk pulang karena masih ada pekerjaan yang harus dia lakukan. Dia segera pamit pada Liora, dan mendo'akan semoga wamita itu cepat sembuh.
"Ayo, aku akan mengantarmu! Kau tidak bawa mobil 'kan?" tawar Vero.
"Eh, gak usah. Aku bisa naik taksi," tolak Sally sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Dia memang tidak bawa mobil karena lelah jika harus menyetir sendiri.
"Tidak apa-apa, Sally. Lebih baik diantar saja," ucap Liora dengan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Tidak perlu, Nona. Vero harus menemani Anda di sini, biar nona cepat sembuh." Sally mengedipkan sebelah mata pada Vero dengan senyum penuh arti.
Liora menggelengkan kepalanya saat melihat apa yang Sally lakukan, semetara Vero memalingkan wajahnya karena merasa malu dan salah tingkah.
"Aku yang akan mengantarmu," ucap Alex tiba-tiba sambil berjalan keluar dari ruangan itu, membuat semua orang tersentak kaget, terutama Sally yang menatap laki-laki itu dengan tercengang.
"Apa aku gak salah dengar?" Vero merasa aneh, kenapa tiba-tiba laki-laki itu ingin mengantar Sally pulang?
"Pergilah, Sally. Jangan biarkan dia menunggu terlalu lama," ucap Liora membuat Sally terkesiap.
"Ka-kalau gitu saya permisi, nona." Tanpa menunggu jawaban dari Liora, Sally langsung tancap gas berlari ke arah luar untuk menyusul langkah Alex.
"Lucu sekali sih dia," Liora benar-benar merasa terhibur melihat itu semua. "Pasti akan seru kalau dia menjalin hubungan dengan Alex, dia pasti akan mengguncang kehidupan laki-laki kaku itu." Dia tergelak membuat Vero juga ikut tertawa.
Mereka tidak bisa membayangkan jika Sally sampai bersama dengan Alex. Sally yang ceroboh dan cerewet bersatu dengan Alex yang kaku dan datar, sungguh pasangan yang sangat menarik.
Sementara itu, di area parkir rumah sakit terlihat Alex sedang menunggu Sally disamping mobilnya. Dari kejauhan Sally berlari-lari untuk menghampirinya.
Hah, hah, hah. Sally berdiri di hadapan Alex dengan napas yang tersengal-sengal, keringat nya juga sudah mengalir disekitar tubuh.
Tin.
Suara klakson mobil Alex seketika mengagetkannya. Refleks Sally langsung membuka pintu dan masuk ke dalam mobil laki-laki itu.
"Aku bukan supir," ucap Alex tajam saat Sally duduk di kursi bagianbelakang.
Sally mencebikkan bibirnya sambil kembali keluar dan pindah duduk ke samping Alex. "Kenapa dia gak sekalian bilang sih?" Dia menjadi kesal sendiri.
Alex lalu melajukan mobilnya menuju jalanan. Sepanjang perjalanan mereka, tidak ada yang bersuara di dalam mobil itu. Suasana terasa menegangkan sampai membuat Sally berusaha bernapas tanpa menimbulkan suara.
"Apa sepanjang jalan harus kayak gini terus?" Sally terlihat sangat tidak nyaman,dia melirik ke aray Alex yang fokus mengemudikan mobil. "Aku tidak tahan lagi!" Dia merasa sesak, dan memutuskan untuk mengakhirir ketegangan ini.
"Tuan," panggil Sally, berusaha untuk bicara pada Alex.
"Aku tidak memintamu untuk bicara," ucap Alez dengan sarkas membuat Sally terkesiap.
__ADS_1
"Apa-apaan sih dia ini? tadi dia yang mau mengantarku, tapi kenapa sekarang seperti sedang menyiksaku?" Sally benar-benar tidak habis pikir dengan lelaki yang ada disampingnya saat ini.
"Kenapa tuan mengantar saya?" Sally tidak peduli, bahkan jika Alex marah sekalipun.
"Bukannya kau senang kalau bisa bersamaku?" ucap Alex tanpa melihat ke arah Sally, entah setan apa yang sedang merasukinya saat ini.
"Hah?" Sally tersentak kaget dengan apa yang Alex katakan. "A-apa maksudnya?"
Alex langsung diam dan tidak ingin lagi bicara, karena saat ini mulutnya sedang kacau dan mengeluarkan kata-kata yang tidak seharusnya.
"Apa Tuan suka dengan saya?" tanya Sally yang kelepasan bicara. Dia menutup mulutnya sendiri dengan wajah memerah menahan malu.
"Pede sekali kau," ucap Alex sambil melirik ke arah Sally, sepertinya dia tidak sadar kalau sebenarnya dia juga sama pd nya dengan gadis itu.
Cih. Sally melengos ke samping. Apa salahnya jika bertanya? Pikirnya.
Tidak berselang lama, mereka sampai ke lokasi pemotretan Sally. Dia bergegas untuk turun dari mobil itu. "Terima kasih karenaa sudah mengantar saya." Dia berucap sambil menundukkan kepalanya. Terlihat enggan untuk bersitatap mata dengan Alex.
Lama menunggu tetapi tidak ada jawaban dari lelaki itu, akhirnya Sally memilih untuk langsung pergi dengan perasaan kesal setengah mati.
"Jangan berharap apapun dariku, kau tidak akan pernah mendapatkannya,"
Sally menghentikan langkahnya saat mendengar suara Alex, dia lali berbalik, dan menatap laki-laki itu dengan tajam. "Memang apa yang saya harapkan? Apa saya berharap anda suka pada saya? Cinta pada saya?" Suaranya terdengar menggebu-gebu. Dia seperti sedang mengungkapkan isi hatinya.
"Aku tidak tertarik sedikit pun dengan cinta," jawab Alex sambil melihat Sally dengan tajam. Pandangan mereka saling bertemu, seakan waktu berhenti saat itu juga.
"Kalau kau tidak tertarik, maka aku yang akan menarikmu agar kau tertarik," ucap Sally dengan tajam. Dia lalu berbalik dan langsung melangkah pergi dari tempat itu.
Alex yang melihat itu tersenyum samar. entah apa yang sedang dia pikirkan. "Coba saja Sally, aku menantangmu."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.