Di Ujung Dendam

Di Ujung Dendam
Bab 37. Hari yang Malang.


__ADS_3

Keesokan harinya, tampak Leora berjalan ke arah kamar sang kakak dan mengetun pintu kamarnya. "Kak!" Dia memanggil sang kakak agar segera bangun.


Hening.


Tidak ada jawaban dari dalam. Liora berpikir mungkin sang kakak masih terlelap di bawah selimut tebalnya.


Alex yang baru keluar dari kamarnya terkejut saat melihat nona mudanya sedang berdiri di depan kamar Leon. "Nona?" Dia segera menghampiri Liora membuat gadis itu menoleh ke arahnya.


"Tumben jam segini kakak belum bangun?" tanya Liora sambil melihat ke arah jam yang tergantung di dinding.


Alex juga ikut melihat ke arah jam. Memang tidak biasanya Leon belum bangun dijam segini.


"Mungkin tuan muda terlalu lelah, Nona." Dia menjawab seadanya saja.


"Apa kakak terlalu banyak kerjaan dikantor?" tanya Liora, sekarang dia memang jarang pergi ke perusahaan dan ingin fokus mencari siapa yang sudah menyerangnya.


"Lumayan banyak, Nona. Tapi sebagian sudah di handel oleh Zarga dan yang lainnya," jawab Alex.


Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka yang langsung mengalihkan perhatian Liora dan Alex. Tampaklah Leon dari dalam kamar, dan dia terkejut saat melihat mereka di depan kamarnya.


"Loh, ngapain kalian di sini?" tanya Leon yang terlihat baru selesai mandi karena rambutnya masih sedikit basah.


"Kami menunggu kakak," jawab Liora dengan jujur.


"Maaf ya, kakak terlambat bangun," ujar Leon sambil kembali menutup pintu kamarnya.


"Tidak kok, cuma gak biasanya kakak bangun sesiang ini," ucap Luora sambil mengajak Leon untuk turun ke bawah.


Alex terus memperhatikan tuan mudanya. Dia yakin kalau Leon pasti tidak bisa tidur akibat kejadian tadi malam, terlihat kantung mata laki-laki itu yang sedikit gelap dan sembab.


"Kalian lama sekali sih?" gerutu Arya yang sudah menunggu lumayan lama dimeja makan.


"Selamat pagi Tuan, Nona." sapa Zarga yang ada di tempat itu juga.


Terlihat Leon dan Liora menganggukkan kepala mereka pada Zarga, sementara mencebikkan bibir pada saat melihat Arya.


"Kau juga." Tunjuk Arya pada Leon. "Tumben bangun kesiangan?" Dia menatap dengan kesal


"Bisa diam tidak?" sinis Liora, telinga nya terasa panas mendengar omelan Arya. Dia lalu mendudukkan tubuhnya ke samping sang kakak, yang sudah lebih dulu duduk di tempat itu.


Sementara yang lain hanya geleng-geleng kepala saja. Mereka sudah tidak heran melihat keributan yang terjadi saat ini.


"Hari ini kakak istirahat saja, biar aku yang ke kantor," ucap Liora disela-sela makannya, dia ingin sang kakak istirahat supaya tidak terlalu lelah.


"Tidak perlu, kakak gak papa kok, Sayang. Lagian hari ini kakak ada jadwal bertemu dengan investor penting," tolak Leon sambil mengaduk-aduk makanannya, sepertinya dia tidak punya napsu makan hari ini.


"Jangan terlalu lelah, Leon. Ingat kesehatanmu." Arya kembali mengingatkan kalau tubuh laki-laki itu belum pulih total.


Leon mengangguk paham. Dia sama sekali tidak merasa lelah, dia hanya merasa tidak nyaman dan tidak enak dengan perasaan yang sedang dirasakan saat ini.


"Hari ini ada yang ingin aku diskusikan dengan ?mereka semua, apa kakak bisa ke kantor dengan Kenzie?" tanya Liora, sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu pada ketiga lelaki yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Tentu, Sayang," jawab Leon. Kemudian dia kembali melanjutkan makannya walau sama sekali tidak napsu, karena tidak ingin membuat mereka khawatir.


"Setelah ini ikut aku ke ruang kerja," perintah Liora pada semua orang yang ada di sana, termasuk Arya juga.


Mendengar perintah sang majikan membuat mereka saling pandang satu sama lain. "Apa nona tau sesuatu?" Mereka mulai menerka-nerka.


"Tapi kakak ada-" Arya tidak dapat melanjutkan ucapannya karna tatapan tajam Liora serasa menusuk jantung, membuatnya harus segera menutup mulut.


Tidak berselang lama, terlihat Kenzie datang dan menghampiri mereka semua. Rupanya tadi Liora sudah menghubunginya untuk menjemput sang kakak.


Kenzie langsung menyapa mereka semua, khususnya Leon dan juga Liora yang sedang menatapnya.


"Kau sudah sampai?" tanya Leon yang sudah siap dengan tas kerjanya.


"benar, Tuan." Kenzie menganggukkan kepalanya, kemudian mengikuti langkah Leon yang beranjak pergi dari sana.


Sementara Liora dan yang lainnya langsung berjalan ke arah dimana ruang kerjanya berada. Mereka semua berdiri tepat dihadapannya seperti seorang terdakwah yang habis melakukan kesalahan dan menunggu hukuman datang.


"Apa yang terjadi pada kakakku?" Liora langsung bertanya pada mereka, dia tidak ingin membuang-buang waktu.


"Sia*l!" Mereka sudah bisa menebak kalau Liora pasti mengetahui sesuatu.


"Apa maksudmu?" tanya Arya pura-pura tidak tahu dan tidak mengerti maksud dari pertanyaan Liora.


"aku tidak ingin bertanya dua kali."


Liora sudah mengeluarkan ultimatumnya menbuat mau tidak mau mereka harus menjawab pertanyaannya.


"Kak Alex?" Karena tidak ada yang menjawab pertanyaannya, Liora langsung bertanya pada Alex.


Alex sendiri serasa ingin mati saja. saat ieora menyebut namanya, mulutnya sudah otomatis akan terbuka lebar.


"Maaf, Nona." Alex menundukkan kepalanya, dia merasa bersalah atas apa yang terjadi. Sudah pasti nona mudanya akan murka.


"Liora." Arya terlihat cemas, dia juga merasa serba salah sekarang.


"Jawablah selagi aku masih menunggu." Sepertinya Liora sudah mulai habis kesabaran.


Mereka melihat ke arah Arya, berharap kalau dia yang akan menceritakan semuanya pada Liora. Semakin mereka tidak mengatakannya, maka gadis itu akan semakin murka.


Huh, Arya menghela nafas kasar. Dia merasa sedikit kesal dengan yang lain karena harus selalu dia yang menceritakan semuanya, baik dengan Leon maupun Liora.


"Liora, kakakmu meminta kami untuk merayakan hari u-ulang tahunmu," jelas Arya, dia mengatakannya sambil menundukkan kepala. Begitu juga yang lain, mereka sudah ketar ketir menunggu reaksi gadis itu.


Liora diam, dia sudah menduganya. Sang kakak pasti ingin merayakan hari ulang tahunnya dengan meriah. Sekilas dia memejamkan mata dan menghirup udara dalam, mencoba untuk mengontrol emosi.


"Lakukan semua yang diinginkan kakakku."


Mendengar ucapan Liora, mereka langsung mengangkat kepala. Terlihat tidak ada yang terjadi dengan nona muda mereka, dia tetap terlihat tenang dikursinya.


"Apa yang kau yakin?" Arya terlihat tidak setuju dengan apa yang dikatakan Liora.

__ADS_1


"Apa kalian menceritakan semuanya ?" tanya Liora, mengabaikan ucapan Arya.


"Benar, kami menceritakan semuanya. Jadi sudah jelas kami tidak akan menyiapkan acara apa pun untukmu."


Jelas jawaban Arya mengguncang mereka semua di tempat itu. Untuk pertama kalinya dia mengatakan hal seperti itu pada Liora. Alex pun langsung melihat ke arahnya dengan pandangan bingung bercampur kesal.


Sedangkan Luora sendiri menatap tajam pada Arta, tangannya mengepal erat dan wajahnya terlihat menahan emosi.


"Kenapa? Kau tidak suka?" Arya sengaja memancing emosi Liora. Entah apa tujuannya yang pasti bukan hanya Liora yang terlihat emosi, tapi Alex jauh lebih emosi.


"Kalau kau tidak suka-"


"Cukup, Arya. Kau sudah sangat lancang." Alex memotong ucapan Arya, dia sampai maju mendekat ke arahnya laki-laki itu.


"Kenapa? bukannya kita cuma mengatakan hal yang sebenarnya?" ucap Arya tegas dengan rahang yang mengeras.


"Kau-"


"Cukup." Liora menghentikan perdebatan mereka, suasana pun sudah mulai memanas.


"jangan merasa dirimu baik-baik saja, Lora. Kau jauh dari kata baik sekarang." Arya kembali mengeluarkan suaranya, tapi sudah dengan intonasi yang rendah.


Ternyata Arya sengaja memancing Liora untuk mengetahui sejauh apa gadis itu bisa mengendalikan emosi. Mungkin untuk hal lain Liora bisa tenang menghadapinya, tapi tidak untuk yang satu ini. Semakin Liora memendam gejolak emosinya, maka itu akan semakin memperburuk mentalnya.


"Aku baik-baik saja," ucap Leora.


Arya maju mendekat kearahnya. "Kau tidak baik-baik saja." Dia berucap dengan tajam sambil memegang tangan Liora dan mengangkatnya ke atas.


Terlihat tangan Leora mengepal kuat sampai meninggalkan luka ditelapak tangannya akibat goresan kuku yang menancap kuat di sana.


"Ini yang kau bilang baik-baik saja?" bentak Arya pada Liora, suaranya sampai membuat Zarga terlonjak kaget.


"Akku akan baik-baik saja, aku akan mencoba untuk baik-baik saja," teriak Liora tak kalah nyaring dari Arya, dia menghempaskan kuat tangannya yang dipegang oleh laki-laki itu.


Dari arah luar, pintu dibuka oleh seseorang. Dia langsung berjalan ke arah Leora dan memeluknya tubuh wanita itu dengan erat.


Semua terkejut melihat keberadaannya, bagaimana mungkin Leon kembali? Sedangkan Liora yang dipeluk sang kakak tak kuasa untuk menahan air matanya.


"Sudah, Sayang." Leon mencoba untuk menenangkan sang adik, dia tidak mau terjadi sesuatu dengan Liora.


"I-ini, ini semua salahku." Liora mulai menumpahkan segala apa yang ada dihatinya.


"Tidak Sayang, tidak." Leon terus memeluk sang adik berharap akan membuat Liora lebih tenang.


"Semua salahku, kalau bukan karna aku, mama dan papa hiks-" Liora terus meracau, dia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang telah terjadi pada kedua orang tuanya.


Leon terus berusaha menenangkan sang adik dengan pelukan dan kasih sayang yang dia berikan., sementara yang lain hanya bisa diam dengan tatapan sendu.


Liora menjadi histeris. Dia mulai kehilangan kendali, tapi Leon terus berbisik mengatakan kalau semua bukan salahnya. Dia terus menenangkan sang adik sampai akhirnya Liora jatuh pingsan.


"Ya Tuhan, Leora."

__ADS_1


__ADS_2