Di Ujung Dendam

Di Ujung Dendam
Bab 64. Pelaku Pembunuhan.


__ADS_3

Samuel dan Vero terlonjak kaget saat Liora mendobrak pintu apartemen itu, tapi tentu saja yang mendobrak adalah Alex dan juga Zarga dengan raut wajah menyeramkan.


"Liora?" pekik Vero yang terkejut melihat kedatangan gadis itu, penampilan Liora terlihat sangat berantakan dengan bercak darah diseluruh pakaian wanita itu. Sebenarnya apa yang sudah terjadi?


"Apa yang terjadi padamu, Liora?" tanya Vero sambil memegang tangan gadis itu, tetapi Liora segera menepis pegangan tangan Vero dan beralih menatap Samuel dengan tajam.


Liora berjalan cepat ke arah Samuel, lalu satu tamparan mendarat dipipi laki-laki itu membuat semua yang ada di sana membulatkan mata dengan terkejut dan tatapan tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.


"Bajing*an, beraninya kau!" ucap Liora dengan tajam sambil mencengkram kuat kerah kemeja Samuel. Apa yang dia lakukan jelas membuat Vero dan Samuel merasa terkejut, dan mereka bertanya dengan apa yang gadis itu lakukan saat ini.


"Liora, apa yang terjadi?" tanya Vero dengan heran, sedangkan Samuel hanya diam menerima perlakuan gadis itu padanya. Dia mulai bisa menduga kalau mereka pasti sudah tahu soal siapa yang menyerang orang tua Liora, tetapi kenapa malah dia yang ditampar?


"Tutup mulutmu, Cavero Zander!" bentak Alex pada Vero.


Dada Vero bagai dihantam batu besar saar mendengar bentakan Alex, dia bahkan sampai mematung di tempatnya sambil melihat ke arah Liora yang juga sedang menatapnya tajam. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?


"Katakan, apa yang dilakukan orang tuaku sampai kalian tega membunuhnya, hah?" tanya Liora dengan tajam, dia sampai menggertakkan giginya menahan gejolak emosi yang menguasai perasaan saat ini.


Sedangkan Vero langsung terkejut saat mendengar ucapan Liora, dia merasa bingung san tidak mengerti dengan apa yang gadis itu lakukan.


"Membunuh orang tuanya? Apa klan Zander yang melakukannya?" Vero menjadi bertanya-tanya.

__ADS_1


"Jawab!" teriak Luora sambil melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar.


"Apa maksud ucapannya, Samuel ?" tanya Vero


Samuel melihat kearah Vero tapi tidak sanggup untuk mengatakan semuanya.


"Apa pria gila itu yang membunuh orang tua Liora?" bentak Vero kemudian, dadanya naik turun menahan gejolak emosi.


Liora, Alex dan Zarga melihat ke arah Vero, mereka baru tahu kalau selama ini Vero tidak tau sepak terjang ayahnya.


"Samuel Fernandez, jawab aku!" teriak Vero sambil mengguncang tubuh Samuel, kemudian Samuel jatuh bersimpuh di hadapan Vero.


"maafkan saya tuan muda."


"lihat saja. aku akan menghancurkan seluruh kehidupan kalian." ucap Leora tajam sambil berlalu dari sana diikuti oleh Alex dan juga Zarga


Tinggallah Vero dan Samuel di apartemen itu. Vero masih tetap berdiri seperti patung. dan Samuel juga masih bersimpuh dihadapannya.


"Kenapa, kenapa dia selalu menghancurkan hidupku? Aakkhhh!" Vero menghancurkan semua barang-barang yang ada di tempat itu, sedangkan Samuel tidak bisa berbuat apa-apa. Dia bahkan takut hanya untuk sekedar menegakkan kepalanya.


"Maafkan aku, Vero. Maafkan aku." Samuel benar-benar merasa berdosa karena membuat Vero hancur seperti itu.

__ADS_1


"Kenapa, Samuel? Kenapa laki-laki itu tidak bisa membiarkan aku hidup dengan tenang dan selalu menggangguku, kenapa?" teriak Vero seperti orang gila, dia benar-benar dibuat murka oleh ayahnya sendiri.


"hiks hiks... kenapa.. hiks kenapa..." Vero bersandar di dinding sampai jatuh terduduk di lantai. Htinya benar-benar sakit mengetahui bahwa ayahnya lah yang telah menghancurkan kehidupan orang yang sangat dia cintai.


Betapa hancurnya hati Liora saat mengetahui fakta itu. Vero tidak bisa membayangkan jadi sebenci apa Leora padanya saat ini.


"Tidak cukup menghancurkan hidupku, dia bahkan menghancurkan kehidupan orang yang aku cintai..." gumam Vero benar-benar merasa hancur.


Vero tidak bisa begini. Dia harus bertemu langsung dengan ayahnya, dan harus berdiri tegak menatap sang ayah. Dia harus membalas semua sakit yang telah dia rasakan.


"Tunggu, Vero. Kau mau kemana?" cegah Samuel keadaan masih seperti ini, dan dia cemas melihat keadaan Vero.


"Aku harus memberi perhitungan padanya. aku harus menghancurkannya," ucap Vero.


"Tidak Vero." Cegahnya lagi, Samuel sebenarnya bisa melihat cinta yang sangat besar dimata tuannya untuk Vero, tapi lain hal dengan Liora. dia sendiri tidak tau ada masalah apa tuannya dengan keluarga Grazielle.


"Aku tidak akan membiarkannya, ucap Vero kemudian sambil melepas pegangan tangan Samuel.


"Tuan besar sangat mencintaimu, Vero. dia sangat menyayangimu," ucap Samuel, dia tidak mau terjadi pertumpahan darah antara anak dan ayah itu.


"Benar, dia sangat mencintaiku sampai harus menelantarkan ku sejak aku masih dalam kandungan ibuku. Dia sangat mencintaiku sampai tidak peduli bahkan saat ibuku mati, dia juga sangat mencintaiku sehingga tega menghancurkan keluarga dari orang yang aku cintai. Benar, itulah cintanya," ucap Vero sinis dengan mata yang menyala merah.

__ADS_1


Samuel tidak mampu berkata apa-apa lagi mendengar semua ucapan Vero. Dia tidak bisa membantah semua ucapannya karna memang itulah yang terjadi. Kemudian Samuel memilih untuk mengikuti ke mana Vero pergi, dia harus selalu berada di samping teman sekaligus tuan mudanya itu.


Vero melajukan mobilnya menuju bandara. Sepertinya tekadnya sudah bulat untuk bertemu dengan ayahnya, membuat Samuel tidak bisa lagi menghalangnya hanya tetap berada disisi Vero. Walau apa yang terjadi nanti, dia akan tetap berdiri tegak melindungi Vero dengan nyawanya.


__ADS_2