Di Ujung Dendam

Di Ujung Dendam
Bab 53. Pengusiran yang Mengesalkan.


__ADS_3

Selama ini, Marvel memang tidak pernah berhubungan dengan Liora, bahkan sampai membuatnya berpikir untuk membatalkan perjanjian itu kalau memang Marvel tidak menginginkannya. Namun, beberapa bulan yang lalu, Marvel datang menemuinya dan mengatakan akan menikah dengan gadis itu membuatnya menyerahkan segala keputusan pada sang putra.


"Tapi apa mereka berdua memang sama-sama saling mencintai?" Mona masih terlihat khawatir. dia tidak mau kalau sampai hidup Marvel menjadi berantakan, apalagi karena pernikahan yang seharusnya tidak dijadikan bahan perjanjian.


"Tentu saja," jawab daddy Marco dengan yakin. Dia tidak tahu saja kalau Liora sama sekali tidak menyetujuinya. "Sudahlah, turuti saja apa mau Marvel. Dia sudah dewasa, dia bisa menentukan hidupnya sendiri." Sambungnya.


"Cih, tapi ini semuakan gara-gara ulahmu," cibir mommy Mona ngedumel kesal.


Akhirnya mereka memutuskan untuk menyerahkan semuanya pada Marvel, biar laki-laki itu sendiri saja yang menentukan jalan hidupnya.


☆☆☆


Setelah mendengar kabar kakaknya akan menikah, membuat Maily merasa sangat senang. Pasalnya dia mengetahui bagaimana kehidupan sang kakak saat berada di luar negeri. Marvel hidup dengan bebas bersama wanita yang menjadi partnernya, yang sebentar lagi akan muncul ke permukaan.


Maily tidak mau melihat Marvel terjerumus lebih jauh lagi dalam pergaulan bebas. Dengan semangat yang membara, Maily pergi mengunjungi rumah calon kakak iparnya dengan mengendarai mobil mahal pemberian sang kakak.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya Maily sampai juga ke tempat yang dia tuju. Dia segera keluar dari mobil dan mendatangi petugas keamanan.


"Selamat pagi, Pak," sapa Maily pada penjaga gerbang.


"Se-selamat pagi, Nona," balas penjaga tersebut dengan gugup, karena biasanya dia yang menyapa tapi kali ini malah dia yang disapa.


"Aku ingin bertemu dengan calon kakak iparku," ucap Maily dengan ceria tanpa ditanya.


Penjaga itu mengerutkan keningnya, jelas dia bingung siapa calon kakak ipar gadis yang ada di hadapannya saat ini.


"Ups, maksudku aku ingin bertemu dengan nona Liora." Maily meralat ucapannya saat menyadari apa yang dia ucapkan sebelumnya.


"Silahkan, Nona." Penjaga itu segera membukakan gerbang untuknya.

__ADS_1


Setelah memarkirkan mobilnya, Maily segera turun dan berjalan masuk ke dalam rumah. "Permisi." Dia sedikit berteruak ketika sudah berada di depan pintu sambil melihat-lihat ke dalam rumah itu.


Leon yang sedang berjalan ke arah dapur berbalik dan melihat siapa tamu yang datang pagi-pagi kerumahnya. "Siapa?" Dia bertanya dengan tajam saat sudah berada tepat di hadapan Maily.


"Aku ingin bertemu dengan calon eh maksudku kak Liora," jawab Maily, lain yang ditanya lain pula jawabannya.


"Liora lagi keluar," ucap Leon dengan sedikit ketus, matanya menatap wanita itu penuh selidik.


"Kau siapa?" tanya Maily yang memang tidak tahu kalau Liora mempunyai kakak.


Leon sampai mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan gadis itu. "Dasar tidak sopan. Beraninya bicara seperti itu? Seharusnya 'kan aku yang tanya dia itu siapa." Dia jadi merasa kesal sendiri.


"Seharusnya aku yang tanya. Kau itu siapa, pagi-pagi udah bertamu ke rumahku?" tanya Leon dengan tajam.


"Rumahmu?" tanya Maily heran.


"Ooh, gitu. Ternyata kakaknya calon kakak iparku," ucap Maily sambil manggut-manggut. Dia menganggukkan kepalanya karena paham dengan apa yang laki-laki itu katakan.


"Tunggu, kakak ipar katanya?" Leon terkejut mendengar ocehan gadis yang ada di hadapannya saat ini.


"Kau adiknya Marvel?" tanya Leon cepat.


"Iya," jawab Maily sambil menganggukkan kepalanya. Dia lalu tersenyum lebar ke arah Leon.


"Mau apa kau datang ke sini?" tanya Leon ketus. Terlihat jelas ketidak sukaan dari sorot matanya.


"Kan udah ku bilang mau ketemu kak Liora." Maily kembali mengulang apa yang dia ucapkan tadi untuk yang ketiga kalinya.


"Dia gak ada, cepat sana pergi," usir Leon sembari menunjuk ke arah pintu keluar.

__ADS_1


"Apa? Kenapa kau mengusirku?" tanya Maily dengan tidak terima. Memang apa salahnya sehingbga diusir seperti ini?


"Udah sana pergi." Desak Leon seraya mendorong tubuh Maily agar keluar dari rumahnya.


"He!" jerit Maily dengan kesal melihat perbuatan lelaki kurang ajar itu. Bisa-bisanya dia benar-benat diusir.


Setelah berhasil mendorong Maily keluar, Leon langsung mengunci pintu rumahnya agar wanita itu tidak bisa lagi masuk ke dalam rumahnya.


Brak.


"Dasar gila!" umpat Maily memaki Leon, dia sampai menghentak-hentakkan kakinya karna kesal melihat perbuatan Leon.


Karena sudah merasa cukup lelah, Maily memutuskan untuk segera pulang. Dia mengendarai mobilnya dengan perasaan kesal, hingga akhirnya kembali lagi ke rumah.


"Loh, kok udah pulang?" tanya Marvel saat melihat kedatangan Maily. Dia merasa heran dan bertanya-tanya. "Udah jumpa sama calon kakak iparmu?" Dia kembali bertanya sambil melihat ke arah sang adik.


"Enggak!" jawab Maily ketus sambil berjalan ke arah kamarnya. Terlihat jelas jika dia sedang sangat kesal saat ini.


"Kenapa dia?" gumam Marvel saat melihat tingkah aneh Maily.


Maily terus melangkahlan kakinya menuju kamar. "Dasar cowok gila, cowok sin*ting. kurang ajar!" jerit Maily kesal mengingat perbuatan Leon padanya. "Awas kau." Ucapnya sambil memukul-mukul boneka yang ada dihadapannya.





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2