
Waktu bergulir dengan sangat cepat, terlihat senja mulai menyapa para penduduk bumi untuk memberitahukan kalau petang akan segera datang.
Di suatu tempat, terlihat Samuel sedang uring-uringan. Sudah hampir seharian ini dia mengurung diri dikamar dan tidak bersemangat untuk melakukan apapun.
"Aarggh!" teriakan Samuel menggema di ruangan itu, dia benar-benar sedang merasa frustasi saat ini. "Apa yang harus aku lakukan?" Dia membentur-benturkan kepalanya ke bantal.
Tiba-tiba suara bel apartemennya terdengar, entah siapa yang sedang berkunjung ke tempatnya sore-sore begini. Namun, dia tetap membiarkannya karena sedang sangat tidak mood untuk melakukan apapun.
Tidak berselang lama, ponsel Samuel berdering dan terlihat Vero sedang menelponnya.
"Halo," ucap Samuel.
"Kau ada dirumah kan? Kenapa gak buka pintuuu?" Vero meneriakinya dari telpon membuat Samuel terpaksa menjauhkan benda pipih itu dari telinganya, suara laki-laki itu benar-benar menggelegar.
Dikarenakan malas untuk membuka pintu, Samuel memberitahu kode pin untuk masuk ke dalam apartemennya. Dia lalu beranjak keluar dari kamar.
"Ada apa?" tanya Samuel yang sedang berjalan menuruni anak tangga, sementara Vero sudah duduk disofa.
"Cepat, kita harus pergi!" ajak Vero sambil melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya.
"Ke mana?" Samuel benar-benar tidak memiliki gairah hidup lagi rasanya.
Vero yang menyadari jika ada yang aneh dengan laki-laki itu menyipitkan kedua matanya. "Kau kenapa?" Dia bertanya dengan heran, dan juga curiga.
"Biasalah, soal kerjaan." Samuel asal menjawab pertanyaan Vero, tidak mungkin dia mengatakan yang sesungguhnya.
"Ooh, gitu." Vero mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu kembali mengajak Samuel untuk ikut bersamanya. "Ayo, kita harus pergi kerumah Liora!"
"U-untuk apa?" Samuel terkejut saat mendengarnya Vero menyebut nama wanita itu, yang kembali mengingatkannya atas perintah sang tuan besar.
Vero mengernyit heran saat melihat reaksi Samuel. Tidak biasa nya laki-laki itu sampai terkejut seperti itu, tetapi dia mencoba untuk tidak membahasnya.
"Nanti malam mereka akan mengintrogasi orang-orang yang kita tangkap semalam," ucap Vero menjelaskan.
"Kalau gitu tunggu sebentar, aku mau ambil jaket."
Samuel lalu beranjak dari tempat itu dan kembali masuk ke dalam kamar untuk mengambil sesuatu. Setelahnya mereka segera pergi dari tempat itu menuju rumah Liora, di mana semua orang sudah berkumpul di sana.
"Sayang, kau masih harus banyak istirahat," ucap Leon pada sang adik, tetapi Liora menggelengkan kepala. Dia ingin melihat langsung orang-orang yang berhasil ditangkap oleh para anak buahnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, saatnya mereka untuk pergi ke markas bloods dengan untuk melihat tersangka penyerangan itu.
__ADS_1
"Selamat datang, Nona," sambut semua anak buah Liora sambil menundukkan kepala mereka.
Liora hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab sapaan dari mereka. Leon terlihat mengamati semua yang ada di sana karena memang ini kali pertama dia datang ke tempat itu.
Sama halnya dengan Leon, Vero juga terlihat mengamati semuanya. Namun, dia lebih fokus pada Liora. Bagaimana mungkin wanita yang dia cintai bisa menjadi pemimpin dari sekelompok mafia?
"Mereka ada di bawah, Nona." Lapor Zarga pada nona mudanya. mereka semua langsung menuju tempat di mana semuanya akan dieksekusi.
"Apa-apaan ini?" Alex murka melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Ruangan itu kosong, dan tidak ada satu orang pun di sana. Dia lalu menatap tajam ke arah Zarga, seakan meminta pertanggung jawaban atas apa yang terjadi.
Sementara itu Zarga sendiri juga terlihat sangat terkejut, bagaimana mungkin semua yang dia kurung ditempat itu lenyap begitu saja?
Semua orang membeku di sana, mereka juga kaget melihat apa yang terjadi. Seketika Zarga berlutut tepat di hadapan Leora, dia merasa telah lalai membuat para tawanannya bisa lepas begitu saja.
"Bangunlah, apa yang kau lakukan?" Leon terlihat sangat tidak suka melihat itu. Dia ingin menarik tangan Zarga tetapi ditahan oleh Arya.
Arya menggelengkan kepalanya untuk menahan apa yang akan dilakukan Leon, dia takut itu akan semakin memanaskan suasana. Apalagi sedari tadi Liora diam ditempatnya tidak bersuara.
"Maafkan saya, Nona." Zarga bersimpuh dikaki Liora memohon ampun atas kesalahannya. Semua orang memandang pada gadis itu, mereka semua merasa tegang akan diamnya.
"Liora." Leon memanggil sang adik. dia juga cemas karna Liora tidak mengucapkan sepatah katapun pada mereka, bahkan raut wajahnya pun terlihat sangat menyeramkan.
"Leora!" Panggil Leon, Arya dan Vero, tetapi wanita itu tetap melangkahkan kakinya.
Liora terus berjalan tanpa menghiraukan panggilan mereka, sedangkan mereka semua langsung mengejar ke mana Liora pergi. Pikiran mereka sudah sangat kacau saat ini.
"Tunggu Liora, dengarkan kakak." Leon menarik tangan Liora tapi langsung ditepis oleh gadis itu, sepertinya kali ini dia benar-benar sudah tidak bisa menahan amarahnya.
Liora terus berjalan ke arah seseorang yang tengah berdiri tegak tidak jauh dari tempatnya saat ini, terlihat dia mengeluarkan pisau dari kantong belakang celananya membuat mereka semua semakin dilanda kecemasan.
Liora berhenti tepat dihadapan Geo, anak buahnya. Terlihat Geo menundukkan kepalanya saat melihat Liora, dan tiba-tiba ....
Kres.
Liora mengiris pergelangan tangan Geo membuat lelaki itu menjerit merasakan sakit ditangannya.
Semua mata melotot melihat pemandangan itu. Apalagi Leon dan Vero yang memang tidak menyangka kalau Liora akan melakukan hal seperti itu, karena suara teriakan Geo semua anggota Bloods berkumpul ditempat itu. Mereka juga terkejut melihat nona muda mereka yang sedang murka dengan teman mereka sendiri.
"Beraninya kau!" teriak Liora dengan penuh emosi.
"No-nona."
__ADS_1
Plak.
Geo bahkan tidak bisa lagi bicara karena sebuah tamparan keras mendarat diwajahnya yang berasal dari Liora, dia bahkan kembali mengangkat pisaunya hendak menunjamkannya ke tubuh lelaki itu.
"Leora!"
"Tidak, jangan Tuan." Alex menghentikan Leon yang ingin mendekati Leora.
"Apa yang kalian lakukan? Hentikan adikku sekarang juga!" teriak Leon pada mereka semua, dia tidak sanggup melihat Liora seperti itu.
Vero juga terlihat mengepalkan tangannya, dia juga merasa sangat sedih melihat kemarahan gadis itu.
"Biar saya yang menghukum pengkianat ini, Nona," ucap Kenzie.
Mendengar apa yang dikatakan Kenzie, tentu membuat semua orang bertambah syok. Baik anggota Bloods maupun keluarga Liora, bahkan Alex sendiri juga tidak mengetahuinya.
Rupanya pada saat Liora selesai dioperasi, malam harinya dia sadar. Pada saat yang sama Kenzie masuk untuk memeriksa keadaan dan dia terkejut melihat nona mudanya sudah sadar.
Liora lalu memerintahkan Kenzie untuk menyelidi anggota mereka sendiri, karena dia sangat yakin jika ada mata-mata di dalam anggota.
Ternyata Kenzie memang sudah curiga pada Geo. Lelaki itu beberapa kali diam-diam pergi dan menelpon seseorang. Setelah diselidiki, rupanya identitas yang selama ini dia pakai bukanlah miliknya, tetapi milik orang yang sudah mati.
Setelah mengetahui itu, Kenzie memainkan peran dengan pura menelepon Liora di dekat laki-laki itu agar dia mendengar semua ucapannya.
Geo mendengar semua ucapan Kenzie dan manjadi gelisah apabila itu terjadi pasti mereka akan membocorkan siapa yang telah memerintahkan mereka.
Geo lalu berusaha mencari cara untuk mengalihkan anggota bloods agar tidak curiga padanya, dan Kenzie memuluskan rencananya. Termasuk mengalihkan perhatian Zarga walau cuma beberapa menit, Dia berhasil melepaskan para tawanan tanpa tau kalau ternyata Kenzie yang telah mambantunya.
Leora menatap tajam pada lelaki yang sudah berlumuran darah dihadapannya. "Berani sekali kau mengkhianatiku?" Dia berucap dengan tajam sambil memainkan pisau yang ada ditangannya membuat semua yang melihat itu merasa ngilu.
"Nona, saya tidak tau apa yang Anda bicarakan." Geo masih membela diri.
"Kau pikir aku tidak tahu semuanya, hah? Jangan sampai kesabaranku habis karena perbuatanmu, atau pisau ini akan benar-benar menembus jantungmu."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1