
Setelah kepergian Liora, Vero dan yang lainnya kembali duduk di tempat tadi. Suasana klub terlihat sangat ramai. Dentuman musik menggema di tempat itu, diiringi tarian dan teriakan dari orang-orang yang sudah dibuat mabuk kepayang oleh minuman.
Vero terus menenggek minuman yang ada di atas meja. Matanya menatap tajam ke arah di mana Liora pergi tadi, dan dia sama sekali tidak mendengarkan ucapan Samuel.
"Menurutmu bagaimana, Vero?" tanya Samuel, tetapi Vero tetap diam sambil terus menenggak minumannya.
Dengan cepat, Sally yang ada di samping Vero langsung menyenggol lengan laki-laki itu membuat Vero terkesiap.
"Ada apa?" tanya Vero pada Sally.
"Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan, Vero? Sejak tadi aku bertanya, tapi kau malah tidak menjawabnya." Samuel membuang muka kesal. Sejak tadi dia sudah bercerita panjang kali lebar kali tinggi, tetapi laki-laki itu malah tidak mendengarkannya.
"Maaf-maaf. Aku sedang memikirkan sesuatu tadi," ucap Vero sambil menepuk lengan Samuel, membuat temannya itu berdecak kesal.
"Sebenarnya ada apa denganmu, Vero? Akhir-akhir ini kau sering sekali melamun?" tanya Samuel. Dia merasa penasaran kenapa beberapa hari ini Vero sering melamun.
Vero diam sejenak karena bingung harus mengatakan perasaannya atau tidak, karena dia sendiri juga belum yakin 100 persen yakin.
"Ada apa, apa kau ada masalah?" tanya Samuel kembali membuat Vero menggelengkan kepalanya.
"Sepertinya aku sedang jatuh cinta pada seseorang,"
"Really?" teriak Sally membuat Vero dan Samuel terlonjak kaget. "Apa kau jatuh cinta padaku, Vero?"
Vero dan Samuel langsung mencebikkan bibir mereka saat mendengar ucapan wanita itu, sementara Sally sendiri sudah bergelayut manja dilengan Vero.
"Aku masih normal, Sally. Mana mungkin aku jatuh cinta denganmu,"
"Apa? Memangnya aku bukan wanita apa." Sally mendengus sebal membuat Samuel menjadi gemas.
__ADS_1
"Kau memang wanita, tapi wanita jadi-jadian. Aarrgh." Samuel memekik kaget saat tangan Sally mencubit perutnya dengan kuat, sementara Vero hanya menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah mereka.
Vero lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Benarkah dia telah jatuh cinta pada wanita itu? Selama berhari-hari dia terus memikirkan wanita itu, bahkan wajah wanita itu tampak jelas menari-nari di dalam kepalanya.
"Kenapa kau jadi diam, Vero? Sekarang cepat katakan siapa wanita yang sudah membuatmu jatuh cinta," ucap Samuel kemudian setelah bertarung dengan Sally.
Vero melirik ke arah Samuel yang juga sedang melihat ke arahnya. Dia lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan frustasi.
"Aku jatuh cinta pada Liora."
"Byur." Sally yang sedang menenggak minuman langsung menyemburkannya saat mendengar ucapan Vero, sementara Samuel menatap Vero dengan tidak percaya.
"Kau, kau bercanda?" tanya Sally dengan tajam, dan dibalas dengan gelengan kepala Vero.
"Aku tau kalau kalian pasti sangat terkejut saat mendengarnya, aku juga sadar jika aku tidak pantas bersanding dengan Liora. Tapi inilah kenyataannya, inilah yang aku rasakan," ucap Vero membuat Sally dan Samuel saling pandang.
Vero kembali menghela napas kasar. "Entahlah, aku juga tidak tau kenapa bisa menyukainya." Dia lalu mengusap wajahnya dengan helaan napas frustasi.
Sally menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat apa yang terjadi pada temannya itu, sementara Samuel hanya diam karena sedang memikirkan sesuatu.
"Jika soal status dan kekuasaan, maka Vero tidak kalah dari nona Liora. tapi, apa dia benar-benar jatuh cinta pada wanita itu?" Samuel merasa heran dan tidak percaya.
"Aku bisa mengerti kenapa kau jatuh cinta dengan nona Liora. Jelas semua lelaki akan menyukainya, bukan hanya karena dia cantik, tetapi karena menarik dan juga sukses," ucap Sally. Dia menarik napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya."
"Tapi dunia kita dan dia itu sangat jauh berbeda, Vero. Bagaimana mungkin seorang putri raja bersama dengan kita rakyat jelata?"
Samuel mengepalkan kedua tangannya saat mendengar ucapan Sally, dia yang sudah akan mengeluarkan suaranya untung saja masih bisa ditahan.
"Aku tau, Sally. Tapi apa salahnya jika bersama dengan rakyat jelata? Selagi aku bisa membahagiakannya, maka tidak ada yang salah dengan itu."
__ADS_1
Sally mendengus sebal sambil melihat ke arah lain. "baiklah, terserah kau saja. Tapi jangan lupakan tuan Alex yang selalu bersama dengannya, laki-laki itu pasti tidak akan membiarkan kau dekat dengan nonanya."
Yah, Vero sudah yakin akan hal itu. Apalagi dia sudah melihat betapa mengerikan orang-orang yang bersama dengan Liora.
"Aku akan mengurusnya."
Vero lalu beranjak bangkit dari kursi dan berjalan naik ke lantai 2, membuat Sally terkesiap. Dia yang akan mengejar laki-laki itu tidak bisa menggerakkan tubuhnya saat tanganya dicekal oleh Samual.
"Kita harus segera menyejarnya, Sam. Bisa gawat kalau Vero membuat keributan. Apalagi jika sampai berurusan dengan Liora.
"Tenanglah, Vero itu sudah dewasa. Dia pasti tau apa yang akan dia lakukan," ucap Samuel. Dia lalu meyakinkan Sally jika Vero pasti akan baik-baik saja.
Vero yang sudah berada di lantai 2, terlihat bingung di mana ruangan yang ditempati oleh Liora. Dia lalu mendudukkan tubuhnya ke sofa yang ada di tempat itu, sambil berharap jika salah satu anggota Liora keluar dari ruangan.
Bak pucuk dicinta ulam pun tiba. Belum lama Vero duduk di tempat itu, matanya melihat ke arah ruangan VIP nomor 5 di mana Alex dan beberapa orang baru saja keluar dari sana.
Sementara itu, Liora yang baru saja menyelesaikan urusannya sedang menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. Hari ini jadwalnya sangat padat, dia bahkan sama sekali tidak bisa istirahat.
"Hah, tubuhku lelah sekali," keluhnya sambil memejamkan kedua matanya.
"Kalau lelah pulanglah, kenapa masih di sini?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1