Di Ujung Dendam

Di Ujung Dendam
Bab 42. Calon Suami.


__ADS_3

Suasana yang tadinya dipenuhi dengan kebahagiaan kini berubah menjadi tegang, semua orang yang ada di sana bertanya-tanya siapa sebenarnya sosok lelaki yang sedang ada di hadapan mereka saat ini dan juga apa hubungan laki-laki itu dengan Liora.


Alex yang memang tahu siapa lelaki itu diam membeku. Keringatnya mengalir deras dengan jantung yang berdebar keras, dia bahkan sampai mengepalkan tangannya menahan keterkejutan.


"Alex, ada apa denganmu?" Arya bingung sendiri melihat reaksi Alex, tidak biasanya laki-laki itu seperti ini. Dia merasa ada sesuatu yang sedang Alex sembunyikan.


ama tidak bertemu, Liora," ucap laki-laki bernama Marvel itu kembali, dia membawa buket bunga untuk diberikan pada Liora.


Liora diam tak menjawab, tubuhnya bergetar dengan wajah pucat seperti melihat hantu. Leon yang menyadari itu langsung melangkah ke hadapannya, lalu menatap tajam pada lelaki yang juga sedang menatapnya juga


"Maaf, Anda siapa?" tanya Leon padanya.


Marvel tersenyum mendengar pertanyaan Leon. Lantas dia melirik ke arah Liora, wanita itu terlihat tidak ingin membuka suara dan mengenalkan siapa dia pada mereka semua.


"Apa adik Anda tidak pernah menceritakan tentang saya?" Bukannya menjawab pertanyaan Leon, dia malah balik bertanya pada laki-laki itu.


"Maksud Anda?" tanya Leon sarkas, dia tidak bisa menebak siapa lelaki itu sebenarnya.


"Aku kecewa, Liora. Aku kira kau sudah menceritakan tentang diriku," ucap Marvel pura-pura sedih, sepertinya dia ingin Liora sendiri yang menjawab pertanyaan dari Leon.


"Maaf Tuan, bisa kita bicara di sana?" Arya memilih angkat bicara. Dia menunjuk sebuah tempat di sudut ruangan, karena sekarang mereka sedang menjadi pusat perhatian.


"Dengan senang hat, Dokter," ucap Marvel sambil berjalan ke tempat yang ditunjuk oleh Arya.


Leon dan Arya juga mengikuti di belakang laki-laki itu, sedangkan yang lain tetap berada di tempat mereka masing-masing.


"Siapa dia sebenarnya?" Vero terlihat gelisah. perasaannya menjadi tidak menentu.

__ADS_1


"Bukanlah dia tuan Marvel Herious?" ucap Samuel tiba-tiba, rupanya sedari tadi dia memikirkan siapa sosok lelaki yang tiba-tiba datang ke hadapan mereka.


"Marvel?" tanya Vero sambil memalingkan wajah ke arah Samuel.


Seketika Liora pergi meninggalkan mereka dan mendekat ke arah di mana Marvel berada, dengan diikuti oleh Alex dan juga Zarga.


Vero melihat dengan sedih dia tidak sempat berbicara dengan Liora, bahkan dia tidka sempat memberikan hadiah dan meremas kotak yang ada disaku jasnya dengan erat.


"Mau ke mana kau?" tanya Samuel pada Sally yang terlihat ingin ikut bersama Liora.


"Ayo, ngapain kita di sini!" ucap Sally, dia menunjuk-nunjuk ke arah Liora.


"Tapi apa hubungan kita dengan mereka?" tanya Samuel, dia merasa kalau mereka tidak berhak bergabung ke sana.


"Siapa yang peduli sih?" ucap Sally dengan kesal, dia lalu meninggalkan Samuel dan Vero di tempat itu.


"hey ..., astaga anak itu!" geram Samuel, terlihat Vero juga mengikuti langkah Sally dan meninggalkannya. "Dasar mereka." Dia tidak punya pilihan lain selain mengikuti dua sahabatnya itu.


"Senang berkenalan dengan Anda, Tuan Marvel," ucap Leon juga sambil melepas jabatan tangan mereka.


"Liora, ini bunga untukmu. Aku sudah pegal dari tadi memegangnya," ucap Marvel sambil menyerahkan bunga itu pada Liora, sepertinya dia orang yang ramah dan mudah bergaul.


Liora mengambil bunga itu tanpa mengatakan apapun, bahkan ekspresinya pun tidak menunjukkan apa-apa.


Marvel tersenyum tipis, dia lalu beralih melihat ke arah Alex. "Apa kabar, Tuan Alex?" Dia menyapa dengan ramah karena sejak tadi laki-laki itu menatapnya dengan tajam.


"Saya baik, Tuan Marvel," jawab Alex dengan atmosfir sedingin es.

__ADS_1


"Em ..., jadi Tuan Marvel, apa Anda datang ke sini untuk bertemu dengan Liora?" tanya Arya, dia sudah penasaran dengan tujuan lelaki itu saat ini.


"Tentu saja, sudah lama aku tidak bertemu dengan calon istriku," jawab Marvel dengan ringan membuat semua orang terkesiap.


"Apa?" mereka memekik kaget dan tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Calon istri kau bilang?" Leon menatap dengan tajam, dia benar-benar merasa kaget.


Dada Vero bagai dihantam dengan batu besar saat mendengar ucapan Marvel, dia langsung melihat ke arah Liora yang sedang mengalihkan pandangan agar tidak bersitatap mata dengannya.


"Wah, kau benar-benar ya Liora. Bisa-bisanya gak cerita tentang calon suami mu sama kakakmu sendiri," decak Marvel, dia sampai menggeleng-gelengkan kepalanya.


Leon melihat ke arah sang adik yang juga sedang menatapnya, entah kenapa pandangannya itu menyiratkan luka yang cukup dalam.


"Baiklah, kalau begitu nikmati pestanya, Tuan," ucap Arya tiba-tiba, dia memilih mengalihkan pembicaraan karena suasana sudah cukup mencekam saat ini.


"Terima kasih, Dokter." Tanpa rasa bersalah, Marvel menarik tangan Liora untuk mendekat ke arahnya. Tentu saja itu semakin memancing api yang sedang berkobar dalam diri mereka.


Leon yang ingin mencegahnya dihalangi oleh Alex, laki-laki itu menggelengkan kepalanya pertanda untuk membiarkan mereka. Sedangkan Leon dan semua yang berada di sana menatap Alex dengan penuh tanda tanya.


Vero sendiri merasa panas dingin, hatinya serasa terbakar melihat pemandangan itu. "Calon suami?" Dia mengulang apa yang dikatakan lelaki itu tadi. Dia lalu berbalik dan pergi dari tempat itu.


"Vero, kau mau ke mana?" cegah Samuel, dia menarik tangan Vero yang ingin mengejar Liora.


"Minggir!"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2