Di Ujung Dendam

Di Ujung Dendam
Bab 48. Penolakan Marvel.


__ADS_3

Di sebuah restaurant terkenal di pusat kota, terlihat seorang pria sedang berjalan ke area privat room dengan jas yang membalut tubuhnya. Wajah yang tampan membuatnya sangat mencolok diantara yang lainnya.


"Maaf, saya terlambat," ucapnya sambil duduk tepat di hadapan Leon, yang sudah menunggunya.


Pria yang tak lain adalah Marvel terlihat menyunggingkan senyum manisnya pada Leon.


"Maaf sudah menganggu waktu anda," balas Leon, terlihat Alex mengamati suasana dari sudut ruangan bersama Davin, sekretaris pribadi Marvel.


"Tidak perlu sungkan, Kakak ipar," seru Marvel dengan santai.


Mendengar kata kakak ipar, entah kenapa perasaan Leon menjadi tidak karuan. Dia sangat tidak suka saat mendengarnya.


"Langsung saja, Marvel. Aku ingin membahas masalah Liora," ucap Leon tanpa embel-embel formal seperti yang dia ucapkan tadi.


Mendengar itu, tentu membuat Marvel tidak terkejut lagi. Dia sudah menduga pertemuan ini pasti ada hubungannya dengan Liora.


"Aku tidak setuju dengan pernikahanmu dan adikku." Leon langsung menolak dengan tegas perjanjian yang telah mereka lakukan di masa lalu.


"Kenapa?" tanya Marvel, dia seperti tidak ada beban saat mengatakannya.


"Pernikahan itu bukan suatu perjanjian, Marvel. Pernikahan harus didasari oleh cinta," ucap Leon penuh dengan penuh penekanan, sedangkan Marvel hanya diam mendengarkan. Dia menyeruput kopi yang ada di hadapannya.


Melihat itu, emosi Leon naik sampai ke ubun-ubun. Bagaimana bisa lelaki itu begitu santai menanggapi ucapannya?


"Lantas, kau ingin membatalkannya?" tanya Marvel.


"Tentu saja. Kau juga tidak mencintai adikku, Kan?" Leon lugas menjawab, dadanya sampai naik turun menahan emosi.

__ADS_1


"Kata siapa aku tidak mencintainya?" sinis Marvel, dia berkata seperti itu karena memang benar-benar tertarik pada Liora.


"Kau-" Leon langsung menarik kerah kemeja Marvel membuat makanan yang ada di atas meja menjadi berantakan.


"Apa yang anda lakukan?" teriak Davin sambil mendekat ke arah mereka. Belum sempat Davin melerainya, Marvel mengangkat tangan menandakan untuk tidak ikut campur.


"Kau jangan main-maina" bentak Leon, dia melepaskan dengan kasar cengkraman tangannya.


"Apa kau pikir aku sedang bermain-main?" tanya Marvel tak kalah tajam dari Leon. "Apa kau pikir aku tidak tau hubungan Liora dengan lelaki itu?"


Kata-kata yang Marvel ucapkan telak menghunjam dada Leon.


"Aku tidak peduli hubungan Liora dengannya, yang jelas dia sudah terikat janji pernikahan denganku. Suka atau tidak kau harus menerimanya," tambah Marvel dengan penuh penekanan, menandakan kalau apa yang dia ucapkan itulah yang akan terjadi.


Leon menggeram marah. Bagaimana bisa lelaki itu tetap tidak mau membatalkannya? padahal Marvel sudah tahu kalau wanita yang akan dia nikahi sudah mencintai orang lain.


"Bukan masalah itu, Marvel. Liora sudah ...." Leon tidak bisa melanjutkan ucapannya, tidak mungkin dia mengatakan dengan terus terang jika Liora mencintai laki-laki lain.


"Maaf, Kakak ipar, Aku tidak bisa, aku benar-benar ingin menikah dengannya," ucap Marvel, dia tersenyum saat teringat dengan wajah Liora. Entahlah, dia juga tidak tahu kenapa bisa menyukai wanita itu.


"Saya mohon, Tuan."


Alex tiba-tiba mengeluarkan suaranya, dia bahkan sampai menundukkan kepalanya dan memohon agar Marvel membatalkan pernikahan dengan Liora membuat laki-laki itu langsung tergelak.


Tawa Marvel terdengar menyeramkan pertanda bahwa dia benar-benar merasa kesal sekarang, bisa-bisanya mereka menolak mentah-mentah kehadirannya seperti ini. Harga dirinya terasa tercabik-cabik.


"Setelah dia menikah denganku, dia pasti akan melupakan Cavero Zander itu dan beralih mencintaiku. Jadi kalian tidak perlu lagi menolakku," ucap Marvel dengan tajam dia bahkan sampai menyebut nama kekasih Liora.

__ADS_1


Leon dan Alex tidak bisa lagi berkata-kata karena keputusan Marvel sepertinya tidak bisa lagi diganggu gugat, satu-satunya cara tinggal meminta Yara untuk bicara pada Marvel agar laki-laki itu membatalkannya. Mungkin jika Yara yang bicara laki-laki itu akan mengerti.


"Marvel, tolong pikirkan sekali lagi. Masih banyak perempuan di luar sana yang lebih dari-"


"Cukup!" potong Marvel, dia sudah tidak ingin lagi mendengar apapun. "Aku ingatkan sekali lagi, aku akan menikah dengan Liora. Siapa pun tidak bisa menghalanginya, jadi lebih baik kalian persiapkan saja semuanya." Dia berucap dengan cepat sambil pergi meninggalkan mereka diikuti oleh sekretarisnya.


Leon memijit kepalanya yang terasa berdenyut, dia tidak tau lagi harus melakukan apa untuk Liora.


"Tuan." Alex khawatir melihat tuan mudanya, dia takut Leon kembali down gara-gara masalah ini.


"Apa yang harus kita lakukan? Aku tidak bisa melihat Liora menderita," ucap Leon, dia tau benar sebesar apa rasa cinta antara Liora dan Vero.


Alex juga tidak tau apa yang harus dia lakukan, satu-satunya cara yaitu bertemu langsung dengan tuan Marco, ayah Marvel. Tuan Marco lah yang sebenarnya membuat perjanjian itu, mereka harus membujuknya agar membatalkan perjanjian yang telah dia buat.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Vero sedang melamun di ruangannya. Beberapa kali dia melihat nomor ponsel Liora tetapi tidak juga menelpon, dia bingung harus ngomong apa pada gadis itu. Ucapan Marvel terus terngiang-ngiang dipikirannya.


"Huh, aku harus menelponnya." Kemudian Vero langsung menelpon nomor Liora.


Lama menunggu, tetapi panggilan tak juga dijawab membuat dia terus menelpon dan hasilnya tetap sama.


"Apa Liora sengaja menghindariku?" gumamnya sambil terus menelpon gadis itu. "Setelah berhasil menyakitiku, sekarang kau malah menghindariku?"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2