Di Ujung Dendam

Di Ujung Dendam
Bab 38. Menyalahkan Diri Sendiri.


__ADS_3

Suasana di kamar Liora terlihat cukup tenang walaupun tergambar jelas kekhawatiran diwajah mereka semua, tetapi Arya meyakinkan mereka kalau Liora akan baik-baik saja.


"Kenapa Liora belum sadar juga?" Leon semakin gelisah. Sudah 30 menit berlalu tapi sang adik tidak kunjung membuka mata.


"Sabarlah." Hanya itu yang bisa diucapkan oleh Arya. Dia telah melakukan segala pemeriksaan, dan hasilnya Liora hanya mengalami syok sehingga membuatnya pingsan.


"Liora!"


Leon melihat gerakan tangan sang adik yang mengepal kuat, keringat juga mengucur deras dikeningnya padahal ada pendingin di ruangan itu.


"Sayang, Liora." Leon terus mencoba untuk membangunkannya sang adik, sedangkan yang lainnya hanya bisa berdo'a.


Dalam ketidaksadarannya, Liora bertemu dengan kedua orangtuanya. Mereka memeluknya dengan sayang sambil mengucapkan kata-kata yang baik untuknya, senyum indah juga terbit diwajah mereka menyiratkan kebahagiaan yang sedang dirasakan.


"Mama, Papa." Leora terus memanggil mereka saat bayangan itu perlahan mulai menjauh meninggalkannya.


"Sayang, kami mencintaimu. Sangat mencintaimu. Lupakan semua sakit yang bersarang dihatimu dan hiduplah dengan bahagia," ucap sang papa diiringi dengan senyum dan lambaian tangan mereka.


"Mama, Papa. Jangan tinggalkan aku, hiks huhuhuhu." Liora terus berlari untuk mengejar mereka tetapi kedua orangtuanya terus menjauh darinya.


"Tunggu aku Mama, Papa. Maafkan aku, hisk." Derai air mata terus mengalir diwajah cantik Liora. "Mama." Teriakannya menggema di tempat itu, dia lalu membuka mata dengan napas tersengal-sengal.

__ADS_1


Dengan sigap Leon langsung memeluknya. "Kakak di sini, Sayang. Kakak di sini." Dia berucap dengan lembut dan memeluk tubuh Liora dengan erat.


Napas Liora terasa berat dan putus-putus. Dia melihat ke sekeliling, ternyata apa yang dia rasakan tadi hanyalah mimpi.


"Kakak, hiks. Kakak." Liora menumpahkan segala sesak yang ada dihatinya selama ini. Jika dia dulu hanya ditemani oleh para anggotanya, sekarang sudah ditemani oleh sang kakak.


"Sudah, Sayang. Jangan menangis, kakak ada di sini." Leon mengusap kepala Liora, dia juga tidak tau harus bagaimana lagi untuk menenangkannya.


Kemudian Leon merenggangkan pelukan mereka, dia lalu menatap wajah sang adik yang terlihat sedikit pucat dengan mata sembab.


"Lihat, kau jelek sekali. Matamu udah bengkak sebesar biji kenari." kelakar Leon. Dia ingin membuat sang adik merasa lebih baik.


Liora hanya menatap wajah sang kakak dengan sendu, air mata kembali menetes diwajahnya tanpa mengucapkan satu kata pun.


"Ma-maaf, Kak. Maafkan aku," ucap Liora dengan bibir bergetar dan pandangan sayu, dia benar-benar tidak bisa mengendalikan diri sendiri saat ini.


"Kau tidak salah, Sayang. Jadi jangan minta maaf," ucap Leon sambil memegang wajah sang adik. "Semua sudah berlalu, kejadian itu bukan salah siapa pun. Dan sudah menjadi takdir untuk Kita." Dia berucap dengan Leon. kematian orangtua mereka memang sudah digariskan oleh sang pencipta.


"Jadi kakak mohon jangan menyalahkan dirimu sendiri, itu diluar kehendak kita, Sayang. Semua sudah ditentukan oleh Tuhan," Leon kembali, dia mencoba untuk memberikan ketenangan.


"Tapi aku yang-"

__ADS_1


"Apa kau mau buat mama sama papa sedih?" tanya Leon, terlihat Liora menggelengkan kepalanya. "Selama ini mama dan papa pasti merasa sangat sedih dengan kondisimu, kau ingat apa pesan papa untuk kita?" Dia kembali bertanha.


Liora berpikir sejenak, Mencoba mengingat-ingat kenangan lama mereka. Namun nihil. otaknya sedang tidak bisa mengingat saat ini.


"Papa bilang kita gak boleh sedih, kalau kita sedih pasti mereka akan jauh lebih sedih. kalau kita sakit, mereka juga akan merasa sakit," jelas Leon. "Sembuhkan luka yang ada dihatimu, Sayang. Kau tidak bersalah, kejadian itu adalah perbuatan seseorang yang iri melihat keluarga kita. Jadi tugas kita sekarang adalah menemukan siapa dia, dan kita harus menghukumnya. Benar, 'kan?" Dia berusaha untuk menyadarkan Liora bahwa tidak seharusnya menyalahkan diri sendiri.


"Benar, Liora. Jalau kita terus terpuruk seperti ini, pasti om dan tante akan merasa sangat sedih, lanjut Arya, dia mendekat ke arah mereka berdua. "Lihat wajah mereka." Dia menunjuk ke arah Alex dan yang lainnya. "Mereka sangat mengkhawatirkanmu. kami sangat menyayangimu, jadi bisa kau bayangkan bagaimana sedihnya om dan tante di surga sana." Sambungnya. Sebenarnya dia tidak tega mengatakannya, tapi Liora tidak boleh sampai terpuruk seperti dulu.


Liora melihat ke arah mereka semua. Memang terlihat jelas kekhawatiran diwajah mereka, bahkan mereka juga sampai meneteskan air mata. Begitu besar rasa sayang mereka untuknya.


"Maaf, maafkan aku." Liora menundukkan kepalanya, dia merasa bersalah karena selama ini banyak menyusahkan mereka. Dia tidak pernah sedikit pun memikirkan perasaan mereka. Dia merasa kalau dialah orang yang paling menderita didunia ini, tanpa dia sadari kalau sesungguhnya mereka juga pasti sama menderitanya dengan dia.


Liora kembali terisak dalam pelukan sang kakak. Dia benar-benar tidak bersyukur karena memiliki orang-orang yang setia berada di sampingnya, tetapi malah sibuk memikirkan


Alex merasa sangat sedih, begitu juga dengan yang lainnya. Bagi mereka, nona mudanya adalah seseorang yang paling penting dalam hidup. Mereka bahkan rela mempertaruhkan nyawa mereka untuknya.


"Sudah, Sayang. sudah cukup." ucap Leon lagi, tapi dia merasa lega karna melihat Liora sudah mulai membaik.



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2