Di Ujung Dendam

Di Ujung Dendam
Bab 18. Penemuan Awal.


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Liora dan yang lainnya sudah sampai di tempat tujuan. Mereka segera keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam kafe milik Vero.


"Selamat siang, Nona," sambut Nella dengan senyum cerah.


Liora menganggukkan kepalanya untuk membalas sapaan wanita itu. "Apa Vero ada di dalam?" Dia langsung bertanya di mana keberadaan Vero.


"maaf, Nona. Kak Vero sedang keluar bersama temannya, baru saja pergi."


Liora mengangguk paham, kemudian dia segera pamit dan berlalu pergi dari tempat itu. Tentu saja dengan tetap diikuti oleh Zarga dan juga Kenzie, yang berhasil mencuri perhatian orang-orang yang berada di tempat itu.


Mereka lalu memutuskan untuk langsung pergi menemui Samuel. Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, mereka bisa sekalian menikmati makan siang di sana.


Liora melihat ke arah jendela sambil memperhatikan setiap mobil yang berlalu-lalang, menambah keramaian jalanan. Pikirannya kembali mengingat saat dimana dia bertemu dengan Vero, senyum tipis terbit dibibirnya saat mengingat tingkah laki-laki itu.


"Kita sudah sampai, Nona." Suara Zarga menyadarkan Liora dari lamunan.


Kemudian mereka segera turun menuju ruang VIP restauran yang ada di depan mereka, terlihat sekretaris pribadi Samuel tengah menunggu kedatangan mereka.


"Selamat datang, Nona," sambut Sony, sekretaris Samuel. "Tuan sudah menunggu di dalam." Dia mempersilahkan Liora untuk masuk.


Liora, Zarga, dan Kenzie langsung masuk ke dalam ruangan itu. Ketika melihat kedatangan mereka, Samuel pun beranjak dari duduknya.


"Anda sudah datang, Nona." ucap Samuel sambil mempersilahkan Liora untuk duduk.


"Maaf membuat Anda menunggu," ucap Liora yang merasa bersalah karna datang terlambat dari waktu perjanjian mereka.


"Tidak apa-apa, Nona." Samuel menanggapi ucapannya dengan santai. "Lebih baik kita makan siang dulu." Dia memanggil pelayan untuk menyajikan makanan dan minuman untuk mereka.


Setelah selesai dengan masalah perut, mereka mulai membahas masalah inti dari pertemuan itu.

__ADS_1


"Sampai sejauh apa kalian menyelidikinya?" tanya Samuel memulai pembicaraan.


"Sampai kami mengetahui hubungan anda dengan tuan Barra Zander," jawab Zarga


"Sudah kuduga, mereka pasti tau." Samuel tidak kaget lagi.


"Memang benar bahwa saya adalah anak buah tuan Barra, tapi disini saya hanya menjalankan misi darinya. Untuk yang lain, saya sendiri yang melakukannya. Dan untuk misi itu pun saya rasa kalian pasti sudah mengetahuinya," jelas Samuel.


Samuel memang diberi kebebasan dari tuannya untuk menjalankan bisnis sendiri. Dia juga dibebaskan untuk berhubungan dengan siapa pun, baik dalam bisnis legal maupun dunia mafia. Yang penting dia bisa menjalankan misinya melindungi Vero dari segala serangan musuh-musuhnya.


"Apa tuan Vero benar-benar tidak tau soal identitas anda?" tanya Kenzie yang sedari tadi diam menyimak pembicaraan.


"Dia tidak mengetahuinya, dan jangan sampai dia tahu. Jadi tolong rahasiakan semuanya," pinta Samuel pada mereka.


"Kami tidak ada urusan dengan semua itu, jadi anda tidak perlu khawati," balas Liora membuat Samuel bernapas lega.


"Kami juga menemukan fakta bahwa orang yang melakukan penyerangan dan orang yang mencoba mengambil aset pribadi anda adalah orang yang sama," ujar Samuel setelah selesai mendengar rekaman itu.


"Kami membandingkan pola email yang mereka kirim pada saya dan pola pada pembobolan aset Anda. kami juga berpikir bahwa dia sengaja memancing saya untuk melakukan penyerangan supaya dia bisa lebih leluasa dalam system," tambah Samuel. Dia lalu memberikan data-datanya.


Liora dan Zarga melihat dengan teliti semua data yang diberi Samuel, mereka juga setuju dengan apa yang laki-laki itu ucapkan.


"Tapi Nona, apa sebelum ini Anda juga pernah diserang?" tanya Samuel.


"Ya, 2 kali. Dan ini yang ketiga kalinya," jawab Liora sambil mengingat semua penyerangan yang terjadi padanya.


"Apa mungkin semua penyerangan itu dilakukan oleh satu orang?" praduga dari Zarga yang masih melihat data yang ada ditangannya.


"Bisa iya, bisa juga tidak," jawab Samuel yang memang belum bisa menyimpulkan semuanya. "Sebagai seorang pembisnis, sudah jelas kita punya musuh di mana-mana. mereka yang ingin menghancurkan usaha kita melakukan berbagai macam cara untuk memuluskan rencananya. untuk itu 'kan kita terjun ke dunia hitam?"

__ADS_1


Terjun ke dunia mafia bukan hanya sekedar untuk bersenang-senang, atau hanya untuk menambah kekayaan ilegal, tapi juga untuk melindungi apa yang sudah mereka dapatkan.


"Baiklah, begini saja. Kalau ada informasi apapun yang kalian dapatkan, tolong segera hubungi kami. Kami harus memikirkan masalah ini dulu dengan yang lainnya," ucap Liora yang memang masih harus benar-benar memikirkannya.


"Baik, Nona." Samuel pun akan berusaha menemukan titik terang masalah ini.


"terima kasih atas bantuan Anda, saya sangat berhutang budi. Suatu saat nanti pasti akan saya bayar," ucap Leora sambil berdiri dan menyalami Samuel.


"Tidak masalah, Nona. Saya senang bisa membantu kalian," balas Samuel dengan senyumnya.


Dari awal menjalin kerja sama dengan Luora, Samuel memang sudah menyukainya. Bukan suka karena cinta tapi lebih pada rasa kagum melihat sosok Liora. Gadis yang kuat dan cerdas yang mampu berdiri tegak diatas kakinya sendiri, gadis yang teguh pendirian dan tidak kenal takut pada siapapun. Disaat gadis seusia Liora senang menghambur-hamburkan uang keluarga, wanita itu malah sudah mengembangkan kerajaan bisnisnya sampai ke mana-mana. Namun, dia juga tau cerita sedih tentang keluarga gadis itu.


Selesai dengan urusan mereka, Liora memutuskan untuk langsung pulang agar bisa merundingkan masalah ini dengan yang lainnya. Dia harus bergerak cepat sebelum Leon kembali bergabung di perusahaan. Entah kenapa hati kecilnya merasa jika dia tidak segera membongkar semuanya, maka keluarganya akan berada dalam bahaya.


Sementara itu, di tempat lain terlihat seorang pria sedang duduk di depan pusara seorang wanita yang sangat dicintainya. Matanya sayu memandang nisan yang bertuliskan nama kekasih hatinya, dia mencoba untuk mengingat setiap kenangan yang telah mereka lalui bersama.


Kemudian seorang pria berpakaian hitam mendekat kearahnya. "Kita sudah siap untuk rencana selanjutnya, Tuan." Dia melaporkan keadaan saat ini.


"Aku tidak mau lagi mendengar kegagalan. Pastikan kali ini berjalan sesuai dengan apa yang kuperintahkan. Jika kita tidak bisa menghancurkan Liora, maka kita harus menghancurkan kelemahannya, yaitu Leon," perintah laki-laki itu sambil berjalan menjauh dari pusara.


"Baik, Tuan."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2