Di Ujung Dendam

Di Ujung Dendam
Bab 35. Malam yang Indah.


__ADS_3

Hari panjang telah berlalu dan petang pun mulai datang. Awan jingga telah tampak diufuk barat untuk menyambut tenggelamnya sang surya.


Vero yang sedang berkutat dengan pekerjaannya melihat ke arah di mana jam berada. Waktu sudah menunjukkan pukul 05.30 sore, sudah saatnya dia pulang dan bertemu dengan sang pujaan hati. Dia segera membereskan pekerjaannya dan langsung berjalan keluar ruangan.


"Bagaimana pekerjaan kalian hari ini?" tanya Vero saat sudah sampai ditempat para karyawannya berada.


"Semua berjalan baik sebagaimana biasanya, Bos," jawab Riki, salah satu karyawannya.


"Baguslah. Aku masih ada acara lain diluar, jadi titip kafe ya," ucap Vero kemudian sambil menepuk pelan pundak karyawannya.


"Siap, Bos," jawab mereka bersamaan.


Vero segera melajukan mobilnya menuju rumah Liora, tapi sebelum ke sana dia memutuskan untuk pulang ke apartemennya dulu. Tentu dia harus berpenampilan baik supaya menarik hati sang kekasih.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Arya baru saja pulang dari rumah sakit dan langsung menuju rumah Liora. Jujur saja dia malas berada di apartemen sendirian, tetapi jika sangat lelah sekali barulah dia bersemedi di tempat itu.


"Wah, lelah sekali," dessah Arya sambil melemparkan tas kerjanya disofa samping tempat dia duduk.


Liora yang kebetulan ada di tempat itu juga hanya melirik saja, dia sudah biasa dengan semua tingkah ajaib makhluk itu.


"Apa Leon belum pulang?" tanya Arya sambil celingukan ke sana kemari.


"Belum," jawab Luora singkat sambil memainkan ponsel pintarnya.


"Tapi ngomong-ngomong, ke mana Zarga?" tanya Arya lagi, karena memang biasanya dimana ada Liora maka disitu ada Zarga, sama seperti Alex dulu.


"Keluar," jawab Liora singkat padat dan jelas.


"Kau sendiri mau kemana?" tanya Arya lagi tak ada habisnya, dia memperhatikan penampilan Liora dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Makan malam dengan Vero," jawab Liora jujur.


Arya yang ingin mengatakan sesuatu lagi kalah cepat dengan kedatangan bik Rose, yang mengatakan kalau Vero sudah menunggu diruang tamu.


Liora segera beranjak untuk menghampiri Vero dengan Arya yang mengekor di belakangnya. Dia memasukkan ponselnya ke dalam tas kecil dan berjalan cepat ke arah depan.


Mata Vero tak berkedip saat melihat penampilan Liora. Wanita yang dicintainya itu terlihat sangat anggun dengan dress berwarna biru muda selutut, dipadukan dengan hiasan indah yang dia pakai dirambutnya membuatnya tampak seperti seorang peri.


"Ehem," dehem Arya saat melihat Vero terpukau dengan penampilan Liora.


"Se-selamat sore, Tuan," sapa Vero saat melihat Arya, dia baru sadar kalau ada keberadaan orang lain di tempat itu.


"Gak usah panggil tuan, panggil aja kakak," ucap Arya agar semakin akrab.

__ADS_1


"Baik, Kak," balas Vero dengan senyum cerah dan anggukkan kepala, dia senang jika kehadirannya disambut baik oleh orang-orang yang ada di sekitar Liora.


"Kami pergi," ucap Liora sambil melangkah keluar rumah, dia malas kalau harus terus meladeni ucapan Arya yang tidak ada habisnya.


Melihat Liora berjalan keluar rumah, Vero segera pamit pada Arya dan bergegas mengejar langkah Liora yang sudab berdiri tepat di samping mobilnya. Dengan sigap dia pun membukakan pintu untuk wanita itu.


Setelah duduk di tempat masing-masing, Vero melajukan mobilnya ke sebuah restoran yang sudah dia pesan sebelumnya.


"Kau sangat cantik, Luora," puji Vero sambil sekilas melihat ke arah wanita itu, lalu kembali memperhatikan jalanan.


"Terima kasih," balas Liora dengan cepat.


Tidak berselang lama, mobil mereka sampai di tempat tujuan. Vero bergegas membukakan pintu untuk Liora dan mereka segera menuju ke privat room.


"Cantik," ucap Liora saat melihat dekorasi ruangan yang mereka tempati. Sepertinya Vero benar-benar menyiapkan makan malam mereka dengan baik.


"Kau suka?" tanya Vero sambil menuntun Liora untuk mendekat ke meja makan mereka.


"Iya," jawab Liora sambil terus memandang dekorasi yang sudah disiapkan oleh Vero.


"Aku senang dengarnya," ucap Vero dengan senyum cerah, ternyata tidak sia-sia dia secara khusus menyuruh pegawai restoran untuk menyiapkan semua ini.


Segala makanan dan minuman juga telah terhidang dihadapan mereka. Liora dan Vero segera menikmatinya dengan lahap dan saling melempar senyuman dan tatapan memuja.


Vero menarik selembar tisu dan langsung mengelapkannya ke sudut bibir Liora yang terkena saos. Tindakannya membuat wanita itu merasa kaget sampai menjatuhkan sendok.


"Tidak. Aku hanya sedikit terkejut," ujar Liora merasa tidak enak hati. "Pela-" Liora tidak dapat melanjutkan ucapannya karena Vero berniat untuk menyuapinya.


"Tidak perlu," tolak Leora merasa sedikit malu disuapi oleh laki-laki itu.


"Please!" ucap Vero dengan memasang wajah sok imutnya berharap agar Liora mengabulkan keinginannya.


"Hah." Liora membuka mulutnya untuk membiarkan Vero menyuapinya.


Akhirnya Vero menyuapi Liora sampai makanannya habis tak bersisa, tidak lupa dia memasukkan suapan demi suapan ke dalam mulutnya sendiri.


"Terima kasih," ucap Liora sambil tersenyum tulus.


"Aku senang kok nyuapin kamu," goda Vero sambil mengerlingkan sebelah matanya yang langsung membuat wajah Liora merona.


Selesai makan, Vero membuka tirai yang ada di ruangan itu dan langsung memperlihatkan kemerlap keindahan kota dari ketinggian tempat mereka berada.


Liora memandang dengan takjub. Dia yang selama ini hanya sibuk pulang pergi kantor ataupun markas tidak pernah menikmati momen seperti ini sebelumnya. Kemudian dia berjalan ke arah kaca itu, dan menempelkan tangannya seolah-oleh tengah memegang keindahan yang sedang dilihatnya.

__ADS_1


Tiba-tiba Sebuah tangan melingkar diperut Liora, ternyata Vero memeluknya dari belakang. Sungguh momen yang sangat romantis.


"Kau suka?" tanya Vero sambil menyandarkan kepalanya di bahu Liora yang terbuka, hembusan napasnya terasa hangat menyapu kulit wanita itu.


"Aku sangat menyukainya," jawab Liora jujur, bahkan matanya tak bisa lepas dari pemandangan yang sangat indah itu.


Vero terus memeluknya dengan erat. Mengalirkan kehangatan dan cinta disetiap sentuhannya. Dengan ragu-ragu Liora memegang tangan yang tengah melingkar diperutnya, hal itu tentu membuat Vero merasa sangat bahagia.


Vero mengecup punggung Liora yang terbuka. membuat seluruh tubuh wanita itu meremmang. Kemudian dia memutar tubuh Liora sampai menghadap ke arahnya, dan ditatap wajah yang juga tengah menatapnya dengan sayu.


"Aku mencintaimu, Liora," ucap Vero dengan suara yang terasa berat.


"A-aku juga mencintaimu, Vero," balas Liora dengan gugup, bahkan tangannya sudah mulai berkeringat.


Dengan lembut, Vero menyentuh bibir mungil Liora dan menciumnya dengan perlahan. Wanita itu memejamkan mata dan menikmati ciuman yang diberi olehnya.


"Buka matamu, Sayang," ucap Vero disela-sela ciumannya.


Liora mengikuti ucapan Vero dan membuka matanya, mata mereka saling bersitatap memperlihatkan besarnya cinta yang tengah dirasakan.


Semakin lama ciuman Vero semakin panas. Dia mulai menghisap, mencecap seluruh yang ada dimulut Liora. Sementara Liora yang memang belum mahir hanya diam dan menikmati permainan Vero.


Saat merasa Liora mulai kehabisan nafas, Vero pun melepaskan ciuman mereka. Dia menatap wanita itu yang seperti sudah kehabisan napas, wajahnya sudah merah padam dengan keringat yang mengalir dikeningnya.


Vero kembali mencium bibir Liora dan seluruh wajahnya. Kening, pipi, mata tak lepas dari absenan bibir Vero, dia merasa sangat gemas dengan sang pujaan hati itu.


"I-itu, hentikan." Liora menahan bibir Vero yang terus menciuminya, dia sudah merasa sangat malu saat ini.


"Kau menggemaskan sekali," ucap Vero dengan terus menghujani Liora dengan ciumannya.


Liora kembali menahan bibir Vero yang seperti tidak punya rem karena terus saja kebablasan. "Aku sudah kehabisan napas," Dia berkata dengan jujur, dan merasa tidak akan bisa bernapas lagi kalau Vero kembali menciumnya.


"Makanya napas jangan ditahan, Sayang. kan jadi tidak bisa bernafas." Dengan tidak merasa bersalah sama sekali Vero memberi penjelasan.


"Karena kamukan aku tidak bisa bernapas." batin Liora meronta-ronta.


Mereka kembali menikmati keindahan malam itu dengan penuh kemesraan. Karena waktu semakin larut, mereka memutuskan untuk segera pulang.


Disemenanjung negara lain, terlihat seorang pemuda tengah menikmati waktu santainya di sebuah pantai yang sangat indah. Apalagi berbalut dengan gemerlap bintang yang bertaburan tampak luar biasa semakin menambah suasana yang menenangkan.


"Semua persiapan sudah selesai, Tuan." Seorang lelaki dengan jas berwarna hitam mendekat ke arahnya.


"Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya," ucap pemuda itu sambil melihat sebuah potret yang menunjukkan wajah seorang gadis tengah tersenyum dengan ceria. "Dia sudah tumbuh sempurna rupanya." Tambah nya lagi sambil menyesap segelas anggur.

__ADS_1


"Benar, Tuan. Nona Liora sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan juga luar biasa," jelas lelaki ber jas hitam padanya.


"Kita akan segera bertemu, sayang."


__ADS_2