
Leon memicingkan matanya dengan tidak percaya. "Apa Liora benar baik-baik saja?" Dia kembali bertanya karena merasa ragu oleh jawaban dari Zarga.
"Dia pasti baik-baik saja, mungkin dia sedikit terkejut saat melihat Marvel," seru Arya, dia bisa mengerti bagaimana perasaan Liora saat ini.
Tidak berselang lama, Liora sudah siap dengan pakaian kerjanya dan bergabung dengan mereka. Semua orang langsunh terdiam kaku, dan tidak ada yang berani melihat ke arahnya.
"Kau mau ke kantor, Sayang?" tanya Leon dengan lirih, tatapannya sarat akan makna.
"Iya Kak, sudah lama aku tidak ke perusahaan," jawab Liora sambil menikmati sarapannya. Dia memotong sadwich yang ada di hadapannya dengan pelan, sangat terlihat tidak bersemangat.
"Apa tidak lebih baik istirahat dirumah saja, capek 'kan baru pesta kemarin," saran Leon.
"Tidak papa Kak, ada yang mau aku kerjakan," balas Liora, dia lebih suka menghabiskan waktu dengan bekerja saat perasaanya sedang hancur seperti saat ini. Dengan begitu, waktu tidak akan terasa cepat berlalu. Jika dia terus berada di rumah, bisa-bisa kehilangan kewarasannya.
"Baiklah, tapi jangan terlalu lelah," ucap Leon kembali. Dia tidak bisa lagi melarang sang adik, jika dilarang pun Liora pasti akan tetap pergi.
Liora hanya menganggukkan kepalanya, sedangkan yang lain hanya melihat mereka dengan kebisuan dan tidak berani mengeluarkan suara.
Setelah menyelesaikan sarapan, mereka semua berangkat menuju perusahaan dengan menggunakan mobil masing-masing. Kecuali Arya yang pergi ke rumah sakit.
Sesampainya di perusahaan, para karyawan terlihat senang saat melihat Liora. Mereka menyapanya dengan sangat antusias dan penuh dengan senyuman.
__ADS_1
"Selamat pagi Nona,"
"Selamat pagi, Nona muda,"
"Selamat pagi, Nona."
Liora hanya menganggukkan kepalanya untuk menerima sapaan mereka. Beberapa orang terlihat bingung, dia seperti kembali ke sosoknya yang dingin padahal akhir-akhir ini Liora sudah lebih ramah dan banyak tersenyum.
"Bagaimana perkembangan proyek pembangunan hotel di pulau Y?" tanya Leora pada Zarga saat sudah sampai di dalam ruangan.
"Sudah selesai sekitar 80 %, Nona," jawab Zarga sambil menyerahkan laporan yang sedang dia pegang pada Liora.
"Baik, saya akan mempersiapkannya," balas Zarga sebelum meninggalkan ruangan, dia segera mengurus semua persiapan mereka untuk pergi meninjau lokasi proyek.
Perasaan Liora terlihat lebih baik setelah menyibukkan diri dengan pekerjaan, tetapi tidak bisa dipungkiri kalau wajah Vero selalu melintas dalam pikirannya. Bagaimana lelaki itu menatapnya dengan penuh luka saat mendengar pengakuan dari Marvel, tanpa dia sadari air mata menetes diwajah cantiknya.
"Ada apa, Sayang? kenapa kau menangis?" tanya Leon sambil berjalan cepat ke arah sang adik.
Liora yang baru sadar langsung menghapus air matanya, karena melamun dia tidak tahu saat sang kakak masuk k dalam ruangannya. "Tidak Kak, aku aku hanya mengantuk" Dia mencari alasan sambil pura-pura menguap, membuat Leon memicingka kedua matanya.
"Kau artis yang buruk, Liora. Aktingmu tidak meyakinkan," ucap Leon sambil menatapnya dengan tajam.
__ADS_1
"Akting apa sih?" gerutu Liora sambil menghela napas kasar. Dia menyandarkan tubuhnya yang terasa pegal, padahal waktu sedang fokus tadi dia merasa tidak lelah sama sekali. "Oh ya, ada apa Kakak ke sini?" Dia bertanya setelah menyusun berkas yang ada di hadapannya.
"Kakak cuma mau melihatmu," jawab Leon sambil menoel hidung mancung sang adik, membuat Liora mencebikkan bibirnya.
"Dih, ada-ada saja," ucap Liora sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kakak mau keluar sebentar, kau jangan lupa makan siang ya," pamit Leon, dia mengingatkan sang adik agar tidak lupa mengisi perutnya karena dia harus bertemu dengan seseorang di luar perusahaan.
"Iya-iya, Kakak hati-hati di jalan," ucap Liora kemudian.
Leon lalu mengecup kening sang adik dan berlalu meninggalkannya, dia harus segera bertemu dengan Marvel. Perasaannya sangat yakin kalau Liora tidak ingin menikah dengan laki-laki itu, apalagi sang adik memang sudah mencintai lelaki lain. Dia harus membatalkan perjanjian antara Liora dan Marvel sebelum semuanya terlambat.
"Kakak tidak akan membiarkanmu mengorbankan kebahagiaan hanya demi bisnis, Liora."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1