
Mata Vero memerah karena sepanjang malam benar-benar tidak bisa tidur. Begitu matahari mulai menampakkan diri diufuk timur, dia segera keluar dari apartemennya menuju apartemen Samual.
Sesampainya di sana, Vero langsung saja masuk ke dalam apartemen Samuel tanpa izin dari laki-laki itu. Dia langsung menarik dan memaksa Samuel untuk ikut ke rumah Liora, membuat laki-laki itu langsung naik pitam.
Namun, bukan Vero namanya jika tidak bisa memaksa Samuel. Setelah perdebatan sengit, akhirnya mereka berangkat juga ke rumah Liora.
"Selamat siang, Tuan" sapa penjaga gerbang rumah mewah Liora.
"Aelamat siang juga," jawab Samuel ramah, sedangkan Vero hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum pada penjaga itu.
Dengan sigap, penjaga itu langsung membuka gerbang untuk mereka. Dia tidak perlu lagi mengkonfirmasi kedatangan Samuel dan Vero, karena Liora sudah memberi perintah agar langsung menyuruh mereka masuk kalau datang ke rumahnya.
Samuel segera memarkirkan mobilnya sejajar dengan mobil-mobil mewah lainnya. Begitu turun dari mobil, bak pucuk dicinta ulam pun tiba, mereka berpapasan dengan Alex yang terlihat sedang berjalan kearah mobilnya.
"Kenapa bisa pas gini sih?" Samuel menelan salivenya dengan kasar, dia khawatir terjadi perselisihan lagi antara Vero dan Alex.
"Selamat siang, Tuan," sapa Samuel pada Alex.
Alex menghentikan langkahnya tepat dihadapan mereka. "Selamat siang juga, tuan Samuel" Dia menjawab sambil sedikit melirik ke arah Vero sedangkan Vero yang merasa dilirik juga ikut memberikan tatapan tajamnya.
"Apa nona Liora ada dirumah, Tuan?" tanya Samuel mencoba untuk mencairkan suasana yang terasa sangat menyesakkan.
"Mari saya antar," jawab Alex sambil kembali melangkahkan kakinya ke arah rumah. Dia yang tadinya akan pergi mengurungkan niatnya saat melihat kedatangan Samuel dan Vero.
Alex mengantar mereka ke halaman samping tempat biasa latihan. Terlihat Liora dan juga yang lainnya sedang melatih kemampuan menembak mereka.
"Loh, gak jadi pergi?" tanya Arya saat melihat Alex berjalan ke arahnya, tidak lama dia juga melihat Samuel dan Vero mengekor di belakangnya.
"Cih, pantas dia kembali." batin Arya saat melihat tamu yang datang berkunjung.
Semua yang ada di halaman itu langsung menghentikan kegiatan mereka saat melihat kedatangan dua orang yang tidak diundang. Begitu juga Liora, dia melihat ke arah Vero dengan senyum manis membuat jantung lelaki itu berdebar tak karuan.
"Dia cantik sekali." Vero benar-benar dibuat salah tingkah hanya dengan senyuman Liora.
"Maaf mengganggu kegiatan Anda, Tuan, Nona," ucap Samuel segan.
"Tidak papa. Kalian tidak mengganggu kok," jawab Leon ramah sambil mengembalikan pistol yang sedari tadi dia pegang ke atas meja. "Tapi, kau tidak jadi pergi Lex?" Leon beralih melihat ke arah Alex, bukannya tadi laki-laki itu sudah izin mau keluar?
__ADS_1
"Saya akan pergi nanti, Tuan," jawab Alex singkat.
Kemudian mereka semua memilih duduk untuk mengistirahatkan tubuh mereka sambil menikmati makanan dan minuman yang telah disajikan.
"Bagaimana soal perkembangan penyelidikannya, Nona?" tanya Samuel pada Liora.
"Hari ini kita akan dapat jawabannya," jawab Liora sambil melihat ke arah Zarga. Dengan sigap laki-laki itu langsung menghubungi Kenzie untuk menanyakan keberadaannya saat ini.
"Kenzie sedang dalam perjalanan ke sini, Nona," ujar Zarga memberitahu.
"Huh, semoga saja semuanya cepat selesai," ucap Leon, dia sudah merasa jengah menghadapi masalah ini.
"Tenang saja Tuan, kali ini kita pasti bisa membalas mereka." jawab Zarga bersemangat.
"Bagaimana dengan kalian? Apa kalian menemukan sesuatu?" tanya Leon pada Samuel dan Vero.
"Maaf, Tuan. Untuk saat ini kami tidak bisa menemukan petunjuk lainnya," jawab Samuel sambil menggelengkan kepalanya, dia merasa sedikit bersalah karena tidak bisa banyak membantu.
"Bantuan kalian sudah sangat besar untuk kami, jadi jangan bicara seperti itu," ucap Liora tiba-tiba. Dia yang sedari tadi hanya diam memilih angkat bicara.
Semua orang juga setuju atas apa yang diucapkan olehnya. kalau bukan karna bantuan Samuel, mungkin penyelidikan mereka tidak sampai sejauh ini.
"Baik," jawab Liora cepat sambil menyunggingkan senyum manisnya.
Leon memperhatikan tingkah lucu Vero yang tampak sedikit canggung, sedangkan Liora hanya bersikap biasa saja.
"Ehem, bagaimana kalau kita pindah ke ruang kerjaku?" Sepertinya Leon ingin memberi ruang untuk Leora dan Vero.
"Ah, ide bagus." Arya memang selalu cepat tanggap. Dia langsung menarik tangan Alex yang berada tepat di sampingnya, sedangkan Alex terlihat sangat tidak suka dengan rencana mereka. Dia sampai menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Kalau begitu-"
"Tidak, Sayang. Kau di sini saja temani Vero. Mungkin ada sesuatu yang ingin dia sampaikan." potong Leon saat melihat Liora ingin bangkit dari duduknya.
"Apa itu?" tanya Liora pada Vero, dedangkan Vero yang tidak tau harus berkata apa terlihat semakin gugup. Dia terlihat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Samuel yang melihat itu ingin tertawa. Baru kali ini dia melihat ekspresi gugup, bingung dan malu bercampur jadi satu diwajah sahabatnya itu.
__ADS_1
"Sudah-sudah, tanya nya nanti saja. Ayo semuanya!" ajak Leon kemudian.
Mereka semua meninggalkan Liora dan Vero berdua di halaman itu membuat Vero benar-benar merasa senang. Sepertinya kehadirannya disambut baik oleh Leon, walau tanggapan Alex sangat luar biasa sekali.
"Apa yang ingin kau katakan?" Liora langsung bertanya pada lelaki yang masih sibuk berkhayal dan memandangi kepergian yang lainnya.
Vero terkesiap, dan langsung melihat ke arah Liora. "I-itu, aku cinta padamu." Sangking kagetnya dan tidak tau harus berkata apa, dia malah mengungkapkan isi hatinya.
Vero langsung merutuki kebod*ohannya yang telah salah bicara. "Dasar bod*oh. Apa yang aku katakan?" Rasanya dia ingin tenggelam ke dasar bumi sangking malunya.
"Kau cinta padaku?" Liora mengulang perkataan Vero. Dia sedikit kaget mendengar pengakuan yang tiba-tiba diucapkan lelaki itu, tetapi disisi lain terlihat wajahnya mulai bersemu merah.
"Eeh itu, anu-"
"Sia*l. Apa-apaan sih aku ini?" Vero terus saja bertingkah bod*oh di hadapan Liora. Dia benar-benar dilanda kegelisahan saat ini.
"Aku juga mencintaimu " Melihat kegelisahan diwajah Vero, Luora merasa gemas dan langsung membalas apa yang telah diucapkan padanya tadi.
Vero yang tadinya menundukkan kepala langsung mengangkatnya dan menatap wanita yang membalas perasaannya tadi dengan tatapan tidak percaya.
"Ka-kau bilang apa?" Hatinya bahagia, sangat bahagia. Dia ingin mendengar sekali lagi ungkapan cinta dari wanita yang sedang menatapnya dengan lembut saat ini
"Aku juga mencintaimu."
Tanpa menunggu lagi, Vero langsung menarik tangan Liora dan memeluknya dengan erat. Rasanya semua bagai mimpi yang tiba-tiba datang.
Liora yang berada dipelukan Vero hanya diam. Tubuhnya terasa kaku. Namun, pelan-pelan dia mulai membalas pelukan lelaki itu, membuat perasaan Vero bertambah senang.
"Aku mencintaimu Liora, sangat mencintaimu," ungkapan cinta yang telah lama dipendam akhirnya terucap juga dari mulut Vero.
Vero melepaskan pelukan mereka dan menatap wajah cantik yang sudah berhasil membuatnya tergila-gila, sedangkan Liora yang ditatap intens seperti itu merasa malu. Wajahnya sudah merah padam saat ini.
"I-itu sebaiknya kita ke ruangan kakak sekarang," ucap Liora mengalihkan pembicaraan. Dia benar-benar merasa sangat malu.
Vero mencium kedua pipi Liora yang terlihat sangat menggemaskan, tentu saja aksinya itu semakin membuat wanita itu panas dingin.
"Ayo!" Kemudian Vero menggandeng tangan Liora untuk menuju ke ruangan di mana semua orang berada.
__ADS_1
Dari kejauhan, ada seseorang yang terus memperhatikan mereka. Perasaannya terasa campur aduk saat ini, antara senang dan takut. Dia tidak tahu harus bagaimana.
"Ya Tuhan, aku mohon biarkan kebahagian selalu bersama nona."