Di Ujung Dendam

Di Ujung Dendam
Bab 66. Boran.


__ADS_3

Vero terus menatap tajam pada ayahnya serasa ingin menelan laki-laki paruh baya itu hidup-hidup, sedangkan yang lainnya hanya bisa diam menyaksikan pertengkaran mereka.


"Sekarang katakan, kenapa kau membunuh orang tua Leora?" ucap Vero tanpa melonggarkan pandangan matanya yang menusuk.


"Aku tidak membunuh orang tuanya," jawab Barra dengan cepat.


"Hahahaha..." seketika Vero tertawa saat mendengar jawaban dari ayahnya, bagaimana mungkin orang yang sudah melakukan penyerangan tidak membunuh? Jelas-jelas yang diserang pun sudah mati sekarang. "Bisa-bisanya kau mengatakan hal seperti itu, kau memang sangat luar biasa." Dia berucap dengan geram sambil bertepuk tangan.


"Ayah mengatakan yang sebenarnya, Vero. Ayah tidak-"


"Cukup!" Vero mengangkat tangannya untuk menghentikan ucapa Barra. "Kau bahkan mengirim dia untuk memata-matai aku, kau terus saja menganggu hidupku. Ibuku sungguh sial mempunyai suami sepertimu." Dia menunjuk ke arah Samuel yang merupakan suruhan sang ayah, walau saat ini mendukung apapun yang dia lakukan.


Hati Barra sangat hancur saat mendengar apa yang Vero ucapkan, apalagi dia teringat dengan kekasih hatinya. Wanita yang sangat dia cintai, istri yang sampai saat ini tidak tergantikan oleh wanita lain.


Melihat tidak ada jawaban apapun dari ayahnya, Vero bergegas keluar dari ruangan itu. Namun, sebelum dia mencapai pintu, dia menghentikan langkah kakinya.


"Ini adalah terakhir kalinya kau mengganggu hidupku. Jika kau masih melakukannya, maka aku sendiri yang akan membunuhmu," ucap Vero sambil kembali melanjutkan langkah kakinya untuk keluar dari tempat itu.


"Tuan!" Marc dan Brian sigap memegang tubuh Barra yang seketika limbung tidak bertenaga karena mendengar ucapan yang dilayangkan Vero, kemudian Marc dan Brian membantunya untuk duduk disofa.


"minumlah, Tuan." Brian memberi segelas air pada Barra.


Samuel masih mematung di,sana, dia tidak ikut keluar bersama Vero. Sepertinya ada sesuatu yang harus dia katakan pada tuan besarnya saat ini.


"Tuan, Nona Liora dan yang lainnya sudah tau jika Anda yang menyerang keluarga mereka beberapa tahun yang lalu, kemungkinan besar mereka akan membalas dendam," ucap Samuel memberitahu, biar bagaimana pun dia masih sangat menghormati tuan besarnya, karna berkat tuan besarnya lah dia bisa sampai ke titik kesuksesan.


"Biarkan mereka datang, aku akan mengatakan sesuatu yang tidak mereka ketahui," ucap Barra dengan pelan.


Setelah mengatakan itu, Samuel keluar dari ruangan itu untuk mencari keberadaan Vero. Temannya itu pasti tidak akan langsung kembali ke negara Y saat ini juga.

__ADS_1


"Apa kalian melihat tuan muda?" tanya Samuel pada beberapa anggota Klan Zander.


"Tuan muda berjalan ke arah belakang vila, Tuan," jawab mereka.


Samuel sudah bisa menebak ke mana Vero pergi saat ini,j sudah sangat jelas bukan kalau Vero pasti berkunjung ke makam ibu nya.


Sementara itu, Vero terlihat sedang menatap batu nisan yang masih bersih dan terawat. Sepertinya memang ada orang yang secara khusus membersihkan makam sang ibu.


"Ibu, aku datang." Lirih Vero dengan sendu, tangannya mengelus nisan itu dan matanya mulai menggantung mendung.


"Kenapa semua ini terjadi padaku, Bu? Kenapa suami yang sangat ibu cintai tega melakukan ini padaku?" Vero mencurahkan seluruh isi hatinya di makam sang ibu.


Samuel memperhatikannya dari kejauhan, dia tidak terlalu kenal dengan ibunya Vero dan hanya beberapa kali dia berpapasan dengan beliau.


Tanpa mereka berdua sadari, ada seorang lelaki paruh baya yang terus memperhatikan mereka. Dia terlihat meneteskan air mata saat melihat Vero kembali bertemu dengan ayahnya, dia juga merasa sedih saat mendengar apa yang Vero katakan di depan makam ibunya.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


"Ma-maaf, maafkan saya," ucap Tedi, lelaki paruh baya penjaga Vila keluarga Vero.


Tedi menundukkan kepalanya saat Samuel terus menatap dengan tajam, tangannya sudah saling bertautan menahan gemetar.


"Tu-tunggu!" Tedi menahan Samuel yang sudah berbalik untuk pergi membuat Samuel hanya memiringkan kepala mendengar ucapannya. "Apa saya boleh menemui tuan muda?" Dia bertanya membuat Samuel mengerutkan keningnya, untuk apa lelaki paruh baya itu ingin bertemu dengan Vero pikirnya.


"Untuk apa kau bertemu denganku?" Suara Vero lalu mengagetkan mereka yang masih saling berpandang-pandangan, mereka langsung melihat ke arah Vero yang ternyata sudah ada di samping mereka.


"Tu-tuan muda." Tedi menundukkan kepalanya saat melihat Vero dengan perasaan takut yang menjalar diseluruh tubuhnya, tetapi Tedi tetap berusaha untuk berbicara pada Vero. Dia harus mengatakan sesuatu yang sangat penting pada tuan mudanya.


"Bo-bolehkah saya mengatakan sesuatu pada Anda, Tuan?" tanya Tedi pelan, sangking pelannya sampai Vero dan Samuel tidak mendengarnya dengan jelas.

__ADS_1


"Bapak Tedi kan, penjaga Vila ini?" tanya Vero, entah kenapa Vero bisa melihat kalau lelaki paruh baya yang ada di hadapannya sudah takut setengah mati padanya, bahkan tangannya sudah gemetar sedari tadi.


"Be-benar, Tuan. Saya Tedi," jawab laki-laki paruh baya itu.


Kemudian Vero mengajak Tedi ke sebuah tempat tidak jauh dari Vila itu, sampailah mereka ditepi sungai yang airnya sangat bersih dan juga segar.


"Bicaralah, Pak," kata Vero sambil tersenyum.


Mereka duduk beralaskan rumput di bawah pohon yang rindang. Samuel juga tidak mau ketinggalan, dia duduk tepat di samping Vero.


Setelah mengumpulkan keberanian yang cukup besar, akhirnya Tedi menceritakan sebuah rahasia yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.


Flashback.


Keributan terjadi disebuah vila mewah yang terletak di pinggiran kota, terlihat seorang lelaki paruh baya sedang bertengkar dengan anaknya sendiri. Barang-barang di ruangan itu bahkan sudah pecah berserakan dilantai.


"Aku tidak bisa, Yah. Aku tidak bisa menikah dengan wanita lain," ucap Barra, dia menolak menikah dengan wanita yang dipilihkan oleh ayahnya.


"Beraninya kau menentangku!" bentak Boran, api kemarahan berkobar diwajahnya.


"Aku sudah menikah, dan aku hanya ingin bersamanya," Barra juga terlihat emosi, dia tidak habis pikir bagaimana mungkin ayahnya menyuruhnya untuk menikah dengan wanita lain? Sedangkan dia sudah menikah dengan wanita yang sangat dia cintai.


"Wanita yatim piatu itu? Aku tidak sudi memiliki menantu sepertinya," tolak Boran. Dia merasa malu anaknya mempunyai istri yang tidak sederajat dengan mereka.


"Aku tidak peduli, aku akan tetap bersamanya walau ayah tidak suka," ucap Barra tajam sambil berbalik untuk pergi meninggalkan ayahnya.


"Baik, kalau kau tetap ingin bersamanya, maka jangan salahkan aku kalau wanita itu harus mati bersama dengan bayi yang dikandungnya."


Deg.

__ADS_1


seketika Barra menghentikan langkah kakinya saat mendengar ucaoan sang ayah, dia langsung berbalik dan melihat ke arah Boran dengan api kemarahan yang berkobar dalam dirinya.


__ADS_2