
Hari ini, Samuel pergi untuk menghadap tuannya setelah sekian lama. Dia akan melaporkan segala hal yang terjadi pada Vero dengan ditemani oleh sekretaris pribadinya, yaitu Sony. Mereka memasuki rumah mewah dari pimpinan klan Zander.
"Tuan sudah menunggu kalian," ucap Eric. asisten pribadi Barra.
Mereka langsung menuju ruang kerja Barra,
terlihat laki-laki paruh baya itu sedang duduk sambil menunggu kedatangan mereka.
"Selamat pagi, Tuan," sapa Samuel bersamaan dengan sekretarisnya.
"Suduklah." Tanpa menjawab sapaan Samuel, Barra menyuruh mereka untuk duduk di hadapannya. "Katakan!" Perintahnya kemudian.
"Keadaan tuan Vero sangat baik, Tuan. Tadi malam tuan Vero terlibat perkelahian, tapi tidak ada cidera yang terjadi," lapor Samuel membuat raut wajah Barra berubah tegang.
"Siapa yang menyerangnya?" tanya Barra sambil menatap Samuel dengan tajam.
"Maaf Tuan, saya belum berhasil mengetahuinya," jawab Semuel yang merasa tidak berguna. Dia tidak berhasil mengetahui siapa orang itu yang pasti membuat sang tuan kecewa.
"Apa ada lagi?" tanya Barra sambil menyandarkan tubuhnya.
Glek.
Samuel menelan salivenya dengan kasar. Dia terlihat ragu untuk memberitahu tentang hubungan Vero dengan Liora, tetapi jika tidak diberitahu sekarang, maka tuannya akan semakin murka.
"Tuan Vero sedang dekat dengan seorang gadis." Akhirnya kalimat itu terlontar juga dari mulut Samuel.
"Apa dia gadis yang pantas untuk putraku?" tanya Barra dengan tajam. Terlihat jelas jika dia sangat mementingkan derajat yang setara dengannya.
Samuel lalu menjawab jika Liora sangat pantas untuk bersanding dengan Vero. Baik dari segi fisik, harta, dan juga kekuasaan.
"Baguslah." Barra menghela napas kasar. "Dari keluarga mana dia?" Dia kembali bertanya karena merasa penasaran.
"Nona Liora adalah putri satu-satunya dari keluarga Grazielle, Tuan. Liora Grazielle," jawab Samuel dengan bangga.
Prang.
Cangkir yang dipegang Barra langsung terjatuh ke lantai membuat Samuel dan Sony terlonjak dari duduk mereka.
"Kau bilang siapa?" tanya Barra sambil berdiri.
__ADS_1
Melihat itu, Samuel dan Sony pun sontak ikut berdiri. Mereka sangat terkejut dengan reaksi yang ditunjukkan tuannya, dan berpikir jika sudah melakukan kesalahan.
"Liora Grazielle, Tuan" Dengan takut-takut, Samuel kembali menyebut nama Liora sambil menatap Barra penuh tanda tanya.
"Grazielle?" teriaknya Barra membuat suarannya menggema di tempat itu. "Kenapa dia bisa berhubungan dengan keluarga itu?" Dia bertanya dengan tajam membuat Samuel dan sekretarisnya dilanda kebingungan.
Samuel lalu menceritakan tentang pertemuan Vero dan Liora, sama persis seperti saat Vero menceritakan semua itu padanya. Dia merasa sedikit sedih dan tidak nyaman karena merasa seperti sedang mengkhianati persahabatannya dengan Vero.
"Pisahkan mereka berdua!"
Deg.
Bagai tersambar petir di siang bolong saat mendengar perintah dari tuannya. Bagaimana mungkin Samuel bisa memisahkan Vero dan Liora seperti ini? Dia lalu memutuskan untuk bertanya alasan dibalik perintah tuannya itu.
"Dia tidak boleh memiliki hubungan dengan keluarga itu, apapun alasannya," ucap Barra dengan tajam.
Samuel lalu berusaha untuk membujuk tuannya, kali ini dia benar-benar merasa berat untuk menjalankan perintah Barra karena tidak mau mengkhianati Vero sebagai sahabat.
"Kau hanya perlu menjalankan tugas, dan lupakan tentang cinta yang tidak penting." Tegas menolak apapun yang dikatakan Samuel padanya.
Samuel dan Sony menundukkan kepala mereka. Tidak tau alasan apa yang membuat Barra menolak hubungan itu, padahal Liora adalah orang yang sangat pantas bagi Vero. Mereka lalu berlalu pamit dari hadapan sang tuan.
Soni berusaha untuk menenangkan, mereka lalu memutuskan untuk kembali saat ini juga. Entah apa yang akan Samuel lakukan nanti, tetapi untuk saat ini dia harus menenangkan pikiran.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Vero sedang membawa Liora berjalan-jalan ditaman rumah sakit. Dia ingin wanita menghirup udara segar agar lebih cepat pulih.
"Pulanglah," ucap Liora tiba-tiba, dia tahu jika laki-laki itu pasti sangat lelah saat ini.
"Kenapa? Kau tidak ingin melihat wajahku?" tanya Vero dengan mimik sedih.
"Bukan begitu, kau juga butuh istirahat. Orang-orangku yang akan berada di sini," ucap Liora menjelaskan.
Vero Terdiam, dia terlihat sangat tidak ingin meninggalkan wanita itu. Apalagi masih ada rasa bersalah yang hinggap dihatinya karena tidak bisa menjaga Liora.
"Baiklah, terserahmu saja," ucap Liora yang tau jika Vero tidak mau disuruh pulang.
Seketika senyum sumringah muncul dibibir Vero saat mendengar ucapan Liora. Dia merasa senang karen wanita itu mengerti akan perasaannya.
Dari kejauhan, Alex memperhatikan mereka berdua. Jujur saja dia juga sangat bahagia melihat nona mudanya bahagia, tetapi dia juga khawatir saat mengingat siapa Vero yang sebenarnya.
__ADS_1
"Apa yang sedang kau pikirkan ?" tanya Arya sambil ikut memperhatikan Liora dan Vero. "Kau tau 'kan, kalau saat ini Liora sangat bahagia, dia terlihat seperti Liora yang dulu kita kenal. Aku bersyukur dia mendapatkan pria seperti Vero, terlepas dari latar belakang keluarga laki-laki itu."
Alex juga tau kalau Vero pria yang baik, laki-laki itu juga sangat mencintai nona mudanya. Walau pun dia keturunan klan Zander, tetapi Vero tidak pernah terlibat dalam dunia mafia sang ayah.
"Sudahlah, jangan terlalu khawatir dengan mereka. Setidaknya kita harus selalu berpikir positif agar hal baik selalu terjadi disekitar kita," ucap Arya sambil menepuk bahu Alex.
Alex hanya diam dan tidak mengeluarkan suaranya. Benarkah dia tidak perlu khawatir dengan hubungan Vero dan Liora? Entah kenapa dia merasa seperti akan ada sesuatu yang terjadi.
Dari balik tembok yang ada di samping Alex, ada seorang wanita yang sejak tadi menguping pembicaraannya dengan Arya. Dia yang awalnya ingin menjenguk Vero, secara tidak sengaja mendengar obrolan kedua lelaki itu.
"Apa kau sudah puas mendengarnya?"
Sally terlonjak kaget saat mendengar suara baritone seseorang yang berada tepat di hadapannya, apalagi saat dia mendongakkan kepala dan bersitatap mata dengan lelaki itu.
"Matilah aku." Sally menciut takut, rupanya Alex tahu jika sedari tadi dia menguping mereka.
"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bermaksud untuk menguping," ucap Sally dengan sedikit bohong.
Cih. Alex mendengus kesal. Bisa-bisanya wanita itu selalu mengusik kehidupannya, dia lalu berbalik dan hendak meninggalkan wanita itu.
"Tunggu."
Suara Sally mencegah kaki Alex yang akan melangkah. Dia berdiri diam, tetapi tetap tidak membalikkan tubuhnya.
"Anda tidak perlu khawatir dengan hubungan Varo dan nona Liora, karena saya yakin Vero akan melindungi nona di mana pun berada," ucap Sally.
Alex langsung membalikkan tubuhnya dan menatap Sally dengan tajam. Kemudian dia berjalan mendekat ke arah gadis itu, sontak membuat Sally kaget dan mundur ke belakang sampai membentur dinding.
"Urus saja urusanmu sendiri." Alex mengatakannya tepat ketelinga Sally, bahkan napasnya terasa berhembus dikulit gadis itu membuat Sally merinding.
Setelah mengatakan itu, Alex pergi meninggalkan Sally yang terdiam di tempatnya dengan jantung berdegup kencang.
"Dasar gila. Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak terpesona pada laki-laki menyeramkan itu."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.