
Setelah berhasil memporak porandakan hubungan Liora dan Vero, terlihat Marvel sangat sibuk dengan keperjaannya. Dia yang memang sudah lama berada di luar negeri memutuskan untuk kembali ke tanah air. Sebenarnya tugasnya belum selesai, tetapi masih bisa dia kerjakan dari jauh.
Seperti saat ini. dia merenggangkan otot-otonya yang terasa kaku karena seharian berkutat dengan pekerjaan. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, dia segera menghubungi sekretarisnya untuk pulang.
"Astaga, pinggangku sampai mati rasa," keluh Marvel sambil menyandarkan tubuhnya kesandaran kursi mobil, dia dan sekretarisnya sedang dalam perjalanan menuju kediaman orangtuanya,
"Tuan 'kan sudah lama berada di luar negeri, jadi wajar saja kalau banyak pekerjaan yang harus Anda selesaikan," ucap Davin. Marvel hanya mendesah pasrah mendengar ucapan sekretarisnya itu.
Tidak berselang lama, mobil mereka memasuki rumah mewah keluarga Herious. Lara penjaga dengan sigap membukakan gerbang untuk tuan muda mereka.
"Dad, Daddy," panggil Marvel seraya berjalan masuk ke dalam rumah.
Mendengar teriakan sang anak membuat mommy Mona berdecak kesal. "Kami di sini." Dia berteriak yang saat ini sedang duduk santai menikmati secangkir kopi ditemani sang suami tercinta. Sepertinya Marvel suka berteriak karena keturunan darinya.
"Kenapa teriak-teriak gitu sih?" gerutu sang mommy yang tidak suka rumahnya dianggap seperti hutan.
"Ada yang ingin aku katakan," ucap Marvel setelah menunjukkan wujudnya dan bergabung dengan mereka.
"Apa?" tanya Marco.
"Aku ingin menikah dengan Liora secepatnya," ucap Marvel memberitahu.
"Uhuk uhuk uhuk." Sangking terkejut mendengar ucapan putranya, Marco sampai tersedak saat menikmati kopi sedangkan Mona memasang wajah bingung.
"Liora? siapa dia?" tanya sang mommy yang memang tidak mengenal siapa Liora sebenarnya, dia lantas melihat ke arah Marvel untuk meminta jawaban.
"Calon istriku" jawab Marvel.
"Kok mommy gak tau?" ucap Mona dengan kesal, bisa-bisanya dia tidak kenal dengan calon menantunya.
"Iya inikan dikasi tau, Mom," balas Marvel.
__ADS_1
Langsung saja Mona menarik telinga Marvel sampai dia mengaduh kesakitan. "Duuh, sakit, Mom. Lepasin!" Marvel memekik sakit.
"Sasar anak nakal, bisa-bisanya kau gak ngenalin calon istrimu sama mommy," geram Mona.
"Duuh, iya iya lepasin dulu."
Mona segera melepas tarikan tangannya yang super kuat itu terlihat telinga Marvel sampai merah karenanya.
"Apa kau yakin?" tanya Marco sambil menatap tajam sang putra.
"Tunggu." Mona menghentikan Marvel yang sudah membuka mulut untuk menjawab ucapan dari daddynya.
"Daddy udah kenal sama Lora?" tanyanya pada sang suami, terlihat Marco menganggukkan kepalanya pertanda menjawab iya.
"Kok bisa-bisanya sih gak ada yang ngasitau mommy." Mona tambah kesal dibikin anak dan suaminya. hal sepenting ini malah dia sendiri yang tidak tau.
"Pokoknya aku mau nikah secepatnya," ucap Marvel.
"Jangan berlarian ditangga, Maily!" tegur Marvel yang takut kalau sang adik terjatuh, tetapi Maily tidak menghiraukannya, dia tetap berlari sampai bergabung dengan mereka.
"Akakak beneran mau nikah?" tanya Maily lagi dengan sangat antusias.
"Iya," jawab Marvel sambil menganggukkan kepalanya.
"Waah bentar lagi aku punya kakak ipar dong," ucapnya dengan semangat 45.
"Tentu saja," sambung Marvel bangga.
"Tapi, siapa calon kakak iparku itu?" tanya Maily lagi seperti wartawan.
Marvel pun dengan cepat menceritakan tentang identitas Liora. Bukan hanya Maily yang terlihat bersemangat, bahkan Mona sampai pindah dari duduknya ke samping Marvel agar bisa lebih jelas mendengar penjelasannya.
__ADS_1
"Wow, kakak iparku sangat luar biasa," seru Maily sambil bertepuk tangan dengan meriah setelah mengetahui identitas Liora.
"Aku akan mengunjunginya besok," katanya lagi sambil berjalan ke arah dapur, perutnya sudah keroncongan minta diberi asupan.
"Kenapa dia semangat sekali sih, kayak dia aja yang mau nikah," gerutu Marvel melihat tingkah ajaib adiknya.
Karena merasa cukup lelah, Marvel memutuskan untuk pergi ke kemarnya. dia sudah ingin berendam dengan air hangat. Sedangkan Mona terus melihat kearah Marvel dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kenapa?" tanya Marco.
"Sebenarnya sudah berapa lama dia berhubungan dengan Lora?" tanya Mona.
"Loh, memang kenapa?" Marco heran dengan pertanyaan sang istri.
"Kenapa dia tiba-tiba mau nikah cobak?" ucap Mona.
Marco pun segera menceritakan semuanya pada sang istri, bagaimana bisa Marvel berhubungan dengan wanita bernama Liora itu.
"Apa kau sudah gila, Marco?" bentak Mona. Selama berpuluh tahun berumah tangga, baru kali ini Mona membentak suaminya. "Pernikahan bukan sesuatu yang bisa dibuat permainan." Dia berucap dengan emosi saat mengetahui tentang perjanjian yang dibuat oleh suaminya.
"Sayang, dengarkan dulu." Marco memegang tangan sang istri untuk menenangkannya. "Ini semua demi kebaikan putra kita."
"Iya, tapi bukan kayak gini caranya," bantah Mona, dia tidak setuju dengan apa yang diperbuat sang suami.
"Memang di mana salahnya? toh mereka berdua menerimanya 'kan?" sambung Marco lagi membela diri, tidak ada yang salah dengan apa yang dia lakukan.
"Liora itu gadis yang baik, dan sangat jelas asal usulnya. Dia akan sangat cocok dengan Marvel, lagi pula Marvel sendiri yang ingin menikah dengannya," jelas Marco dengan tajam
Sebenarnya Marco juga sedikit kaget dengan tindakan Marvel, dulu saat dia membuat perjanjian itu, dia langsung memberitahukannya pada Marvel. Awalnya Marvel menolak dan tidak suka dengan hal perjodohan seperti itu, karena ingin hidup bebas di luar sana. Marvel tidak ingin hidupnya dikekang oleh seorang wanita, tetapi dia menyakinkan laki-laki itu untuk tetap menjaga perjanjian dan Marvel.
"Terserah daddy sajalah."
__ADS_1