
Leon segera dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulance, sedangkan Maily terus berada di sampingnya sambil menggenggam tangannya.
"Hiks, gara-gara keberatan bawain belanjaanku kau jadi kayak gini. Hiks, huhuhu."
Beberapa petugas rumah sakit menatap bingung mendengar ocehan gadis itu. Bagaimana bisa hanya dengan membawa belanjaan jatuh pingsan? Oh, mungkin saja belanjaannya sangat banyak hingga membuat kelelahan.
Sesampainya di rumah sakit, Leon segera masuk ke ruang UGD untuk diperiksa. Maily terus mondar mandir di depan ruangan itu, dia merasa bersalah karena sudah menyuruh Leon untuk membawa semua barang berlanjaannya.
Setelah menunggu setengah jam, akhirnya dokter keluar dari ruangan itu yang di tempati oleh Leon bersama dengan beberapa perawag juga.
"Bagaimana, Dokter?" tanya Maily dengan raut wajah penuh kecemasan.
"Apa Nona keluarga pasien? tanya dokter itu.
"Oh iya, aku lupa ngabarin keluarganya." Maily segera mengambil ponselnya tanpa menjawab ucapan dokter itu "Tunggu, aku kan gak punya nomor mereka." Dia baru ingat jika tidak punya nomor siapa pun sambil melihat ke arah dokter yang sedang menunggunya. Lalu, dia ingat kenapa tidak menelpon Marvel saja, pikirnya. Dengan cepat dia mencari nomor sang kakak tersayang dan langsung menelponnya.
Tut, tut.
"Halo, ada apa Maily?" ucap Marvel dari sebrang telpon.
"Kak, aku lagi di rumah sakit,"
"Apa?" pekik Marvel dengan kaget. "Apa yang terjadi? Kau baik-baik sajakan?" Dia merasa sangat cemas saat mendengarnya dan segera keluar dari tempat itu.
"Kak, bukan aku yang sakit. Tapi Leon," ucap Maily memberitahu.
Marvel yang sudah keluar dari ruangannya menghentikan langkah. "Hah, Leon? Leon kakaknya Lora?" Dia bertanya dengan bingung, keningnya mengernyit dalam sampai hampir membuat kedua alisnya menyatu.
"Iya, dia itu," jawab Maily.
__ADS_1
"Kenapa kau bisa bersama dia?" tany Marvel dengan tajam, dia heran kenapa adiknya itu bisa dengan Leon.
"Kak, bukan itu yang penting sekarang. Tolong kasitau sama kakak ipar kalau Leon di rumah sakit, aku kan gak punya nomornya," ucap Maily menjelaskan maksudnya menelepon.
"Astaga, jadi kau belum ngabarin mereka? Memang ka-"
"Aku tutup ya Kak." Maily langsung mematikan panggilan telponnya saat merasakan gelagat kemarahan, dia malas jika harus mendengar ocehan sang kakak.
"Oh iya, maaf Dokter, keluarganya baru mau dikabarin. Apa Leon baik-baik saja?" tanya Maily kembali yang baru ingat kalau ada dokter yang sedang menunggunya.
"Pasien baik-baik saja, Nona. Hanya saja sepertinya pasien mengalami syok sehingga kehilangan kesadarannya," jelas dokter paruh baya itu.
"Oo,h gitu." Maily mengangguk-anggukkan kepalanua. "Tapi bisa ya Dok, gara-gara bawain belanjaan sampek syok gitu?" Dia bertanya dengan heran, dan masih keukeh kalau Leon syok karna bawain belanjaan miliknya.
"Bawain belanjaan?" tanya dokter itu dengan bingung, yang dijawab dengan anggukan kepala Maily.
Dokter terlihat bingung mencerna ucapan gadis yang ada di hadapannya saat ini, wajahnya terlihat sedang berpikir keras. "Yah, mungkin ada pemicu lainnya, Nona. Hingga membuat pasien tidak sadarkan diri." Dokter itu menjawab sekenanya. kemudian dia permisi untuk pergi ke ruangannya.
"Maaf ya, Leon," ucap Maily dengan sedih sambil memperhatikan wajah Leon. "Dia tampan juga ya, tapi mulutnya itu looh." Gemasnya, dia merasa jika mulutnya Leon itu sangat pedas.
Tanpa sadar, Maily terus melihat ke arah wajah leon sambil menyanggahkan kedua tangannya diwajah. Betapa tenangnya Leon saat tidur seperti ini, tapi kalau sudah bangun dan membuka mulut, bisa mati kesal dia dibuat oleh laki-laki itu.
Sementara ditempat lain, Marvel yang baru selesai menerima telpon dari Maily langsung menghubungi Liora. Dia juga cemas dengan keadaan Leon saat ini, apalagi laki-laki itu pergi bersama dengan Maily. Jangan-jangan adiknya itu yang membuat Leon tidak sadarkan diri?
"Halo." ucap Liora dari sebrang telpon.
"Liora, aku ingin memberitahu kalau Leon sedang berada di rumah sakit." Marvel langsung memberitahunya sambil berjalan ke arah mobilnya berada, dia juga ingin melihat keadaan Leon saat ini.
"Apa?" Liora memekik sangat kaget saat mendengarnya, sia langsung mematikan panggilan telpon Marvel dan segera menelpon Arya untuk memberitahu informasi itu.
__ADS_1
"Halo."
"Kak Leon sedang berada di rumah sakit, cepat pergi ke sana". Tanpa menunggu jawaban dari Arya, dia bergegas keluar ruangan dan menemui Zarga "Ayo kita harus pergi!" Dia mengajak sambil bergegas masuk ke lift, sedangkan Zarga hanya mengikutinya dari belakang. laki-laki itu tidak bertanya karna nona mudanya terlihat sangat panik.
"Apa yang terjadi?" batinnya bertanya-tanya.
Ketika didalam mobil, Liora segera menghubungi Alex dan Zarga agar segera ke rumah sakit saat ini juga. Dia sudah melacak ponsel sang kakak untuk mengetahui dirumah sakit mana kakak nya itu dirawat.
Sedangkan Marvel, sudah lebih dulu sampai di rumah sakit itu. Dia bergegas untuk mencari di mana keberadaan Leon dan adiknya.
Marvel langsung masuk ke dalam ruangan Leon, dan dia melihat sang adik yang sedang menatap wajah Leon tanpa berkedip.
"Hey," ucap Marvel sambil memegang bahu Maily, dan itu berhasil membuat Maily kaget.
"Astaga, Kakak bikin kaget aja." gerutu Maily sambil mengelus-elus dadanya.
"Apa yang kau lakukan, kenapa kau liatin Leon kayak gitu?" tanya Marvel dengan tajam.
"Hah. siapa yang liatin dia sih? Ngarang aja," bantah Maily sambil memalingkan wajahnya, sedangkan Marvel menatapnya dengan pandangan tidak percaya.
"Apa yang terjadi pada kakakku?" tanya Liora yang baru sampai di ruangan itu bersama Zarga dan juga Arya.
"Maaf," ucap Maily sambil menundukkan kepalanya.
"Sudah kuduga, pasti anak ini sangat berbahaya penyebabnya." batin Marvel benar-benar merasa takjub melihat adiknya yang satu ini.
"Apa yang terjadi?" tanya Arya sambil mendekat ke arah Maily.
"Tadi aku menyuruh Leon untuk bawain belanjaanku, terus dia pingsan," jawab Maily dengan jujur.
__ADS_1
Semua bingung mendengar jawabannya, mereka saling pandang. Kok cuma bawain belanjaan aja bisa sampai pingsan? Itulah yang tertulis di wajah mereka semua.