Di Ujung Dendam

Di Ujung Dendam
Bab 14. Kejutan di Pagi Hari.


__ADS_3

Liora merasa heran dan bingung dengan apa yang Alex tanyakan. "Kenapa dia bertanya aku bahagia atau tidak?"


"Apa nona merasa bahagia karena menyukainya?" Alex memperjelas maksud dari pertanyaan sebelumnya.


Liora terdiam cukup lama. Tidak ada jawaban yang dia berikan, karena dia sendiri juga tidak tahu tentang perasaannya saat ini.


"Aku tidak tau," jawab Liora sambil kembali menyandarkan tubuhnya.


"Aku bahagia dengan keadaan kita sekarang. Aku bahagia karena kakak sudah sembuh, aku bahagia perusahaan kita berkembang pesat. Aku bahagia bersama dengan kalian, orang-orang yang sangat penting untukku. Aku tidak tau apa aku bahagia karna menyukainya atau tidak, tapi rasanya ada sesuatu yang mengisi kekosongan dalam hatiku."


Itulah jawaban yang akhirnya Liora berikan pada Alex. Bukan hanya sekedar jawaban tapi lebih pada apa yang tengah dia rasakan saat ini. Untuk pertama kalinya dia mengungkapkan isi hatinya pada Alex, walau selama ini mereka selalu bersama tetapi dia tidak pernah mengatakan isi hatinya.


Alex merasa tersentuh dan bahagia. Untuk pertama kalinya nona mudanya mau membuka isi hatinya. Sudah sejak lama Liora menjadi pribadi yang tertutup, wanita itu menyimpan erat segalanya dalam hati.


"Saya senang mendengarnya, Nona." Tanpa harus dikatakan pun, sudah terlihat jelas dari raut wajah Alex yang terlihat jauh lebih bahagia dari pada Liora.


Kemudian Alex turun untuk membukakan pintu, seketika dia kaget karena ada seseorang yang tengah berdiri tegak di belakangnya.


"Tuan?" ucapnya kaget sampai mundur membentur mobil.


Leon tergelak saat melihat raut wajah Alex. "hahaha, kau terkejut ya. Maaf-maaf." Masih tersisa gelak tawa dimulutnya.


Mendengar suara Leon, membuat Liora langsung keluar dari dalam mobil. "Kakak, kenapa Kakak belum tidur?" Dia bertanya sambil keluar dari mobil.


"Kakak tadi terbangun, terus melihat kau pulang. Makanya kakak datangi saja," jawab Leon yang memang tadi sudah tidur. Namun, ketika ingin mengambil air dia mendengar suara mobil. Dia tau kalau itu adalah Liora dan bergegas keluar.


Mendengar jawaban Leon, membuat Leora dan Alex saling pandang. Mereka menerka-nerka apa laki-laki itu mendengar obrolah mereka tadi atau tidak.


"Kenapa kalian lirik-lirikan?" tunjuk Leon pada Alex dan Liora. "Kalian pasti memikirkan sesuatu kan?" Dia tersenyum dengan licik.


Melihat senyum Leon, sudah jelas jika laki-laki itu tadi mendengar semua yang dikatakan Liora pada Alex.


"Kakak tadi gak dengar apa-apa kok, apalagi tentang kau yang suka sama seorang lelaki," ucap Leon sengaja memprovokasi Liora.


Liora langsung menundukkan kepalanya. Wajahnya sudah merah sekarang, membuat Leon tersenyum melihat tingkah menggemaskan sang adik.

__ADS_1


"Ini sudah malam, lebih baik kita semua istirahat." Leon berjalan sambil merangkul bahu Liora dan mengajaknya untuk segera masuk ke dalam rumah.


Alex mengekor di belakang mereka. Hari ini dia juga merasa sangat lelah, tetapi lelah nya menguap begitu saja saat mendengar curahan hati dari sang nona. Dia melihat punggung 2 orang yang dia hormati itu, senyum kecil terbit dibibirnya dan berharap semoga kebahagiaan akan selalu menyertai mereka.


*


*


Sinar surya perlahan mulai muncul ke permukaan menandakan dimulainya hari baru untuk beraktifitas sebagaimana biasanya. Suara kicauan burung yang saling bersahutan ikut meramaikan suasana pagi yang cerah, memberi semangat kepada semua orang untuk kembali berjuang ditengah kerasnya kehidupan zaman ini.


Disebuah apartemen yang cukup mewah di tengah kota, terlihat belum ada kegiatan apa pun tempat itu. Bahkan siempunya belum terlihat batang hidungnya, padahal matahari sudah mulai merangkak naik untuk menghangatkan bumi.


"Emm ..." Errangan kecil terdengar dari dalam kamar. Perlahan Vero mulai membuka mata sambil merenggangkan otot-ototnya.


"Aduh, aku haus sekali," gumamnya seraya berjalan ke arah dapur untuk mengambil air menyegarkan tenggorokannya.


Kemudian Vero kembali ke dalam kamar setelah melepaskan dahaganya, dia menyiapkan air panas dengan tetesan aromaterapi untuk memulai ritual mandi pagi ini.


"Haa, segarnya." Vero masuk ke dalam bathtub. dia menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata. Sekilas terlintas wajah Liora di dalam pikirannya membuat kedua matanya mengerjap dengan senyum cerah.


Vero segera menyelesaikan mandi nya. Sekitar 15 menit, dia sudah terlihat rapi dengan balutan kemeja berwarna navy yang terlihat sangat cocok ditubuhnya. Dengan langkah penuh percaya diri dihiasi senyum manis, dia keluar dari apartemen untuk memulai hari yang sama seperti mana biasanya.


Sekitar 15 menit, Vero sudah sampai didepan kafe miliknya. Terlihat sudah lumayan ramai pengunjung yang datang ke sana.


"Selamat siang, Bos," sapa Nella, salah satu karyawannya.


"Ini masih pagi, Nella," sahut Vero sambil melihat ke arah jam yang melingkar dipergelangan tangannya.


"Udah jam 11, Bos. berartikan udah siang," kata Nella lagi mengingatkan sang bos kalau hari memang sudah mulai siang.


"Ya ya ya, terserah kau saja lah." Vero melangkah pergi menuju ruangannya, tetapi dia langkahnga terhenti dan kembali berbalik melihat wanita itu. "Oh ya, bawakan kopi dan sandwich untukku."


"Siap, Bos." Dengan sigap, Nella menyiapkan makanan dan minuman untuk bos nya itu.


Tok, tok.

__ADS_1


"Masuk."


Terdengar sahutan dari dalam ruangan, membuat seorang wanita membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan Vero.


"Taruh aja dimeja sana, Nella," ucap Vero tanpa melihat siapa yang masuk ke dalam ruangannya.


Wanita tadi mematung. Dia tidak tau siapa Nella dan apa yang harus ditaruh dimeja sana.


Melihat tidak ada pergerakan dari makhluk yang masuk ke ruangannya tadi, Vero beralih dari pekerjaannya dan menatap makhluk tersebut.


"Li-liora?" Vero memekik kaget sampai berdiri dari duduknya.


"Apa ini? Apa aku sedang berhalusinasi?" Vero merasa tidak percaya kalau wanita yang dia pikirkan sedang ada di hadapannya saat ini.


"Iya, ini aku," jawab Liora sambil mendekat ke arahnya.


Mendengar suara Liora, barulah Vero yakin jika saat ini wanita itu memang nyata dan bukan hanya sekedar halusinasinya saja.


"Si-silahkan duduk." Sangking kagetnya, Vero sampai tidak tau harus melakukan apa.


Liora langsung duduk manis di hadapan Vero. "Sepertinya aku mengganggu, ya?" Dia melihat banyak kertas yang menumpuk dimeja kerja Vero.


"Ti-tidak." Vero langsung sigap menyusun kertas-kertas yang memang sedikit berserakan di atas mejanya. "Ke-kenapa kau datang ke sini?" Dia merasa gugup dan canggung.


"Dasar sinting. Kenapa aku tergagap terus sih?" Vero jadi merasa malu.


"Aku cuma ingin melihatmu,"


"Apa?"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2