Di Ujung Dendam

Di Ujung Dendam
Bab 62. Flashback.


__ADS_3

Setelah kepergian kelompok penyerang itu, datang 4 orang lelaki lagi dengan menggunakan topeng mendekat ke arah Leon dan juga orang tuanya.


"Mau apa kau?" bentak Leon, dia merasakan firasat yang tidak baik saat melihat mereka berempat mendekatinya.


"Diam kau! Atau kau mau kalau kami membunuhmu, hah?" teriak lelaki itu dengan marah dan menyeramkan.


"Pergi kalian, jangan sakiti anakku!" teriak papa Lio. Namun, laki-laki itu malah tertawa dengan keras seperti seorang psikop*at yang hendak memangsa korbannya.


Tiba-tiba, salah satu dari mereka mengeluarkan pistol dan senjata lainnya membuat Leon semakin merasa murka. Begitu juga dengan kedua orang tuanya.


"Kalau sampai kau menyakiti orang tuaku, aku sendiri yang akan membunuhmu!" bentak Leon. Dia semakin memberontak agar tali yang mengikatnya terlepas lalu bisa menyelamatkan mama dan juga papanya.


Kemudian lelaki-lelaki itu itu mulai menyiksa papa Lio dan juga mama Risya dengan sangat keji. Mereka memukul bahkan sampai mengiris bagian tubuh kedua orang tua Leon membuat dia berteriak dengan pilu.


Leon terus memberontak tetapi tidak juga didengar. lelaki-lelaki itu seakan tuli dan tidak punya rasa kemanusiaan sama sekali, padahal saat ini mereka sedang menghajar manusia yang lainnya.


Setelah orang tua Leon terkapar tak berdaya, sekarang giliran Leon lah yang disiksa. Sumpah serapah terus terucap dari bibirnya untuk lelaki-lelaki psikop*at itu. Walau tubuhnya disiksa tapi hatinya tak juga lemah, dia terus berusaha memberontak sampai benda keras menghantam kepalanya dan membuatnya terjatuh ke lantai.


"Mereka tidak akan selamat," ucap salah seorang lelaki itu.


"Lebih baik kita pergi sekarang dan bakar rumah ini. Jangan sampai meninggalkan jejak," ucap lelaki yang lainnya sambil beranjak pergi dari tempat itu.


Samar-samar Leon mendengar ucapan mereka dan dia mengepalkan tangannya penuh dendam, dan akhirnya jatuh pingsan akibat rasa sakit yang terasa memecahkan kepalanya.


Flashback end.


Semua yang berada di ruangan itu tidak kuasa menahan tangis, apa lagi Liora yang langsung histeris saat mendengar cerita Leon, bahkan Maily yang tidak tahu apapun saja ikut menangis mendengar cerita menyedihkan itu.


"Cari, cari dan bunuh mereka!" ucap Liora dengan tajam. Tubuhnya bergetar menahan kemarahan yang menjalar diseluruh jiwa dan raganya, darahnya terasa mendidih ingin membinasakan mereka semua saat ini juga.

__ADS_1


"Tentu saja, Nona. Kita pasti akan membunuhnya, kita akan membunuh mereka semua," ucap Alex. Dia yang memang saat itu tidak ikut pergi bersama mereka merasa sangat marah.


Ketika Alex dan para pengawal lainnya sampai ke Vila itu, keadaan sudah sangat mengerikan. Mereka langsung membawa Leon dan seluruh keluarganya dengan menggunakan helikopter.


Sudah beberapa kali mereka menyelidiki tentang penyerangan itu, tetapi tidak juga membuahkan hasil karna memang tidak adanya cctv diarea hutan. Sedangkan cctv di vila itu sudah dihancurkan oleh musuh, memang hanya Leon lah saksi hidup dari kejadian itu.


"Nona." Zarga mendekat ke arah Liora dengan membawa laptopnya.


Liiora hanya melirik ke arah laki-laki itu dengan tajam tanpa menjawab panggilan Zarga, tentu saja dia merasa malas mengeluarkan suara saat dalam keadaan seperti ini.


"Saya sudah menemukan siap lelaki itu," ucap Zarga membuat semua orang terkesiap saat mendengarnya.


"Siapa dia?" tanya Liora dengan tajam dan tidak sabar.


"Dia bernama Diky, salah satu anggota dari klan Zander," jawab Zarga dengan pelan.


"Apa?" teriak Liora dan Leon bersamaan, begitu juga dengan semua orang yang ada di dalam ruangan itu.


Sedangkan yang lainnya mengepalkan tangan dengan kuat mendengar ucapan Leon, terlihat jelas kemarahan yang tergambar diwajah mereka semua saat ini.


"Itu berarti yang melakukan penyerangan pada kalian adalah klan Zander," ucap Marvel.


"Tapi kenapa? Kenapa mereka melakukannya ?" tanya Leon dengan tidak percaya. Mereka tidak pernah berurusan dengan klan Zander, kenapa mereka menyerang keluarganya?


"Mungkin ada seseorang yang memerintahkan mereka. Begitu 'kan, cara dunia hitam bekerja," jawab Marvel dengan santai.


"Siapkan semua anggota, kita harus membalas mereka," ucap Liora tiba-tiba. Dia sudah tidak tahan lagi kalau harus berdiam diri seperti saat ini.


"Tunggu, Liora. Kita harus memastikannya dulu," sela Arya. dlDia tidak mau kalau mereka salah langkah dalam melakukan penyerangan. "Bagaimana dengan Agle?" Dia lalu bertanya untuk memastikan.

__ADS_1


"Benar, Nona. Kita harus merencanakannya dengan matang," tambah Zarga, dia setuju dengan apa yang Arya katakan tadi.


"Agle itu adalah orang yang membunuh orang tuaku," ucap Leon pada mereka semua.


"Apa?" Semua orang kembali kaget saat mendengarnya, mereka juga terlihat semakin emosi saat ini.


"Aku ingat suaranya, dia yang menghajar papa tanpa ampun. Dia bahkan memukul mamaku dengan kejam, dia, dia-" Leon tidak mampu lagi melanjutkan ucapannya karena merasa pilu mengingat kejadian itu membuat Liora segera memeluknya dengan erat. Perasaan gadis itu sama hancurnya dengan sang kakak.


"Aku memang tidak bisa melihat wajahnya, tapi aku kenal suaranya" tambah Leon lagi dengan terisak pilu.


"Baiklah. Kami tidak perlu menunggu lagi, saya dan Kenzie akan menyiapkan semuanya," ucap Zarga kemudian.


"Kita tidak boleh terburu-buru, Klan Zander itu bukan klan sembarangan. Ada ratusan bahkan ribuan anggota yang berada di dalamnya, dan mereka juga bukan orang sembarangan. Kalian juga tidak boleh lupa, kalian berhubungan dengan salah satu petinggi klan Zander bahkan juga penerus dari klan Zander," ucap Marvel mengingatkan tentang keberadaan Samuel dan Vero, kedua lelaki itu jelas berkaitan erat dengan Klan Zander.


Benar, mereka melupakan Samuel dan juga Vero. Kedua lelaki itu tidak mungkin diam saja saat mendengar kabar tentang penyerangan yang akan mereka lakukan.


"Rahasiakan semua ini dari mereka, kita tetap akan menyerang Klan Zander," ucap Liora. Dia tidak peduli lagi dengan apa pun sekarang, dia hanya ingin membalas dendam untuk kematian orang tuanya.


"Baiklah, aku akan membantu kalian. Aku akan mengerahkan orang-orangku untuk bergabung dengan kalian," ucap Marvel membuat semua orang langsung melihat ke arahnya. Mereka tidak menyangka kalau dia bersedia membantu mereka.


"Tidak perlu, kami bisa menyelesaikan masalah kami sendiri," tolak Luora. Dia tidak mau lagi punya hutang budi pada Marvel.


"Kau jangan bod*oh, Liora. Apa kau mau membuat semua orang mati?" bentak Marvel dengan marah. Kalau hanya orang-orang Liora saja yang menyerang sudah jelas hasilnya akan dimenangkan oleh siapa. "Aku tau kalau kalian itu hebat, tapi Klan Zander tidak lebih rendah dari kalian. Apalagi para petinggi mereka, Samuel, Brian, Marc. mereka lebih buas dari binatang." Dia kembali menjelaskan.


Mereka memikirkan apa yang diucapkan Marvel tadi. Memang benar kalau para petinggi Klan Zander sudah terkenal di dalam dunia mafia.


"Aku juga punya alasan sendiri untuk membantu kalian," tambah Marvel lagi. Dia mengulurkan bantuan bukan hanya sekedar ingin membantu, tapi ada sesuatu yang juga harus dia selesaikan.


"Baiklah, aku menerima bantuanmu," ucap Liora setelah memikirkan ucapan Marvel.

__ADS_1


Kemudian mereka berdiskusi untuk mengambil langkah selanjutnya, juga untuk menyusun strategi yang akan mereka lakukan dalam menyerang Klan Zander.


__ADS_2