
Kebahagiaan jelas terpancar diwajah dua anak manusia yang tengah dilanda asmara. Meski terlihat malu-malu, Liora sudah mulai mengerti akan perasaan yang dia rasakan saat ini. Begitu juga Vero, yang tentu saja merasa sangat senang akan tujuan cinta yang telah tercapai.
Setelah selesai mengungkapkan perasaan, mereka beranjak menemui anggota yang lain diruang kerja Leon.
Semuanya sudah berkumpul diruangan itu menunggu kedatangan mereka.
"Duduklah." Sambut Leon saat melihat Vero dan Liora masuk kedalam ruangan.
"Vero." panggil Arya pada lelaki yang terlihat duduk tenang disamping sang pujaan hati.
Mendengar namanya dipanggil, Vero langsung beralih melihat ke arah Arya.
"Apa Liora akan lari kalau kau gak memegang tangannya?"
Pertanyaan yang langsung membuat urat malu Vero menonjol ke permukaan. Dengan cepat dia melepas genggaman tangannya, dengan wajah sudah merah menahan malu. Dia benar-benar tidak sadar kalau masih memegang tangan wanita itu.
"Huft, hahah." Sontak Samuel kelepasan tertawa. Dia yang sedari tadi sudah merasa lucu tidak bisa lagi menahan suaranya.
Begitu pula dengan yang lain, terlihat mereka juga menahan tawa dengan kekonyolan yang selalu dilakukan oleh Vero. Namun, kali ini bukan hanya Vero yang merasa malu, Liora juga merasa malu atas apa yang terjadi. Dia hanya diam sambil menundukkan kepalanya.
"Hahaha sudah-sudah, lihat mereka jadi kayak gitukan." Leon menunjuk ke wajah mereka berdua yang sudah merah seperti tomat.
Alex juga terlihat sedikit menyunggingkan senyumnya, ya walau hanya 0,5 % yang terlihat.
"Apa yang terjadi padamu Kenzie?" tanya Arya yang memperhatikan tingkah aneh Kenzie. Dia memang seperti punya mata batin yang selalu melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.
"Ti-tidak Tuan, saya tidak apa-apa," jawab Kenzie. Dia merasa gugup dengan wajah yang juga terlihat memerah.
Semua mata langsung melihat ke arah Kenzie, tidak terkecuali Liora, tetapi Kenzie langsung menundukkan kepalanya saat bersitatap mata dengan sang nona.
"Matilah aku." Ternyata secara tidak sengaja Kenzie melihat kemesraan antara Vero dan nona mudanya saat dia baru sampai dirumah itu. Dia yang tadinya mau menemui Liora langsung putar balik dengan perasaan kacau balau, dan langsung menuju keruangan Leon.
"Sudah lah, sekarang kita bahas masalah yang lebih penting." Liora yang memang sangat peka tau kalau sepertinya Kenzie melihat apa yang dia dan Vero lakukan tadi.
Mendengar ucapan Liora, semua orang langsung berubah ke mode serius. Tidak ada lagi yang tertawa diruangan itu, bahkan Samuel terlihat kesusahan hanya untuk menarik nafas.
Zay menjelaskan tentang penyelidikan mereka yang menunjukkan kalau barang terakhir yang diterima oleh Geo ternyata dikirim dari negara M. Tetapi siapa pengirimnya masih belum menemukan kejelasan.
__ADS_1
"Apa?" teriak Samuel dan Vero secara bersamaan.
"Gila ya. Kalian mau buat aku kena serangan jantung?" Arya memegangi dadanya yang berdebar keras akibat teriakan 2 makhluk tepat dikanan dan kirinya, sedangkan Samuel dan Vero saling pandang. Mereka sendiri juga kaget atas teriakan mereka.
Vero memandang tajam pada Samuel. Dalam matanya tersirat tanda tanya besar akan reaksi yang diberikan oleh laki-laki itu, sedangkan Samuel sendiri sudah merasa gelisah. Dia takut Vero menaruh curiga atas apa yang dia lakukan.
"Ne-negara M? Kok bisa ya?" Samuel mencoba untuk mengalihkan perhatian, sorot matanya meminta bantuan pada yang lain untuk mengeluarkannya dari situasi saat ini.
"Kami masih melanjutkan penyelidikannya. Negara M adalah negara kekuasaan klan Zander, jadi cukup sulit untuk melacaknya." jelas Zarga pada mereka semua.
Sekarang giliran Vero yang gelisah. Tiba-tiba dia mendengar nama klan Zander, tentu membuatnya mengingat darimana sebenarnya dia berasal.
Semua mata melihat ke arah Vero yang terlihat menatap lurus kedepan, entah apa yang sedang laki-laki itu pikirkan saat ini.
"Baiklah, lanjutkan penyelidikannya. Semakin cepat semakin baik," perintah Liora kemudian.
"Baik, Nona." Mereka semua serentak menjawab perintah dari nona mudanya.
"Kalau begitu saya permisi Tuan, masih ada pekerjaan yang harus saya lakukan," ucap Vero sambil berdiri dari duduknya.
"Baiklah, hati-hati dijalan," jawab Leon.
"Vero tunggu, kau mau kemana?" teriak Samuel sambil mengejar langkah kakinya.
"Aku harus ke kafe, ada pekerjaan di sana," jawab Vero sambil masuk ke dalam mobilnya. "Ayo!" Ajaknya kemudian.
"Kau duluan saja, masih ada yang harus aku urus di sini," jelas Samuel.
Dengan cepat Vero menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Liora tanpa bertanya apa yang akan Samuel kerjakan, membuat laki-laki itu menatap dengan nanar.
"Kau pasti sangat membenci klan mu sendiri." Samuel memandangi mobil Vero yang sudah mulai menjauh. Setelahnya dia kembali masuk untuk membahas masalah yang akan mereka selidiki.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Vero?" tanya Arya saat melihat Samuel masuk kembali ke ruangan itu.
"Maksud anda tuan?" Samuel kembali bertanya padanya.
"Dia terlihat sangat membenci klan nya sendiri," jelas Arya saat mengingat pandangan mata Vero yang terlihat menyimpan rasa sakit dan kebencian.
__ADS_1
"Itu ...." Samuel terlihat ragu untuk mengatakannya. Gagaimana pun juga ini adalah masalah pribadi Vero dengan keluarga laki-laki itu.
"Tidak usah kau katakan kalau memang tidak bisa," ucap Leon yang merasa tidak enak.
"Maaf Tuan, saya tidak bisa menceritakannya. Tapi sebagai gantinya saya yang akan menyelidiki masalah itu ke negara M," ucap Samuel.
"Memang itu yang saya harapkan Tuan Samuel, saya meminta bantuan anda untuk menyelidikinya," jelas Liora.
Tentu mudah bagi Samuel untuk menyelidiki segala sesuatu di daerah kekuasaannya sendiri, apalagi dia termasuk orang penting dan kepercayaan dalam klan Zander.
"Saya akan segera memberikan hasilnya Nona, jadi Anda tidak perlu khawatir." Samuel memang berniat untuk mengungkap masalah ini. "Kalau begitu saya juga pamit Tuan, Nona." Dia pamit pada semua orang.
Setelah Samuel pergi, Kenzie juga pergi untuk mengunjungi markas mereka. Begitu pula Alex dan Leon yang juga harus berangkat ke kantor. Tinggallah Leora dan Zarga yang masih berada di ruangan itu.
"Apa aku juga harus meminta bantuan pada paman Daniel?" gumam Liora. Selama ini dia memang tidak pernah menceritakan masalah ini pada pamannya. "Bagaimana menurut kakak?" Dia memilih bertukar pikiran dengan Zarga.
"Menurut saya lebih baik kita sendiri yang menyelesaikannya Nona, jika tuan Daniel turun tangan pasti dia akan tau semuanya," jelas Zay.
"Benar juga." Liora setuju. Jika sampai pamannya turun tangan, sudah jelas pamannya pasti akan tahu kalau dia adalah pemimpin dari mafia yang cukup terkenal.
"Kita percayakan saja pada tuan Samuel Nona, saya yakin dia pasti bisa menyelesaikannya dan juga tuan Vero. Saya yakin tuan Vero pasti tidak akan tinggal diam." Zarga mencoba untuk meyakinkan nona mudanya.
Benar. Liora baru ingat siapa Vero sebenarnya, tapi apa mungkin Vero mau kembali berurusan dengan negara dimana klannya berkuasa? Sedangkan selama ini dia menutup rapat tentang identitasnya, laki-laki itu juga tidak pernah berhubungan dengan keluarganya sendiri.
Tiba-tiba hatinya merasa sedikit khawatir, dengan cepat Liora mengambil handphone nya dan menekan panggilan untuk Vero. Namun, sebelum Vero menjawab, dia sudah mematikannya.
"Tunggu, apa yang harus aku katakan? Tidak mungkin aku mengatakan kalau khawatir." Liora sedang berperang dengan dirinya sendiri. Dia bingung harus berkata apa kepada Vero.
"Nona, anda benar-benar mencintainya ya." Baru kali ini Zarga melihat wajah Liora yang penuh dengan ekspresi. Bingung, cemas, bahagia. Semua ada dalam diri wanita itu saat ini.
"Anda tidak perlu bingung Nona, Andakan bisa pura-pura bertanya apa yang akan dilakukan tuan Vero hari ini." Pawang cinta memberi nasihat. Zarga memang terlihat jauh lebih bersemangat, padahal awalnya dia yang tidak tahu.
Liora terlihat sedang memikirkan ucapan Zarga.
"Tapi, apa itu tidak akan mengganggu?" Sepertinya Liora punya banyak pertimbangan untuk hanya sekedar menelpon Vero.
"Tidak Nona, percayalah tuan Vero akan merasa sangat bahagia saat Anda menghubunginya." Zarga mesam mesem sendiri, dia sudah seperti pakar cinta yang sedang menyatukan dua hati.
__ADS_1
"Baiklah, nanti aku akan menghubunginya."