
Setelah sampai di rumah, mereka semua berkumpul di ruang kerja Leon untuk membahas masalah ingatan laki-laki itu yang sudah kembali.
"Sebelum itu, coba selidiki dulu siapa pria yang menabrak kakak tadi," perintah Liora.
Dengan sigap, Zarga langsung menyalakan laptopnya untuk membobol cctv yang ada dimall dan mencari identitas lelaki yang menabrak Leon beberapa saat yang lalu.
Flashback.
Liora berlari dari dalam mobil menuju ke rumahnya dengan memakai seragam putih abu-abu. Dia tampak sangat bersemangat sekali saat ini.
"Mama!" teriak Liora sambil mencari keberadaan sang ibu tercinta.
"Mama di sini, Sayang," ucap sang mama dari samping rumah membuat Liora bergegas untuk menghampirinya dengan berlari kecil.
"Ma, kita liburan yuk!" ajak Liora. Memang sudah masuk waktu libur sekolah saat ini, iti sebabnya dia ingin pergi liburan bersama dengan keluarganya.
"Nanti ya, kita tanya papa dulu," jawab mama Risya. Dia tidak bisa langsung mengambil keputusan sebelum sang suami mengetahuinya.
"Pokoknya aku mau liburan," seru Liora keukeh sambil berlari ke arah kamar. Kemudian dia merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Sudah seminggu ini dia berkutat dengan pelajaran, dan dia butuh waktu untuk merefresh kembali otaknya agar tidak pusing dan kembali semangat.
Sedangkan di luar rumah, terlihat Leon dan papanya baru saja pulang dari kantor. Mama Risya langsung menyambut suami dan putranya yang sudab berada di ruang tamu.
"Gimana pekerjaan nya, lancar?" tanya mama Risya pada putranya.
"Lancar, Ma. Rapi capek," jawab Leon sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa, dia mulai merenggang-renggangkannya untuk mengurasi rasa kaku.
"Yah namanya juga kerja," balas maka Risya sambil mengambil minuman untuk anak dan suami tercinta.
"Kakak!" panggil Luora dari atas tangga membuat Leon melihat ke arah sumber suara. "Kita liburan yuj!" Dia kembali mengajak Leon.
"Memangnya kau udah libur?" tanyaLeon pada sang adik yang dijawab dengan anggukan kepala.
"Udah, kita ke vila papa aja gimana?" lanjut Liora memberi usul, dia ingin sekali pergi ke Vila tersebut.
"Tapi papa masih banyak kerjaan, Sayang" seru papa Lio dengan pelan, dan diliputi rasa bersalah.
"Papa selalu aja gitu," gerutu Liora dengan tidak terima, papanya itu memang selalu super duper sibuk dan tidak ada waktu untuknya.
"Ya udah, iya iya nanti papa cari waktu. Tapi gak bisa lama ya," ucap papa Lio kemudian. Dia merasa tidak tega dengan sang putri.
__ADS_1
"Oke." Leora melebarkan senyumannya dengan anggukan kepala semangat.
"Cepat mandi, sebentar lagi makan malam loh," ucap mama Risya memberitahu semua orang yag ada di tempat itu.
Kemudian semuanya bubar barisan untuk segera membersihkan diri.
Beberapa hari setelahnya, mereka semua berangkat menuju ke sebuah Vila yang terletak di dekat hutan daerah perbukitan. Suasana yang masih asri dan alami sungguh sangat menyejukkan hati dan pikiran. Mereka berangkat dengan 4 mobil karena membawa pelayan dan pengawal untuk menemani mereka.
"Waah, segarnya," ucap Liora ketika baru sampai di tempat tujuan.
"Benar, sejuk sekali," tambah Leon sambil menghirup udara dalam-dalam. Dia menyetujui apa yang adiknya ucapkan.
Kemudian mereka segera masuk ke Vila tersebut untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah akibat perjalanan panjang.
Tidak terasa, sudah 3 hari mereka berada si villa itu. Mereka benar-benar menikmati waktu liburan dengan keluarga, dan menikmati lingkungan sekitar tempat itu.
"Pa, hari ini aku mau ke kota sebentar." Liora meminta izin pada papanya untuk pergi keluar.
"Maau ngapain, Sayang?" tanya papa Lio dengan pelan, tetapi kata-katanya terasa tajam.
"Ada yang mau aku beli," jawab Lora singkat.
"gak papa, biar aku pergi sama Zarga," ucap Liora.
"Sama kakak aja ya, bahaya kalau cuma sama Zarga." usul sang papa.
"Tapi kakak juga sibuk," ucap Liora sambil cemberut.
"Ya udah, kalau gitu sama yang lain juga ya. Biar lebih ramai," kata papa Lio kembali yang tidak bisa dibantah lagi.
Jadilah Liora pergi ditemani dengan Zarga dan 2 pengawal lainnya. Persis seperti istri dari seorang pejabat.
2 jam setelah Liora pergi, ada 2 mobil Van berwarna hitam berhenti tepat di depan gerbang Vila itu, penjaga Villa pun mendekat untuk memastikan siapa yang ada di dalam mobil.
Seketika keluarlah beberapa orang dengan pakaian serba hitam dan langsung menyerang penjaga gerbang tersebut. sebagian langsung masuk ke dalam Vila.
Papa Lio yang sedang berada di ruang kerjanya mendengar ada keributan langsung keluar menuju sumber suara, tapi saat dia menuruni tangga beberapa orang langsung menyerangnya. Dia lalu melihat para pengawal dan pelayan sudah diikat dibawah tangga begitu pula dengan sang istri yang tergeletak tak jauh dari tempat para pengawal.
Papa Lio terus memberontak tetapi semua sia sia. Para penjahat itu terlalu banyak sedangkan dia hanya sendiri, pengawal terhebatnya pun sedang pergi bersama dengan Liora.
__ADS_1
Papa Lio diikat disebuah kursi bersama mama Risya yang baru sadar dari pingsannya. Para penjahat itu lantas pergi untuk mencari Liora dan juga Leon.
Leon yang masih berada di belakang vila tidak mengetahui apa yang sedamg terjadi, dia masih sibuk mengerjakan pekerjaan di bawah sebuah pohon yang rindang. Namun, tak lama datanglah beberapa orang yang langsung menyerang dan melumpuhkannya. Dia lalu dibawa ke tempat di mana orang tuanya berada.
"Lepaskan anakku!" teriak papa Lio saat melihat Leon diseret oleh orang-orang itu.
"Huhuhu, aku mohon lepaskan anakku. aku mohon," ucap mama Risya. Dia terus menangis saat melihat Leon.
"Siapa kalian?" sarkas Leon pada mereka.
"Diam kau."
Buk.
Satu pukulan mendarat tepat di wajahnya.
"Ridak. Jangan sakiti anakku. aku mohon lepaskan dia..." teriak mama Risya pilu. Begitu juga dengan papa Lio yang memohon agar sang putra dilepaskan.
"Apa mau kalian, kenapa kalian melakukan ini pada keluargaku?" bentak Leon. Dia menatap tajam seorang pria yang berdiri tegak di hadapannya saat ini.
Tanpa menjawab ucapan Leon, pria itu mengambil ponselnya dan menelpon seseorang. "Kami telah melumpuhkan mereka, Bos." Lapornya pada tuannya.
"Tapi kami tidak bisa menemukan putri mereka." ucapnya lagi.
"Baiklah, tugas kalian sudah selesai," ucap seseorang dari sebrang telpon.
Tanpa mengatakan apa-apa, mereka pergi meninggalkan Leon dan juga kedua orangtuanya.
"apa yang kalian lakukan. lepaskan kami." teriak Leon sambil mencoba melepaskan tali yang mengikat tangan, kaki dan tubuhnya.
Orang-orang itu tidak memperdulikannya dan segera berlalu dari sana. Namun, tidak berselang lama datanglah 4 orang pria dengan menggunakan topeng mendekat ke arah Leon dan juga orang tuanya.
•
•
•
Tbc.
__ADS_1